Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Pengamat: Partai Sekuleristik Tunisia Rontok karena Andalkan Narasi Radikalisme

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 28 Oktober 2019 11:23 11:23 am
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 28 Oktober 2019 11:23
Bagikan
Kampanye pendukung Partai Ennahda di Tunisia
Bagikan

Hidayatullah.com– Hasil pemilu di Tunisia yang dimenangkan oleh partai EnNahda telah menunjukkan hilangnya popularitas bagi partai sekuleristik yang dianggap merugikan karena menciptakan pembelahan masyarakat.

Menurut pengamat politik internasional Arya Sandhiyudha, rontoknya partai sekuleristik di Tunisia karena dinilai terlalu mengandalkan narasi radikalisme umat beragama sebagai komoditas politik.

“Sebab, rakyat merasakan sebagai kenyataan politik sebetulnya skala praktik radikalisme di Tunisia sangat kecil. Sama sekali tak bisa dipandang sebagai “representasi” umat beragama. Namun, partai sekuleristik menjadikan radikalisme umat beragama ini komoditas politik dan sebagai instrumen pemukul politik,” ujarnya dalam keterangannya diterima hidayatullah.com, Ahad (27/10/2019).

Arya meniali, rakyat Tunisia menyadari bahwa partai sekuleristik berupaya menutupi lemahnya kemampuan mengelola pemerintahan dan krisis ekonomi dengan membangun situasi pertarungan politik dengan membesarkan isu radikalisme ini.

“Partai sekuleristik menjalankan politisisasi birokrasi,” imbuhnya.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Baca: Eks Presiden Tunisia Zine el-Abidine Ben Ali Wafat di Arab Saudi

Sementara, kata dia, rakyat mayoritas akhirnya menyadari ini merupakan jenis kejahatan politik yang melawan prinsip kebebasan sipil dan demokrasi. Rakyat Tunisia sadar, sebagai komoditas politik isu radikalisme memang dipakai pertama-tama dan terutama untuk memberangus lawan-lawan politik.

“Jadi naiknya isu ini tak ada kaitan dengan makin padamnya radikalisme itu. Sebab, memang bukan itu tujuannya,” tambahnya.

Sebagaimana diketahui, dalam Pemilu Legislatif Tunisia awal Oktober 2019, partai EnNahda yang dikenal konservatif keluar sebagai pemenang.

EnNahda menang karena dinilai performa kerjanya lebih baik daripada partai-partai lain. Satu hal yang juga membuat mayoritas warga Tunisia memilihnya, dibanding parpol yang sekuleristik.

Baca: Pengamat Politik Internasional: Kemenangan Kais Saied Jadikan Tunisia “Teman Baru” Turki

Menurut Arya, EnNahda dalam menghadapi model pendekatan propaganda dan operasi partai-partai sekuleristik agaknya pandai untuk mengayuh sampan di antara ancaman karang “radikalisme sebagai kenyataan politik” itu dengan karang besar “radikalisme sebagai komoditas politik”.

“EnNahda juga berhasil mempertahankan persatuan internal partai, yang mengompromikan ragam pendapat. Ini salah satu karakteristik yang menjadi faktor penting dari kepemimpinan Rachid al Ghannouchi, pemimpin utama Ennahda,” ujarnya.

EnNahda juga, masih kata dia, sepertinya akan berupaya membangun koalisi agar dapat mengelola pemerintahan dengan kerja sama efektif bersama Presiden Kais Saied dengan visi dan tim yang kuat.

EnNahda mengamankan posisi tertinggi dengan 19,5% suara (52 kursi). Setelah Ennahda, Qalb Tunes mendapat 14,5% suara (38 kursi), Partai Demokrat mendapat 22 kursi, kemudian tiga partai terakhir masing-masing mendapat 16, 21, dan 14 kursi.

“Menariknya, di antara tujuh partai teratas, tidak ada partai yang berbasis sekuleristik. Partai yang berkuasa dan partai-partai koalisi utama sebelumnya telah secara dramatis kehilangan peringkat suara mereka, karena rakyat melihat nasionalisme bukan kenyataan politik, tapi sekedar komoditas politik hanya jargon menutupi praktik kolutif bagi-bagi kekuasaan dan praktik koruptif menambah kekayaan,” papar Arya melanjutkan.

Baca: Pilih Presiden Tunisia: Taipan Media Tersangka Pidana atau Profesor Hukum Nihil Pengalaman

Nidaa Tunes hanya mendapat tiga kursi, mengamankan posisi ke-10. Padahal partai ini mendapatkan 86 kursi dalam Pemilu 2014. Front Populer mendapat satu kursi, dan Afek Tounes mendapat dua kursi, sedangkan Free Patriotic Union (UPL) tidak mendapatkan kursi apa pun. Jumlah total empat partai dari pemerintah koalisi yang berkuasa ini 125 kursi dalam Pemilu 2014. Sekarang anjlok menjadi 6 kursi dalam Pemilu sekarang.

“Partai sekuleristik lama lainnya juga mengalami kerugian dalam hal kursi,” imbuhnya.

Pada pemilu ketiga pasca “Arab Spring”, profesor hukum independen Kais Saied yang didukung EnNahda berhasil keluar sebagai pemenang pemilihan presiden Tunisia.  Kandidat independen Kais Saied sukses memenangkan suara rakyat secara mutlak 72,5%.*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AfrikaArya SandhiyudhaEnnahdaKais Saiedpartai sekulerPresiden TunisiaradikalismetunisiaTurki
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sekjen: PKS Partai Paling Santai saat ini
Tulisan selanjutnya MUI OKU: Waspadai Pelaku Crosshijaber

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Berita
4 Juni 2026 10:00
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?