Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Membangun Percaya Diri dan Pencitraan yang Hakiki (2)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 13 April 2013 06:00 6:00 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 April 2013 06:00
Bagikan
Bagikan

Oleh: Shalih Hasyim

BILAMANA seseorang yang memperoleh jabatan politik kemudian terlihat nyata memberlakukan aturan dan hukum Allah Subhanahu Wata”ala dalam ruang-lingkup otoritas kepemimpinannya, berarti ia telah berlaku jujur di dalam mempertahankan kebanggaan imannya. Tetapi bilamana seseorang menjabat lalu sesudahnya tidak terlihat nyata adanya perubahan aturan dan hukum jahiliyah diganti dengan hukum Allah Subhanahu Wata”ala , maka itu berarti ia telah melupakan Kebanggaan Iman dan terjebak syetan ke dalam perangkap kebanggaan tahta dan jabatan.

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallAllah Subhanahu Wata”alau ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Kalian akan rakus terhadap jabatan, padahal jabatan itu akan menjadi penyesalan di hari kiamat, ia adalah seenak-enak penyusuan dan segetir-getir penyapihan.” (HR Bukhari – Shahih)

Orang yang memiliki jabatan akan merasakan “seenak-enak penyusuan” selama masa ia menjabat. Ia menikmati berbagai fasilitas dan gaji yang mencukupi hidup diri dan keluarganya. Dan ia pasti mengalami “segetir-getir penyapihan” saat jabatannya mesti berakhir. Itulah rahasia mengapa setiap orang yang menjabat pasti akan berusaha keras melestarikan masa kekuasaannya (mempertahankan status quo).

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُوْلَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

“..tetapi Allah Subhanahu Wata”ala menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Al Hujurat (49) : 7)

“Ya Allah Subhanahu Wata”ala, tanamkanlah kecintaan kami kepada iman dan hiasilah hati kami dengan iman. Dan jadikanlah kami benci kepada kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan. Dan jadikanlah kami golongan orang-orang yang terbimbing.”

Orang yang memiliki kebanggaan iman menjadikan ilmunya untuk mencerahkan yang bodoh. Menjadikan hartanya untuk membebaskan kaum dhu’afa dan mustadh’afin. Dan kekuasaan yang digenggam sebagai media merubah konstitusi menjadi undang-undang yang merujuk kitab suci. Menjadi diri dan keluarganya sebagai alat peraga Al-Quran dan As Sunnah. Jika semua potensi yang dimilikinya tidak dioptimalkan untuk mengharumkan dan mengagungkan nama Allah Subhanahu Wata”ala dan syi’ar-syi’ar-Nya, maka bukan saja potensi yang dimilikinya akan menggali lubang kehancurannya (istidraj), pula tidak menambah kebaikan diri dan keluarganya (tidak barakah). Jadi Percaya Diri dan Pencintraan (Self-Confidence And Image-Building) yang hakiki adalah bersumber dari Yang Maha Kekal, Allah Subhanahu Wata”ala .

Yang menjadi muhasabah kita, benarkah ilmu yang kita miliki, jabatan yang kita duduki, harta kekayaan, pengaruh dan popularitas yang kita punyai, mendatangkan pertolongan dari Allah Subhanahu Wata”ala (nshrullah), atau bahkan tidak menambah kebaikan kita, atau bahkan menjerumuskan kehidupan kita secara total (istidraj) ?. Benarkah apa yang kita peroleh berupa nikmat atau hanya sekedar mata’ (nikmat sesaat), nikmat duniawi yang kerdil dan rendah ?.

إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ

“Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata”ala memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad (47) : 12)

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS: Muhammad (47).*

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Faqir Madinah Tolak 10 Ribu Dirham
Tulisan selanjutnya Mari Hormati dan Jaga Perasaan Umat Islam!

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Din Syamsuddin: Pendidikan Islam Harus Kembali Menjadi Motor Kebangkitan Peradaban

Berita
23 Juli 2026 20:00
Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
Lindungi Konsumen, Pemerintah Musnahkan Ratusan Ton Bahan Pakan Ternak Terkontaminasi Porcine
Sheikh Hasina Akan Kembali, Sekutunya Presiden Bangladesh Mohammed Shahabuddin Mengundurkan Diri
Menjaga Warisan Ulama di Era Disrupsi Informasi

Terbaru

  • MUI Siapkan Fatwa ZIS untuk Pembayaran Iuran BPJS Kesehatan Pekerja Rentan
  • Fenomena “Ustaz AI”, MUI Serukan Jihad Digital di KUII VIII
  • MUI Gandeng 16 LAZ, Perkuat Sinergi Program Zakat untuk Pemberdayaan Umat
  • Pakar Hukum Tata Negara UGM Soroti Lemahnya Sistem Peradilan, MUI Didorong Keluarkan Fatwa Haram Intervensi Politik
  • MUI dan UI Teken MoU Pengembangan AI dan Data Science di KUII VIII
  • Wantim MUI Serukan Empat Agenda Strategis Umat Menuju Indonesia Emas 2045
  • KUII VIII Bahas Naskah Akademik dan RUU Terkait LGBT, Akan Diserahkan ke Presiden dan DPR
  • Ahmad Muzani: Persatuan Umat Islam Jadi Kunci Menghadapi Tantangan Bangsa
  • Tak Cukup Bermodal Cinta, Keluarga Harus Dibangun di Atas Maqasid Syariah
  • Krisis Identitas Berawal dari Cara Berpikir, Keluarga jadi Benteng Terakhir Peradaban

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?