Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

New Normal dan Kebiasaan Buruk Kita

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 8 Juni 2020 12:23 12:23 pm
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 8 Juni 2020 07:00
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhammad Jundy

Hidayatullah.com | BELAKANGAN ini tagline New Normal ramai diberitakan di berbagai kanal media nasional maupun internasional. Baik kaum terdidik maupun kaum akar rumput ikut nimbrung memperbincangkannya. New Normal sendiri adalah suatu keadaan dimana masyarakat harus beradaptasi dengan kenormalan baru. Aktivitas harian yang dibatasi, menggunakan masker ketika keluar rumah, selalu mencuci tangan dan menjaga jarak fisik ketika berada di keadaan ramai. New Normal merupakan langkah dalam rangka mencegah badai yang mengkhawatirkan umat manusia di muka bumi; badai resesi ekonomi.

Amerika Serikat, negara yang babak belur menghadapi pandemi Covid -19, secara bertahap memberlakukan relaksasi lockdown, disusul Spanyol, Italia Prancis dan Jerman. Relaksasi yang diberlakukan bukan tanpa sebab, mengingat resesi ekonomi menghantui seluruh negara di dunia termasuk negara adidaya.

Satu dilain hal, penerapan new normal tidak sepenuhnya mulus, Korea Selatan sebagai negara yang mengawali penerapan relaksasi, terpaksa memutus setelah berjalan 1 hari. Dilansir dari CNN Indonesia(06/06/2020) kasus positif Covid – 19 melonjak tajam sesaat setelah penerapan relaksasi. Bagaimana dengan Indonesia? Menurut litbang CNN Indonesia, New Normal akan berjalan baik jika memenuhi beberapa syarat. Diantaranya: jumlah reproduksi virus turun. Kurva kasus positif Covid-19 landai. Sarana dan prasarana penunjang siap serta ada pengendalian resiko kasus Covid -19.

Melihat fakta di lapangan, Indonesia belum sepenuhnya siap menerapkan kebijakan New Normal. Disiplin masyarakat mematuhi protokol kesehatan masih jauh panggang dari api. Tren angka kasus positif belum mengalami penurunan yang signifikan. Namun apa mau dikata, New Normal bak oase ditengah gurun pasir nan tandus. Pilihan terakhir untuk menyelamatkan dunia dari krisis ekonomi global. New Normal bak babak baru kehidupan umat manusia.

Baca Juga

Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja
Problem Pendidikan Islam

Namun, acapkali menjadi pertanyaan publik, apakah hanya sektor ekonomi yang terancam? Ternyata tidak demikian. Banyak pengamat berspekulasi kelangkaan pangan turut menjadi ancaman serius ditengah pandemi Covid -19. Musabab kelangkaan dilatarbelakangi banyak hal. Selain faktor alam faktor lain turut mempengaruhi. Musim kemarau di beberapa negara serta curah hujan yang rendah mempengaruhi hasil panen yang diperoleh petani. Selain itu, penerapan lockdown dan pembatasan sosial menjadi penghambat arus perpindahan barang. Beberapa negara yang selama ini menjadi pengekspor pangan, pelan-pelan membuat kebijakan membatasi kegiatan ekspor.

Hal ini mengakibatkan beberapa negara exporter mengalami kelangkaan komoditas pangan. Indonesia sebagai negara importer gugup menghadapi situasi seperti ini. Dilansir dari tabloid sinartani.com (19/12/2019) pertumbuhan impor pertanian dan pangan melebihi pertumbuhan ekspornya. Belum lagi sektor lain serta setumpuk persoalan yang turut memperkeruh keadaan negeri.

Ubah kebiasan buruk!

Ditengah krisis multidimensi melanda negeri, masyarakat berharap besar muncul pancaran hikmah sebagai media pembelajaran. Setidaknya, New Normal mengajak kita meninggalkan kebiasan buruk. Jika sebelumnya kita acuh tak acuh dengan kegiatan bercocok tanam dan beternak –yang kian asing di kalangan manusia modern– New Normal memaksa kita untuk belajar bercocok tanam dan beternak secara mandiri mengantisipasi kelangkaan pangan.

Jika sebelumnya acapkali kita berlebihan memakai sesuatu maka New Normal menyeret kita untuk hidup hemat. New Normal mengajak kita untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan dan konsisten berolahraga untuk memastikan imunitas tubuh tetap baik. Lebih dari itu, New Normal mengajarkan kepada kita lebih peka terhadap keadaan sekitar. Peduli terhadap sesama, mengamalkan qoul yang syarat akan ibadah “tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah”. Puncaknya, New Normal mengajak kita untuk berrsyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT kepada kita. Nafas yang masih berdetak, oksigen yang kita hirup dan segala hal yang kita miliki. Salam. [S]

*Presiden BEM STAIL 2020

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:covid-19New NormalRelaksasi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jawara E-Sport China Pensiun di Usia 23 Tahun Akibat Diabetes Tipe 2 dan Gangguan Mental
Tulisan selanjutnya Warung Kopi dan Diskriminasi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Berita
31 Mei 2026 19:39
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Ekonomi SyariahMimbarTsaqafah

Cintai Bumi Melalui Investasi Green Sukuk Ritel

2 Desember 2022 08:05
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?