Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Catatan Akhir Pekan

Makna Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 10 Agustus 2020 12:22 12:22 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 Agustus 2020 12:22
Bagikan
Merdeka atau mati
Bagikan

Oleh: Dr. Adian Husaini

 

Hidayatullah.com | PROKLAMASI Kemerdekaan Indonesia terjadi pada hari Jumat, 9 Ramadhan 1364 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1945. Naskah Proklamasi dibacakan oleh Soekarno dan Muhammad Hatta, atas nama rakyat Indonesia, bertempat di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta (sekarang bernama Jalan Proklamasi). Bunyi naskah Proklamasi adalah:

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja. Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05. Atas nama bangsa Indonesia. Soekarno/Hatta

Dalam naskah ini ditulis tahun 05, karena ini sesuai dengan Tahun Jepang, yang ketika itu jatuh pada tahun 2605. Mengapa pakai tahun Jepang? Sebab ketika itu, Indonesia masih di bawah kekuasaan penjajah Jepang. Seperti kita ketahui, Jepang menjajah Indonesia mulai tahun 1942, dan baru berakhir pada tahun 1945.

Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia sebenarnya merupakan titik kulminasi perjuangan fisik dan diplomasi bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Selama ratusan tahun bangsa Indonesia, terutama dipelopori oleh para ulama, telah melakukan berbagai bentuk perjuangan melawan para penjajah.

Baca Juga

Hiruk Pikuk Urusan Pilpres, Jangan Lupakan 5 Adab Bernegara
Selamat, Prof. KH Hamid F Zarkasyi jadi Tokoh Perbukuan Islam
Catatan Akhir Pekan: Jangan Lupakan dan Jangan Hancurkan Peradaban Melayu yang Agung
Jatuh Bangunnya Peradaban
Beginilah Berpolitik yang Cerdas

Penjajahan Portugis dan Belanda, utamanya menjalankan politik kolonial dengan berporos kepada tiga bentuk penjajahan, yaitu “gold, gospel, and glory”. Para penjajah di Indonesia, selain mengeruk kekayaan alam Indonesia, juga membantu para misionaris Kristen untuk mengubah agama mayoritas bangsa Indonesia, yaitu umat Islam. Sebab, banyak diantara tokoh-tokoh penjajah mempunyai pemikiran, penjajahan mereka akan lebih mudah dijalankan dan lebih langgeng jika bangsa Indonesia diubah agamanya menjadi Kristen.

Bukti-bukti sejarah menunjukkan, bantuan dan campur tangan kaum kolonialis Belanda sangatlah besar dalam menjalankan Kristenisasi di Indonesia. Oleh sebab itu, bukan hal aneh, jika penjajahan (kolonialisme) Barat di dunia Islam, selalu bekerjasama dengan misionaris Kristen untuk melanggengkan kekuasaannya.

Keterkaitan erat antara gerakan Kristenisasi dengan pemerintah kolonial banyak diungkap oleh para ilmuwan Indonesia, seperti Dr. Aqib Suminto (Politik Islam Hindia Belanda), Prof. Dr. Deliar Noer (Gerakan Islam Modern) dan juga Dr. Alwi Shihab (Membendung Arus — Respons Gerakan Muhammadiyah terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia). Politik netral agama yang dikumandangkan oleh pemerintah Belanda terbukti tidak benar.

Jadi, bangsa Indonesia, khususnya umat Islam, melihat masalah penjajahan bukanlah sekedar masalah ekonomi semata. Di samping masalah ekonomi dan politik (gold and glory), penjajahan di Indonesia juga terkait dengan masalah agama (gospel), yakni usaha untuk memurtadkan umat Islam dari agamanya, dengan tujuan umat Islam akan mudah ditundukkan dan tidak lagi melawan penjajah.

***

Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika para ulama Islam menjadi motor dalam perjuangan melawan penjajah, yang dalam istilah Islam disebut sebagai Perang Sabil. Sebagai contoh, adalah surat yang dikirim oleh Syekh Abdul Shamad al-Palimbani, seorang ulama terkenal asal Palembang yang menetap di Mekkah, kepada Sultan Mangkubumi (Hamengkubuwono I). Surat bertanggal 22 Mei 1772 itu berbunyi sebagai berikut:

”Tuhan telah menjanjikan bahwa para Sultan akan memasuki (surga), karena keluhuran budi, kebajikan, dan keberanian mereka yang tiada tara melawan musuh dari agama lain (sic!). Di antara mereka ini adalah raja Jawa yang mempertahankan agama Islam dan berjaya di atas semua raja lain, dan menonjol dalam amal dalam peperangan melawan orang-orang agama lain (sic!).”

Dalam suratnya yang lain kepada Pangeran Paku Alam, atau Mangkunegara, Syekh al-Palimbani juga antara lain menulis:

”Selanjutnya, Yang Mulia hendaknya selalu ingat akan ayat al-Quran, bahwa sebuah kelompok kecil akan mampu mencapai kemenangan melawan kekuatan besar. Hendaklah Yang Mulia juga selalu ingat bahwa dalam al-Quran dikatakan: ”Janganlah mengira bahwa mereka yang gugur dalam perang suci itu mati” (al-Quran 2:154, 3:169)… Alasan panji-panji ini dikirimkan kepada Anda adalah bahwa kami di Makkah telah mendengar bahwa Yang Mulia, sebagai seorang pemimpin raja yang sejati, sangat ditakui di medan perang. Hargailah dan manfaatkanlah, insya Allah, untuk menumpas musuh-musuh Anda dan semua orang kafir.” (Surat al-Palimbani dikutip dari buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, karya Prof. Dr. Azyumardi Azra, (Jakarta: Prenada Media, 2004).

Begitulah, tingginya semangat bangsa Indonesia dalam melawan penjajahan. Oleh sebab itu, bangsa Indonesia melihat Proklamasi Kemerdekaan pada 9 Ramadhan 1364 Hijriah atau 17 Agustus 1945 sebagai suatu berkat dan rahmat dari Allah SWT.

Adalah hal yang indah, bahwa Proklamasi Kemerdekaan itu dibacakan di bulan mulia (Ramadhan) dan hari yang mulia (Jumat). Hal itu ditegaskan dalam Pembukaan UUD 1945 alenea ketiga: ”Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa”. Jadi, bagi bangsa Indonesia, kemerdekaan dipandang sebagai ”atas berkat rahmat Allah”, bukan hanya sekedar hasil perjuangan manusia. Ini adalah aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jamaah.

Perjuangan bangsa Indonesia untuk sampai kepada kemerdekaan, sejatinya telah melalui jalan yang panjang; telah dilakukan dengan sungguh-sungguh bahkan telah mengorbankan jiwa, harta, dan segala sesuatu yang tidak sedikit nilainya. Bahkan, perjuangan itu juga terus disertai dengan doa, sehingga bangsa Indonesia meyakini, bahwa Kemerdekaan adalah anugerah dan rahmat dari Allah SWT.

Karena itu, sepatutnyalah bangsa kita mampu memaknai kemerdekaan dengan ber syukur kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Mensyukuri kemerdekaan adalah dengan cara mengisi kemerdekaan sesuai dengan Tuntunan Allah dan Rausl-Nya; bukan justru mengisi kemerdekaan dengan menentang dan mendurhakai Tuntunan Ilahi.

InsyaAllah, dengan itu, Indonesia akan meraih berkah dari langit dan dari bumi, sehingga menjadi negara yang – sesuai amanah Pembukaan UUD 1945 – ”merdeka, berdaulat, adil, dan makmur”. (Depok, 7 Agustus 2020).*

Penulis adalah pengasuh Pesantren Attaqwa Depok (ATCO), www.adianhusaini.id

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:17 AgustusIslam IndonesiakemerdekaankolonialismemerdekaPoklamasi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ketum PP Muhammadiyah Nilai SK Guru Besar Abdul Mu’ti Cuma Soal Waktu
Tulisan selanjutnya Viral Awan “Tsunami” di Aceh, Erupsi Gunung Sinabung di Karo, Warganet: Berdoa kepada Allah Semoga Tak Terjadi Apa-apa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Berita
30 Mei 2026 13:05
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Catatan Akhir Pekan

Peringatan Penting Ulama India

26 Desember 2022 14:45
Catatan Akhir Pekan

Teokrasi dan Demokrasi

17 Desember 2022 17:10
Catatan Akhir Pekan

Beginilah Terjadinya Liberalisasi Politik

5 Desember 2022 11:45
Catatan Akhir Pekan

Menjaga Pikiran di Era Kebohongan

26 November 2022 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?