Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Analisis

UEA Tawarkan Bashar al Assad 3 Miliar Dolar AS untuk Serang Pasukan Turki di Suriah

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 10 April 2020 22:38 10:38 pm
Nashirul Haq
Dipublikasikan 10 April 2020 22:38
Bagikan
Mike Pompeo | Mohammed bin Zayed Al Nahyan
Bagikan

Hidayatullah.com–Putra Mahkota Abu Dhabi berusaha meyakinkan Suriah untuk menggagalkan genjatan senjata Idlib sebagai bagian dari rencana, ungkap beberapa sumber pada Middle East Eye (MEE) yang bermarkas di London. Pergeseran dukungan penguasa Timur Tengah ini dinilai akan merubah peta konstalasi di dunia Arab.

Pangeran Mohammad Bin Zayed tidak hanya berupaya menghalangi kesepakatan genjatan senjata antara Turki dan Rusia pada 5 Maret, namun juga berulangkali mendesak Presiden Suriah Bashar al-Assad untuk merusak kesepakatan dengan melancarkan kembali serangan militernya ke provinsi barat laut Idlib.

Beberapa hari sebelum pertemuan antara pejabat Turki dan Rusia di Kremlin, Bin Zayed mengirim seorang pejabat senior, Ali Al-Shamsi, ke Damaskus untuk menegosiasikan sebuah kesepakatan dengan Assad. Sumber yang dekat dengan rencana itu mengungkapkan bahwa sang pangeran menawarkan  3 miliar AS dolar kepada Assad untuk menghidupkan kembali serangan ke wilayah terakhir yang dikuasai oposisi Suriah. Rupanya  1 miliar AS dolar harus dibayar sebelum akhir Maret, dengan  250 juta AS dolar dilaporkan dibayar di muka.

Dengan kesepakatan antara UEA dan Suriah yang dilakukan dalam tingkat kerahasiaan tinggi, Abu Dhabi diduga khawatir tentang Washington menerima kabar dari pertemuan tersebut. Sudah ada ketegangan antara kedua negara karena pelepasan aset Iran yang dibekukan senilai  700 juta AS dolar oleh UEA pada Oktober tahun lalu, dan dukungan Amerika untuk serangan balasan militer Turki terhadap rezim Suriah.

Middle East Monitor (MEMO) mendapat informasi dari narasumber tingkat tinggi yang tidak disebutkan namanya bahwa, “Selama bentrokan militer Idlib, Al-Shamsi menemui Assad dan memintanya untuk tidak menyepakati genjatan senjata dengan Erdogan. Ini terjadi tepat sebelum pertemuan Erdogan dengan Putin. Assad menjawab bahwa dia membutuhkan dukungan finansial.”

Baca Juga

Bagaimana Pakta Pertahanan Mekkah Bisa Mengubah Peta Ekonomi Timur Tengah?
Menguak Penyebab Kerusuhan Hindu dan Muslim di Nepal
Mimpi Buruk Israel: Turki Bangkit Jadi Kekuatan Baru Timur Tengah
Strategi Ibrahim Traoré: Tinggalkan Penjajah Prancis, Dekati Rusia
“Gubernur Konten”,  Antara Pencitraan, dan Polarisasi Digital

Menurut sumber itu, Presiden Suriah mengatakan kepada Al-Shamsi bahwa, “Iran telah berhenti membayar karena mereka tidak punya uang tunai, dan Rusia tetap tidak membayar. Jadi dia meminta  5 miliar AS dolar sebagai dukungan langsung untuk Suriah. Mereka menyetujui 3 milyar AS dolar,  1 milyar AS dolar dibayarkan sebelum akhir Maret. ”

Setelah perjanjian antara Suriah dan negara Teluk ini, Assad mulai membangun kembali pasukannya untuk mempersiapkan serangan baru. Namun sekutunya, Rusia, memantau situasi dengan cermat dan mendengar tentang rencana rahasia itu, yang menyebabkan Presiden Vladimir Putin mengirim Menteri Pertahanan Sergei Shoygu ke Damaskus untuk mencegah Assad menindaklanjutinya.

“Pesan disampaikan Shoygu jelas: ‘Kami tidak ingin Anda memulai kembali serangan ini. Rusia ingin gencatan senjata berlanjut,’” sumber itu melanjutkan. “Putin sangat marah.”

Namun, pada saat itu, UEA telah membayar uang muka  250 juta AS dolar kepada Assad. Seorang pejabat senior Turki mengkonfirmasi laporan terkait penawaran Abu Dhabi kepada Damaskus, mengatakan, “Yang Saya bisa katakan adalah bahwa isi laporan itu benar.”

Upaya UEA untuk mempengaruhi Suriah dan memulai kembali serangan Idlib tidak berakhir di sana, meskipun, bahkan setelah peringatan keras Shoygu, Abu Dhabi terus mendesak Assad untuk menindaklanjuti dengan rencana tersebut. Bahkan mengirim lebih dari 1 miliar AS dolar yang disepakati ke Suriah sebagai insentif lebih lanjut.

Motif Mohammed Bin Zayed dilaporkan merupakan bagian dari serangan ganda terhadap pengaruh Turki di kawasan itu. Pertama, dia bertujuan untuk mengikat pasukan Turki dalam konflik militer panjang dan berdarah di Suriah timur laut, seperti yang mulai terjadi dengan pembalasan militer Turki terhadap pasukan rezim Suriah setelah pembunuhan 34 tentara Turki.

Kedua, dia ingin sumber daya dan keperluan militer Turki terbagi sedemikian rupa sehingga itu akan mengalihkannya dari kampanye militer di Libya, di mana Turki sedang membantu Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang didukung PBB melawan sekutu UEA, Khalifa Haftar. Menurut rencana Putra Mahkota, hal ini memungkinkan Haftar untuk mengambil kendali atas ibu kota Libya, Tripoli, tempat GNA berpusat.

Di tengah-tengah semua ini, Bin Zayed menciptakan penutup untuk menyembunyikan rencana tersebut dari AS.

“UEA tidak memberi tahu Amerika,” jelas sumber itu, “[dan] menjadi sangat khawatir bahwa berita itu akan keluar, terutama setelah keributan tentang pelepasan aset Iran.”

Sang putra mahkota kemudian memanggil Assad untuk memastikan bahwa rencana awal tidak diketahui oleh AS, dan memberikan cerita buatan sebagai kedok bahwa ia hanya dipanggil untuk meyakinkan Suriah bahwa UEA selalu siap untuk mendukung negara itu, terutama dalam krisis virus corona saat ini. “Saya meyakinkan dia tentang dukungan UEA dan kesediaannya untuk membantu orang-orang Suriah,” tulis Bin Zayed di Twitter. “Solidaritas kemanusiaan selama masa percobaan menggantikan semua masalah, dan Suriah dan rakyatnya tidak akan berdiri sendiri.”

Meskipun UEA telah menggeser dukungannya kepada Assad dalam beberapa tahun terakhir di mana diktator Suriah itu mendapatkan kembali sebagian besar kendali teritorial atas sebagian besar negaranya, terungkapnya peran Putra Mahkota Abu Dhabi sebagai pengaruh utama di balik rencana untuk serangan baru terhadap Idlib dan persekongkolan untuk mengikat Turki semakin memperjelas situasi. Ini juga menggeser seluruh konteks konflik dalam hal hubungan regional dan permainan kekuasaan.*

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bashar al assadsuriahTurkiUEAUni Emirat Arab
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Siapkan “Cetakan Takwa’ Menuju Ramadhan
Tulisan selanjutnya Menyambut Ramadhan di Tengah Pandemi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah

Berita
31 Agustus 2026 20:04
Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
Genosida Rwanda: Pengadilan Belanda Penjarakan Seorang Tersangka Seumur Hidup
Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang

Terbaru

  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal

Mungkin Anda Juga Suka

Kampanye Digital Masif dari Arab Diluncurkan untuk Menjatuhkan Sinwar dan Hamas
Analisis

Kampanye Digital Masif dari Arab Diluncurkan untuk Menjatuhkan Sinwar dan Hamas

19 Oktober 2024 15:22
Analisis

NAS Daily Terima Penghargaan dari Lobi ‘Israel’

2 April 2024 21:00
Mundurnya 'Israel' dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?
Analisis

Mundurnya ‘Israel’ dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?

5 Januari 2024 07:00
Analisis

Analisa Mantan Intel AS: Hamas Memenangkan Perang di Gaza

24 November 2023 13:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?