Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Catatan Akhir Pekan

Keteladan Pemimpin DDII: Kisah Mohammad Natsir Menyelamatkan NKRI

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 Oktober 2020 08:01 8:01 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 Oktober 2020 10:00
Bagikan
Bagikan

Oleh: Dr. Adian Husaini

 

Hidayatullah.com | TAHUN 2008, Mohammad Natsir, Ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) yang pertama, mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Nasional. Salah satu jasa besarnya adalah mengembalikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Beginilah kisah perjuangan Mohammad Natsir menyelamatkan NKRI.

Pada 3 April 1950, sebagai anggota parlemen, Natsir mengajukan mosi dalam Sidang Parlemen RIS (Republik Indonesia Serikat). Itulah”Mosi Integral Natsir”, yang memungkinkan bersatunya Negara-negara Bagian ke dalam NKRI.

Mosi Integral Natsir telah mengantarkan terbentuknya kembali (Proklamasi Kedua) Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang secara resmi diumumkan pada 17 Agustus 1950. Proklamasi pertama ialah tanggal 17 Agustus 1945.

Baca Juga

Hiruk Pikuk Urusan Pilpres, Jangan Lupakan 5 Adab Bernegara
Selamat, Prof. KH Hamid F Zarkasyi jadi Tokoh Perbukuan Islam
Catatan Akhir Pekan: Jangan Lupakan dan Jangan Hancurkan Peradaban Melayu yang Agung
Jatuh Bangunnya Peradaban
Beginilah Berpolitik yang Cerdas

Mosi Integral Natsir ibarat Proklamasi Kemerdekaan kedua. Dengan Mosi itu, maka bubarlah Republik Indonesia Serikat (RIS), yang merupakan hasil konferensi Inter Indonesia – antara delegasi Republik Indonesia dan delegasi BFO – di Yogyakarta 19-22 Juli 1949.

Pembentukan BFO adalah upaya Belanda untuk ”mengepung” Republik Indonesia. Negara-negara BFO adalah: Negara Dayak Besar, Negara Indonesia Timur, Negara Borneo Tenggara, Negara Borneo Timur, Negara Borneo Barat, Negara Bengkulu, Negara Biliton, Negara Riau, Negara Sumatera Timur, Negara Banjar, Negara Madura, Negara Pasundan, Negara Sumatera Selatan, Negara Jawa Timur, dan Negara Jawa Tengah. Dengan demikian, Belanda berhasil menunjukkan, bahwa wilayah negara Republik Indonesia hanyalah di sebagian Pulau Jawa, Madura, dan Sumatera. (Lihat, Anwar Harjono dkk., Muhammad Natsir: 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan, (Jakarta:  Pustaka Antara, 1978).

Mosi Integral Natsir akhirnya berhasil membubarkan BFO bikinan Van Mook dan penyatuan kembali NKRI. Kepada Majalah Tempo (edisi 2 Desember 1989), Natsir menceritakan peristiwa penting dalam sejarah Indonesia tersebut:

”Setelah tidak menjabat Menpen, saya aktif di Masyumi. Waktu itu saya di parlemen sebagai ketua fraksi Masyumi. Itu sudah ada KMB yang mengakui 15 negara bagian. Salah satu dari negara bagian yang diakui adalah negara Republik Indonesia yang berkedudukan di Yogya.

Mulanya saya diminta oleh Bung Hatta pergi ke Yogya menjadi perdana menteri. Saya tidak mau. Biarlah orang Yogya saja, kata saya. Saya sudah terikat di Jakarta, di Partai Masyumi. Masyumi sebagai alat perjuangan, saya anggap lebih penting daripada suatu negara bagian.

Meskipun Yogya menjadi negara bagian, sesudah KMB, kita bertekad mengembalikan RI seperti semula. Saya bicara dengan fraksi-fraksi. Dengan Kasimo dari Partai Katolik, dengan Tambunan dari Partai Kristen, dengan PKI, dan sebagainya. Dari situ saya mendapat kesimpulan: mereka itu, negara-negara bagian itu, semuanya mau membubarkan diri untuk bersatu dengan Yogya, asal jangan disuruh bubar sendiri.

Dua bulan setengah saya melakukan lobby. Tidak mudah, lebih- lebih dengan negara-negara bagian di luar Jawa. Umpamanya negara bagian di Sumatra dan Madura. Setelah selesai semua, lantas saya adakan “mosi integral” yang kabur-kabur. Ha-ha-ha… kabur, sebab kita menghadapi Belanda. Jangan sampai nanti Belanda bikin kacau lagi. Belanda tidak boleh tahu ke mana perginya rencana itu.

Sesudah itu saya perlu datang ke Yogya. Tapi Yogya tidak mau membubarkan diri. Lantas saya katakan: Kita punya program menyatukan kembali semuanya, jadi kita bayar ini dengan sama-sama membubarkan diri. Walaupun beberapa pemimpin sudah setuju, masyarakatnya belum mau, karena harga dirinya tersinggung.

Sampai pukul 3 dini hari kami membicarakan soal itu dengan jurnalis-jurnalis, orang-orang penting, dan pemimpin-pemimpin di Yogya. Ada yang bilang, “Kalau kita pulihkan dengan cara membubarkan diri, apa tidak sulit nanti? Hilang kita punya negara.” Wah, itu masuk akal juga.

Lalu saya katakan, kita mempunyai program. Program mempersatukan kembali.

Untuk itu ada dua alternatif. Pertama, kita berperang dulu dengan semuanya. Dengan negara Pasundan, dengan negara Madura, Jawa Timur, dan lain-lain. Mereka semuanya akan kalah, dan kita menjadi satu. Alternatif kedua, kita tidak berperang. Kita ajak mereka membubarkan diri dengan maksud untuk bersatu. Nah, kita, negara Yogya ini punya Dwitunggal Soekarno-Hatta. Mereka tidak. Saya katakan lagi, “Dalam sejarah jangan kita lupakan faktor pribadi; mutu pribadi orang itu menunjukkan siapa itu Soekarno-Hatta. Tidak akan ada yang bisa mengatakan ‘tidak’ kalau kita majukan nama Soekarno-Hatta menjadi Presiden RI. Sedangkan kita, para pemimpin-pemimpin ini, diam sajalah mengikut. Kalau diperlukan, ya, dipakai, dan kalau tidak, ya, tidak apa-apa. Pokoknya, tidak ada satu pun dari negara-negara bagian itu yang akan menolak Soekarno-Hatta menjadi presiden.

Di sini, fungsi Soekarno-Hatta itu untuk mempersatukan, untuk memproklamasikan, dan untuk mempersatukan kembali. Setelah “mosi integral” berhasil, saya dipercayai jadi perdana menteri. Tapi saya tidak memikirkan hal itu sama sekali tadinya. Saya juga heran. Wartawan Harian Merdeka Asa Bafagih bertanya kepada Soekarno tentang siapa yang akan jadi perdana menteri. Kata Soekarno, “Ya, siapa lagi kalau bukan Natsir dari Masyumi, mereka punya konsepsi untuk menyelamatkan Republik melalui konstitusi”.

*****

Demikianlah penuturan Natsir tentang peristiwa mosi integral tersebut, sebagaimana ditulis oleh Majalah Tempo. Kisah kepahlawanan Natsir itu menunjukkan kepiawaian dan kematangan Mohammad Natsir dalam dua hal: komunikasi dan lobi; dua kemampuan yang sangat diperlukan dalam dunia politik.

Tampaknya, kemampuan Mohammad Natsir itu ditempa oleh pengalamannya yang panjang sebagai guru pejuang dan aktivis organisasi Islam (JIB).  Dan tentu saja, tak bisa dilepaskan dari keteladanan tiga orang guru yang paling berpengaruh dalam hidupnya, yaitu: A. Hassan, Haji Agus Salim, dan Syekh Aahmad Soorkati.

Dalam perspektif pendidikan, kemampuan Mohamamd Natsir itu diperoleh melalui proses pendidikan yang ideal. Yakni, proses pendidikan yang mendahulukan adab dan kecintaan terhadap ilmu yang bermanfaat. (Lihat juga: Adian Husaini dan Galih Setiawan, Pemikiran dan Perjuaangan Mohammad Natsir dan Hamka dalam Pendidikan, GIP, 2019). Wallahu A’lam bish-shawab. (Depok, 29 September 2020).*

Penulis adalah pendiri At-Taqwa College Depok (ATCO). Langganan 1000 artikel klik di sini

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Jasa NatsirmasyumiMohammad NatsirNKRIRISsejarah Indonesia
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya DDII Ajak Ormas Islam Bergandengan, Jadikan Dakwah sebagai Primadona
Tulisan selanjutnya Konsep Konsensual Seks dalam RUU P-KS Menghajar Sistem Demokrasi, Pendidikan, Hukum, dan Ketahanan Keluarga Indonesia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Aliansi Aktivis dan Umat Muslim Tasikmalaya Desak Polisi Proses Hukum Penghina Sahabat Nabi

Berita
15 Juni 2026 19:30
Santri Tahfidz Ar-Riyadh Tampil pada Pembukaan Rapat Paripurna DPRD Bontang
Tradisi Membaca sebagai Penguat Halaqoh
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
Tiga Kapal Tanker Saudi Melewati Selat Hormuz Setelah Iran-AS Sepakat Mengakhiri Perang

Terbaru

  • Hujan Hitam di Moskow Usai Ukraina Bombardir Pengilangan Minyak Rusia
  • Jangan Cuma di Stadion, Pria Jepang Diminta Ikut Bantu Bersihkan Rumah
  • Tiga Kapal Tanker Saudi Melewati Selat Hormuz Setelah Iran-AS Sepakat Mengakhiri Perang
  • Semua Biaya Ditanggung Qatar Kirim 1.000 Pendukung Timnas Jelang Laga Versus Kanada
  • MUI Serukan Masyarakat Lawan Gerakan Normalisasi LGBT
  • AS-Iran Capai Kesepakatan Final, Trump dan Pezeshkian Resmikan Memorandum
  • AI Grok Besutan Elon Musk Dipakai dalam Serangan AS Terhadap Iran
  • Santri Tahfidz Ar-Riyadh Tampil pada Pembukaan Rapat Paripurna DPRD Bontang
  • Hijrah Digital adalah Upaya Memuliakan Waktu di Era Teknologi
  • Tahun Baru Hijriah, Kini Punya Makna Perubahan Orientasi Hidup dan Kepedulian Sosial

Mungkin Anda Juga Suka

Catatan Akhir Pekan

Peringatan Penting Ulama India

26 Desember 2022 14:45
Catatan Akhir Pekan

Teokrasi dan Demokrasi

17 Desember 2022 17:10
Catatan Akhir Pekan

Beginilah Terjadinya Liberalisasi Politik

5 Desember 2022 11:45
Catatan Akhir Pekan

Menjaga Pikiran di Era Kebohongan

26 November 2022 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?