Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Menimbang Habib Rizieq dan Ahok

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 November 2019 07:22 7:22 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 November 2019 07:22
Bagikan
Habib Rizieq Shihab dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)
Bagikan

HABIB Rizieq Shihab dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tentu dua sosok yang sama-sama dikenal khalayak negeri ini. Namun keduanya jelas berada pada posisi yang tidak sama, baik secara kultur lebih-lebih sikap politik bahkan kiprah kehidupannya.

Ungkapan menarik disampaikan oleh praktisi media Ilham Bintang dalam diskusi ILC pada 26 November 2019 bahwa terhadap keduanya pemerintah belum mampu bersikap adil dan sebagaimana mestinya.

Terhadap Ahok pemerintah memberi karpet merah sementara ada putra bangsa lainnya Habib Rizieq tidak diberi karpet merah. Sampai saat ini kesulitan untuk bisa pulang ke Tanah Air.

Jika ditelusuri secara kronologis sikap pemerintah atau partai pemenang pemilu nampaknya cukup beralasan kala memperlakukan keduanya sedemikian rupa. Karena Ahok adalah bagian dari partai penguasa yang kini menduduki pemerintahan, sedangkan Habib Rizieq justru sama sekali di luar.

Namun, kala partai pemenang pemilu dan koalisi sukses menjadi pemegang pemerintahan, sikap yang mesti diutamakan oleh seluruh eksekutif idealnya berdasar pada Pancasila dan UUD 45, dengan dua dimensi paling penting, yakni keadilan dan kesejahteraan, keduanya bagi rakyat Indonesia.

Baca Juga

Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja

Tentu saja hal ini tidak ringan, bagaimana mungkin menempatkan seseorang sesuai harkat dan martabatnya pada seseorang yang dinilai pernah menjadi ganjalan kemenangan. Pada saat yang sama bagaimana mungkin mengabaikan sosok yang dianggap berperan begitu saja. Walau katakan logika publik menolak.

Teladan Keadilan

Mengatakan keadilan saat kekuasaan tidak di tangan adalah hal yang ringan. Namun, membicarakan keadilan saat kekuasaan di genggaman bukanlah perkara yang menyenangkan.

Oleh karena itu, Islam mendorong umatnya untuk berperilaku adil dalam hal apapun. Terlebih kala menguasai hajat hidup orang banyak.

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran…” (QS An-Nisaa’:135)

Dalam sejarahnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pandang bulu dalam menerapkan hukum dan menegakkan keadilan. Ketika seorang wanita kaya dan keturunan bangsawan mencuri dengan tegas diputuskan, wanita itu dihukum potong tangan.

Spontan pihak famili dan kerabat wanita itu meminta tolong kepada Usamah bin Zaid, seorang di antara Sahabat yang paling dicintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk mohon keringanan hukuman.

Apakah kemudian Nabi menerima apa yang disampaikan oleh Usamah bin Zaid. Tidak. Beliau justru marah.

Lantas berpidato, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya tidak lain yang membinasakan orang-orang terdahulu sebelum kalian adalah jika ada orang terpandang di antara mereka mencuri mereka membiarkannya. Dan jika orang yang lemah di antara mereka mencuri mereka menetapkan hukuman atasnya. Demi Zat yang Muhammad berada di tangan-Nya, sekiranya Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti akan aku potong tangannya.”

Prinsip keadilan sebenarnya sederhana, tempatkan manusia sesuai dengan apa yang harus dipertanggungjawabkannya.

Jika seseorang mencuri maka mestinya semua sadar dan rela hukuman harus diterima. Jika seseorang pernah bersalah maka jangan perlakukan ia pada posisi yang strategis yang berkenaan dengan hajat hidup orang banyak. Kalau pun dianggap perlu memaafkan maka tempatkanlah pada tempat yang tepat, sesuai latar belakang, keahlian, dan ruang yang tak menentukan warna bangsa ini.

Sebaliknya, terhadap anak bangsa yang tidak bersalah, tidak korupsi, justru dicintai masyarakat dan dirindukan oleh masyarakat, sikap terbaik adalah dengan memberikan hak dasarnya. Karena menyengsarakan manusia tanpa kesalahan yang jelas dan tidak dapat dibuktikan merupakan ketidakadilan.

Sungguh, kekacauan hukum, keriuhan ruang publik belakangan sulit dipadamkan bukan karena masyarakat hobi bermusuhan, tetapi karena sumber keadilan itu belum mengalir ke semua sisi kehidupan masyarakat, sehingga dahaga akan keadilan belum teratasi sampai saat ini.

Hidupkan Sila V Pancasila

Sekarang mari saling melihat ke dalam, tidak boleh ada yang merasa lebih baik, lebih berjasa, dan lain sebagainya. Sebab pada dasarnya tugas kita semua, baik duduk di pemerintahan, swasta maupun menjadi rakyat biasa adalah bagaimana mewujudkan Sila V Pancasila, yakni Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Hukum hendaknya berdiri tegak sesuai koridor dan mekanismenya berjalan. Jangan ada intervensi atas nama interes apapun. Demikian pula ekonomi dan pendidikan, biarkan semua berjalan untuk mewujudkan percepatan kesejahteraan rakyat.

Kata Muhammad Said Didu di ILC 26 November 2019 jangan kalah dengan mafia. Kita sebagai rakyat harus memberikan kesempatan pemerintah bekerja, membuktikan komitmennya sembari terus mengawasinya dengan baik agar pemerintahan tidak keluar jalur keadilan, baik secara hukum, ekonomi, maupun lainnya.

Sebab jika kedua pihak besar ini tidak saling menyadari, bukan tidak mungkin keadaan lebih negatif akan terjadi dimana pemerintah memandang rakyatnya sebagai gangguan, pada saat yang sama rakyat kehilangan kepercayaan pada pemerintahan yang ada. Kondisi ini harus sama-sama kita antisipasi, jangan sampai terjadi. Dan, karena itu mari semua harus saling siap untuk mendapatkan saran dan kritik demi tegaknya keadilan.*

Imam Nawawi | Aktivis Pemuda

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ahokBasuki Tjahaja PurnamaHabib Rizieq ShihabHRShukumkeadilan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tokoh di Balik Penindasan terhadap Muslim Xinjiang
Tulisan selanjutnya Menteri Agama Mempersilakan Reuni 212

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”

Feature
13 Juli 2026 06:38
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Problem Pendidikan Islam

28 Desember 2022 11:20
Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?