Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Memaknai Pancasila dan Nasehat HAMKA

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 17 Februari 2020 16:13 4:13 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 17 Februari 2020 16:13
Bagikan
Monumen Pancasila Sakti
Bagikan

Oleh: Ali Mustofa *

 

Hidayatullah.com | BARU-BARU publik Indonesia geger. Gara-garanya  pernyataan Kepala  Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Dr Yudian Wahyudi, yang menyatakan bahwa musuh terbesar Pancasila adalah agama.

Pernyataan ini membuat geram masyarakat, terutama umat Islam yang notabene bagian yang dimaksud kaum beragama mayoritas di negeri ini. Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) merespon cepat agar Yudian segera di pecat dari jabatannya sebagai Kepala BPIP.

Desakan pemecatan itu tentu tak mengherankan sebab apa yang disampaikan oleh yang bersangkutan adalah ungkapan fatal dan sangat keliru. Padahal jelas, pada Sila pertama Pancasila yang  menyebutkan “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sampai hari ini, Sila Pertama Pancasia tidak pernah diganti “Tidak Berketuhanan Yang Maha Esa”.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Yang benar, seharusnya musuh Pancasila itu adalah yang tanpa agama atau tidak beragama. Seperti paham Komunisme bisa dikatakan musuh Pancasila.

Pancasila yang Luwes

Sebagai sebuah falsafah, Pancasila memang luwes untuk dimasuki oleh ideologi manapun. Karena memang rumusannya yang sederhana. Dalam sejarahnya, sebelum menjadi Pancasila, dahulu dirumuskan Tri Sila dan Eka Sila.

Syahdan, pada implementasinya Pancasila banyak dipengaruhi oleh ideologi yang ada di dunia. Salah satunya Sosialisme dan juga Kapitalisme. Rupanya hasil semua ideologi itu belum bisa  mengantarkan negeri ini peroleh kemerdekaan yang sejati. Penjajahan fisik bisa di usir pergi, tapi penjajahan non-fisik tetap bercokol di negeri ini.

Tapi sayang, pengalaman ini belum dijadikan pelajaran bagi kita semua. Bahwa negeri ini butuh sebuah solusi konkrit untuk membebaskan diri dari penjajahan. Ideologi apa pun di dunia tidak akan pernah membawa keadilan, kecuali Islam.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, sejatinya menyiratkan makna mentauhidkan Allah.  Implementasi tauhid ini bisa pada pribadi,  keluarga, maupun masyarakat dan negara.

Sikap Seorang Muslim

Prof. Buya Hamka dalam bukunya berjudul “Urat Tunggang Pantjasila” menulis sebuah nasehat berharga bagaimana sebaiknya sikap seorang Muslim dalam memaknai Pancasila. Nasehat ini layak kita renungi bersama. Berikut nasehatnya:

“Marilah kita kaum muslim berdjuang dalam urat tunggang pantja sila. Sila Ke tuhanan jang Maha Esa sadja, ja’ni dengan artinja jang penuh. Karena bilamana berdjuang dengan Sila Ke tuhanan Jang Maha Esa sadja, didjamin, akan terpeliheralah Sila Jang empat lagi.

Dan mana tahu entah suatu waktu dikurangi satu, misalnja kebangsaan atau dihilangkan sama sekali, namun Ke tuhanan Jang Maha Esa akan tetap dalam sadjanja, jang meliputi segala matjam Sila.

Atau mana tahu, karena mendalamnja Ke-tuhanan Jang Maha Esa itu, karena dia sadja Urat tunggang dari segenap Sila, entah tumbuh pula Sila-sila jang lain lagi. Pantja Sila, Sapta Sila, Seribu Sila. Karena buatan manusia tidaklah tetap, dan buatan Tuhan djugalah jang tetap.

Dan mana tabu, entah datang lagi beberapa  pertjobaan kedalam Negara kita ini, karena  angin2nja telah tampak. Ada Sila jang gugur,

ada Sila jang tergontjang, ada urat jang tertjabut. Pada waktu itu hanja satu sila sadja jang akan tetap, tidak akan dapat ditjabut.

Ketuhanan Jang Maha Esa.

Manusia datang, dan manusia pergi. Keadaan bertukar, dan keadaan berganti. Tjobaan datang, dan angin ribut pantjaroba. Sesudah angin ribut, sesudah selebat-lebat hudjan turun, matahari akan tjerah kembali, serta kembali kepada kemurniannja, dan satu tetaplah tinggal jaitu KETUHANAN JANG MAHA ESA”. (Hamka, dalam Urat Tunggang Pantjasila, Pustaka Keluarga Djakarta, 1951). Semoga bisa menjadi renungan bersama. Wallahu A’lam.*

  • Penulis Buku
Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:agamaBuya HamkaHamkaislampancasila
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Psikolog: Orangtua Harus Jadi Sahabat Bagi Anak
Tulisan selanjutnya Aliansi Ulama Madura dan Tapal Kuda Tolak Terowongan Masjid Istiqlal – Gereja Katedral

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik

Berita
18 Juli 2026 10:26
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?