Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Kiat Menulis Satu Pekan Satu Tulisan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 6 Juli 2021 13:20 1:20 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 Juli 2021 13:20
Bagikan
[Ilustrasi] Penulis Muslim.
Bagikan

Oleh: Mahladi Murni

Hidayatullah.com | Satu pekan satu tulisan. Itulah program yang saya kenakan kepada para mahasiswa kelas jurnalistik yang saya ajar. Mereka harus paham bahwa jurnalistik adalah praktik, bukan sekadar teori. Para jurnalis handal lebih banyak lahir dari lapangan ketimbang bangku kuliah, meskipun teori tetap diperlukan.

Namun, mereka yang telah membuat karya setiap pekan tak menjamin semakin bagus dalam menulis. Mereka masih harus mematuhi beberapa persyaratan lainnya. Apa saja persyaratan tersebut? Berikut penjelasannya.

Pertama, niatkan bahwa “Saya menulis untuk berdakwah.” Sebab, keridhoan Allah Ta’ala adalah tujuan tertinggi. Jika kita menggantungkan cita-cita pada tujuan tertinggi, maka yang lain akan menjadi mudah.

Kedua, karena niat kita menulis untuk berdakwah, maka sasaran karya kita adalah masyarakat luas, bukan sekadar dosen mata kuliah, atau guru Bahasa Indonesia, apalagi calon mertua. Semakin banyak masyarakat yang membaca tulisan kita, semakin banyak pula kebajikan yang kita bagi kepada mereka.

Baca Juga

Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja

Ketiga, pilihlah tema yang menarik dan kita memiliki akses untuk menggali data tentang tema tersebut. Tema yang tidak menarik tentu tak akan diperhatikan pembaca. Semakin menarik tema yang kita pilih, semakin bernilai karya kita.  Bila perlu, lakukan riset kecil-kecilan. Cari tahu apa yang menjadi topik terhangat pembicaraan masyarakat saat ini.

Keempat, carilah bahan tulisan sesuai dengan tema yang kita pilih. Galilah secara mendalam, entah lewat wawancara, liputan pandangan mata, atau studi pustaka.

Jika bahan yang kita gali ternyata tidak cukup banyak dan kita kesulitan menggalinya lebih dalam, segeralah pikirkan kemungkinan untuk mengganti tema.  Mengganti tema adalah hal biasa. Sebab, seorang jurnalis bukanlah orang yang ahli dalam segala hal. Kualitas karyanya sangat tergantung pada bahan yang ia dapatkan.

Keharusan mencari bahan tulisan ini seringkali membuat para jurnalis pemula gampang menyerah. Mereka mulai mengeluh dengan mengatakan susah. Akhirnya mereka menggantungkan pena. Ini semua tergantung kepada seberapa kuat niat mereka berkarya.

Seharusnya mereka menyadari bahwa menghasilkan karya yang berbobot memang tak mudah. Semakin kita ingin menghasilkan karya yang berbobot, semakin banyak kesusahan yang akan kita dapati. Tak ada jalan dakwah yang mudah, sebab surga harganya tidak murah.

Kelima, jika bahan telah terkumpul, mulailah menulis dengan tata bahasa dan ejaan yang benar.  Jangan mengeluh tak bisa! Sebab, Bahasa Indonesia telah kita pelajari sejak bangku sekolah dasar sampai tamat SMU, bahkan disempurnakan lagi di semester pertama kuliah. Rasanya, setelah belajar selama 12 tahun lebih, tak mungkin kita tak paham menulis. Hanya perlu rajin mengulang-ulang saja.

Carilah waktu yang baik dalam menulis, saat di mana hati kita tentram. Misalnya, sehabis shalat malam. Bahkan, bila perlu, ambillah air wudhu sebelum menulis. Ini agar hati kita terpaut dengan tulisan yang akan kita buat. Seringkali tulisan yang keluar dari hati yang bersih lebih memiliki jiwa ketimbang tulisan yang dibuat secara terpaksa dan tergesa-gesa.

Keenam, setelah selesai menulis, baca ulang kembali karya kita. Perhatikan baik-baik kata demi kata. Sempurnakan tata bahasanya, rapikan alurnya, dan buang hal-hal yang tak bermanfaat. Ingat, tulisan yang amburadul tak akan menarik dibaca. Jika masyarakat tak tertarik membaca karya kita, maka dakwah tak akan sampai ke hati mereka.

Ketujuh, setelah semua telah sempurna, publikasikanlah. Sebarkan karya Anda seluas-luasnya. Lalu biarkan karya Anda menjangkau sendiri hati para pembaca. Ada yang tersentuh, ada pula yang menolak. Ada yang mencibir, ada juga yang mengagumi. Ikhlaskan semuanya. Sebab, hanya Allah Ta’ala yang mampu membolak-balikan hati manusia, bukan Anda. Yang perlu Anda lakukan sekarang adalah bersiaplah untuk menempuh langkah berikutnya pekan depan.

Selamat mencoba! *

Penulis wartawan dan pengurus MUI Pusat

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:cara memulai menulisKiat Menulismenulistips menulis
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mobilitas Masyarakat saat PPKM Darurat Menurun, Menko Luhut : Tapi Masih Jauh dari Harapan
Tulisan selanjutnya fortnite ka'bah Menkominfo Gandeng Kepolisian, setelah Ada Game Ajak Hancurkan Bangunan Mirip Ka’bah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar

Berita
14 Juli 2026 17:00
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Problem Pendidikan Islam

28 Desember 2022 11:20
Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?