Oleh: Galih Pratama Yoga
Hidayatullah.com | BEBERAPA hari lagi kita akan sampai pada bulan Ramadhan. Bulan yang penuh ampunan dan kemuliaan dengan kewajiban berpuasa bagi orang-orang yang beriman agar menjadi orang yang bertakwa.
Menurut Ibnu Katsir, sebagaimana ditulis Imron Baehaqi dalam republika.co.id (29/6/2011), arti dasar dari “takwa” adalah menaati Allah SWT dan tidak bermaksiat kepada-Nya. Senantiasa mengingat Allah SWT serta bersyukur kepada-Nya tanpa ada pengingkaran (kufr) di dalamnya.
Melaksanakan makna takwa tersebut tentu bukan merupakan hal yang sepele dan mudah. Dibutuhkan proses agar takwa tumbuh dan tetap terjaga. Salah satunya adalah memaksimalkan keutamaan bulan Ramadhan sebagai proses pembentuk karakter takwa.
Namun di bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan, tak sedikit dari umat muslim yang menjalaninya tanpa kesungguhan dan hanya melaluinya dengan sekedar menahan rasa haus dan lapar saja. Fungsi Ramadhan sebagai “cetakan” takwa tak didapatkannya. Maka sungguh merugi orang-orang yang menjalani bulan Ramadhan dengan rutinitas biasa dan berlalu begitu saja. Hasilnya selepas Ramadhan seolah tak ada tanda perubahan pribadi lebih baik dan jauh dari karakter takwa.
Orang yang menjalani bulan Ramadhan dengan sungguh-sungguh berarti ia sedang membentuk karakter takwa. Seolah ia sedang “mencetak” bekal terbaik untuk kembali kepada-Nya. Tentu tiada bekal yang lebih baik saat kembali kepada-Nya selain takwa.
Ramadhan sebagai “cetakan” takwa harus dipersiapkan sebaik-baiknya. Tidak mungkin sifat takwa yang merupakan hasil dari proses beribadah di bulan Ramadhan akan terbentuk jika tidak disiapkan sebelumnya.
Menyiapkan “cetakan” takwa berarti kita menyiapkan segala sesuatu mulai dari sekarang untuk menyambut Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Banyak hal yang bisa dilakukan diantaranya adalah menata niat, bertaubat dan menjaga kualitas ibadah di bulan Ramadhan.
Kerangka Utama Takwa
Niat merupakan bagian penting dalam agama Islam, amal perbuatan dan ibadah manusia tergantung kepada niatnya. Maka penting untuk menata hati kita dari sekarang bersungguh-sungguh menyambut Ramadhan hanya mengharap ridho Allaah SWT. Jangan sampai terbersit dalam hati kita menjalani Ramadhan dengan harapan perkara duniawi saja.
Memang niat mudah diucapkan, namun sulit dipraktikkan. Saat kita memiliki niat baik, saat itu juga gangguan dari syaitan siap menjerumuskan dan merusak niat kita.
Niat harus tetap terjaga karena Allaah SWT. Kuatkan niat saat sebelum malukan amal, ketika melakukan amal dan sesudah melakukannya. Hal itu bisa dilakukan tentu dengan melalui berbagai latihan intensif, perlu dibiasakan karena niat tidak bisa dengan serta merta bersih dengan sendirinya.
Waktu yang tersisa sebelum memasuki bulan Ramadhan ini bisa kita jadikan untuk berlatih menata hati. Membiasakan diri melakukan ibadah dan amal sholih hanya karena Allah SWT bukan pamrih dunia. Melatih menjaga niat baik juga dengan cara berdo’a kepada Allah SWT agar diteguhkan hati kita istiqomah dalam agama-Nya. Karena Dia-lah Yang Maha Membolak-balikkan hati. Mari siapkan niat sebaik-baiknya sebagai kerangka utama “cetakan” takwa.
Kokohkan dengan Taubat
Selain berusaha dan melatih niat karena Allah SWT, perkara yang perlu disiapkan untuk menjaga hati kita adalah taubat.
Sebagai manusia biasa kita tidak akan lepas dari perkara dosa. Besar atau kecil pasti kita pernah melakukannya. Namun manusia yang baik dan dicintai Allah SWT adalah ia yang bertaubat dan mensucikan dirinya atas dosa-dosa yang pernah dilakukannya.
Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah, ayat 222:
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ
Yang artinya, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”
Jika manusia sering berbuat dosa, meskipun dosa kecil, itu seperti kaca yang tertitik noda. Semakin lama akan semakin penuh titik noda menutupi kaca. Maka hati yang sudah penuh tertutup dengan titik-titik dosa lama kelamaan hati itu bisa mati. Tidak ada lagi perasaan bersalah saat berbuat dosa. Bahkan tidak lagi peduli jika perbuatan itu adalah dosa dan tetap dilakukannya.
Tobat adalah cara untuk membersihkan hati dari titik-titik noda dosa. Dengan menyadari kesalahan, memohon ampun kepada Allah SWT dan tidak mengulanginya maka noda itu tidak akan kembali lagi mengotori hatinya. Fungsi hati yang hidup akan tetap terasa sebgai alarm peringatan dosa. Dengan taubat hati menjadi bersih dan suci. Dengan kesucian hati maka akan semakin siap menyongsong bulan suci Ramadhan yang penuh berkah. Dimulai dari sekarang. Perbanyak taubat sebelum masuk bulan Ramadhan, kokohkan kerangka “cetakan” takwa.
Menjaga Kualitas Ibadah
Setelah menyiapkan niat hanya karena Allah SWT, senantiasa mensucikan dan menghidupkan sensitifitas hati untuk mampu memilih perkara yang haq dan batil dengan taubat, langkah berikutnya dalam menyiapkan “cetakan” takwa adalah menjaga kualitas ibadah.
Dalam beberapa ayat di al qur’an, disebutkan bahwa takwa merupakan hasil dari proses beribadah seorang hamba kepada Allah SWT. Dalam surat Al Baqarah ayat 21, Allah SWT berfirman, yang artinya, “wahai manusia, beribadahlah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”
Termasuk juga dalam surat Al Baqarah ayat 183 berkenaan tentang perintah untuk menjalankan kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan dengan hasil output-nya adalah takwa.
Saat bulan Ramadhan tiba, sebagian besar umat muslim berlomba-lomba dengan penuh semangat dalam beribadah dan beramal sholih. Menjalankan ibadah puasa, sholat berjamaah di masjid dan ibadah lain yang hukumnya wajib maupun sunnah. Amalan kebaikan seperti bersedekah, memberi makan (buka puasa), tadarus al qur’an, ta’lim hingga zakat terasa ringan dilakukan.
Kemuliaan bulan Ramadhan ini sungguh luar biasa. Terbukanya ampunan Allah SWT, dilipatgandakan nilai pahala ibadah kita dan masih banyak lagi keutamaan-keutamaan di dalamnya yang tidak boleh disia-siakan dan terlewat begitu saja.
Inilah yang perlu dijaga, kualitas ibadah selama bulan Ramadhan. Jika perlu paksakan diri untuk maksimal beribadah selama bulan Ramadhan. Harus ada target-target ibadah yang disiapkan.
Dengan niat yang benar karena Allah SWT, hati yang bersih juga semangat totalitas beribadah yang tinggi semoga mampu membentuk sifat takwa. Inilah proses membentuk “cetakan” takwa. Membiasakan diri beribadah dan beramal sholih untuk membentuk karakter takwa.
Ibarat pengrajin batu bata, untuk menghasilkan batu bata yang berkualitas tinggi, selain melalui proses sedemikian rupa mulai dari proses mengambil tanah liat hingga pada saat proses mencetaknya maka dibutuhkan cetakan yang kuat. Untuk membentuk batu bata sesuai yang diharapkan, cetakan itu harus mampu menahan tekanan (pressure) yang tinggi, cetakan itu harus presisi sesuai bentuk yang diharapkan.
Jika cetakan tidak disiapkan dengan baik, maka tidak akan menghasilkan batu bata sesuai yang diharapkan. Apalagi jika cetakan itu tidak pernah ada, maka dipastikan batu bata juga tidak akan ada.*
Ketua Pengurus Daerah Pemuda Hidayatullah Ngawi