Hidayatullah.com–Empat ekor gorila gunung, tiga di antaranya betina dewasa, mati tersambar petir di sebuah taman nasional Uganda, kata kelompok konservasi alam.
Pemeriksaan post-mortem sudah dilakukan atas keempatnya, termasuk seekor bayi gorila jantan, yang mati pada 3 Februari di Mgahinga National Park di barat daya Uganda, lansir The Guardian Ahad (9/2/2020).
Berdasarkan luka di tubuh mereka, diduga keempatnya mati akibat tersengat petir, kata kelompok Greater Virunga Transboundary Collaboration dalam sebuah pernyataan hari Sabtu. Konfirmasi laboratorium tentang penyebab pasti kematian hewan yang terancam punah itu baru bisa diketahui dua sampai tiga pekan lagi.
Keempat primata besar itu merupakan anggota kawanan yang terdiri dari 17 ekor gorila yang dikenal sebagai keluarga Hirwa, yang menyeberang ke Taman Nasional Mgahinga pada bulan Agustus 2019 dari Taman Nasional Volcanoes di negara tetangga Rwanda.
“Ini sangat memyedihkan sekali,” kata Andrew Seguya, sekretaris eksekutif kelompok konservasi itu kepada BBC. “Potensi kontribusi ketiga betina itu untuk populasi mereka sangat luar biasa besar,” kata Seguya.
Ketiga belas anggota keluarga Hirwa lainnya belum ditemukan.
Pada tahun 2008, diperkirakan hanya ada 680 ekor primata besar yang hidup. Namun, berkat upaya-upaya konservasi dan patroli antiperburuan liar, jumlahnya naik menjadi seribu lebih. Oleh karena itu, pada tahun 2018 status gorila gunung –yang merupakan subspesies dari gorila timur– berubah dari nyaris punah menjadi terancam punah dalam daftar spesies-spesies hewan langka susunan International Union for Conservation of Nature.
Mgahinga National Park mencakup lembah sisi utara tiga gunung yang tergabung dalam barisan pegunungan Virunga, yang berdiri megah di tanah tiga negara Uganda, Rwanda dan Republik Demokratik Kongo. Virunga merupakan situs konservasi paling penting di dunia, dan merupakan satu dari dua tempat saja di dunia ini di mana gorila gunung dapat ditemukan.*