Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Tiga Macam Penuntut Ilmu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 14 Oktober 2020 10:36 10:36 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 14 Oktober 2020 10:36
Bagikan
Ilustrasi: Kegiatan keilmuan di sudut Masjid Al-Azhar
Bagikan

Oleh: Herman Anas

 

Hidayatullah.com | SAYYIDINAH Ali membagi manusia dalam beribadah kepada Allah menjadi 3 macam. Pertama, seperti budak (عبد). Kedua, seperti pedagang (تاجر). Ketiga, seperti pecinta (محب).

Menuntut ilmu di dalam Islam termasuk bagian dari ibadah. Bahkan ibadah yang sangat mulia. Orang yang menginginkan dunia dan akhirat itu butuh ilmu.

Jika dianalogikan dengan pembagian ibadah seperti penjelasan Sayyidina Ali di atas, maka penuntut ilmu dapat juga dibagi menjadi tiga macam.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Pertama, penuntut ilmu seperti budak. Dia belajar menunggu disuruh ustadz dan orang tua. Belajar karena takut di hukum. Belajar karena ada pekerjaan rumah (PR) tiap hari. Saat ustadz lupa memberi PR maka belajarnya jadi libur. Hal ini biasanya terjadi pada anak-anak yang masih baru mulai belajar.

Tugas orang tua dan guru agar meningkatkan level anak dalam menuntut ilmu dari yang seperti budak hingga seperti pecinta. Yakni dengan cara mendoakan, mengisahkan kehidupan ahli ilmu yang sudah merasakan manisnya ilmu. Menyampaikan kemuliaan ilmu dan ahli ilmu dalam Islam.

Kedua, penuntut ilmu seperti pedagang. Belajar kalau ada perlombaan, hadiah, ujian dan keuntungan dunia-dunia lainnya. Semangat belajar seperti ini sangat sementara. Bahkan mencelakakan di akhirat. Berbeda kalau mengejar keuntungan akhirat, pahala dan kemuliaan di sisi Allah, maka itu adalah kebaikan.

Berkaitan dengan bagian kedua, penuntut ilmu seperti pedagang, penulis pernah menemukan baliho besar. Baliho tersebut salahsatu bentuk promosi lembaga Islam besar di Jember. Apa yang ditawarkan?.

Bukannya kedalaman ilmu agama, metode yang mudah di dalam memahami ilmu,  motivasi akhirat, niat ingin ridha Allah, untuk kemulian Islam dan kaum muslimin dll., namun justru kemudahan diterima kerja dan masuk perguruan tinggi ternama.

Mungkin, hal ini dianggap biasa, ditengah bobroknya pendidikan saat ini. Terutama dalam hal niat dan kurikulum yang tidak menjadikan Islam sebagai landasan dan sudut pandang dalam segala aspek kehidupan. Padahal Rasul ﷺ sudah menegaskan dalam haditsnya di kitab Ta’limul Muta’allim :

كَمْ مِنْ عَمَلٍ يَتَصَوَّرُ بِصُوْرَة أعْمالِ الدّنْياَ وَيَصِيْرُ بِحُسْنِ النِيَّة مِن أَعْمَالِ الآخِرَة، كَمْ مِنْ عَمَلٍ يَتَصَوَّرُ بِصُوْرَة أعْمالِ الأخرة ثُمَّ يَصِيْر مِن أَعْمَالِ الدُّنْيَا بِسُوْءِ النِيَّة

Artinya: “Banyak amalan yang tampak sebagai perbuatan duniawi berubah menjadi perbuatan ukhrawi lantaran niat yang bagus. Banyak pula amalan yang terlihat sebagai perbuatan ukhrawi berubah menjadi perbuatan duniawi lantaran niat yang buruk.”

Ketiga, penuntut ilmu seperti pecinta. Orang yang sudah mengetahui kemuliaan ilmu dan penuntutnya. Mengetahui manisnya ilmu dan pahitnya kebodohan. Orang yang berbahagia atas karunia akal yang diberikan oleh Allah.

Orang yang sudah sampai ke tingkatan (maqam) ini akan senantiasa memanfaatkan waktunya dengan baik. Seluruh waktunya banyak digunakan untuk ilmu. Maka tidak heran, banyak para ulama terdahulu memakan makanan yang mudah dimakan (dikunyah) agar waktu makan tidak lama.

Mereka memulai belajarnya sejak kecil. Dalam sehari mereka mampu menghadiri banyak majelis ilmu bahkan sampai 12 kali sebagaimana yang dilakukan Imam Nawawi. Malam-malamnya mereka bagi, ada yang membagi mejadi tiga bagian, sebagaimana Imam Syafi’i. Sebagaimana pernyataan santrinya :

وقال الربيع بن سليمان: «كان الشافعي جزَّأ الليل ثلاثة أجزاء: الأول يكتب، والثاني يصلي، والثالث ينام».

Rabi bin Sulaiman berkata, “Imam Syafi’i membagi malam menjadi 3 bagian” : pertama, untuk menulis (kitab). Kedua, untuk shalat (ibadah). Ketiga, untuk tidur.

Imam Bukhari, ahli hadits waktu malamnya sering bangun belasan kali bahkan sampai 20 kali. Jika beliau tidur habis Isya’, maka sampai Subuh beliau bangun per 1/2 jam. Bahkan kurang dari setengah jam.

Apakah nyenyak tidurnya? Apakah tidak pusing? Inilah mungkin pertanyaan penuntut ilmu level budak. Beda kesenangan. Itulah cinta. Semoga kita semua bisa naik level. Wallahu a’lam bish shawab.*

Alumni Ponpes Annuqayah, Sumenep

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:45 tahun Hidayatullahilmupenuntut ilmuTullabul Ilmi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya PBB Menolak Pengajuan Saudi sebagai Dewan Hak Asasi Manusia, Sementara Rusia dan China Terpilih
Tulisan selanjutnya Para Pemimpin Palestina Serukan ‘Israel’ untuk Membebaskan Tahanan yang Memasuki Hari ke-80 Aksi Mogok Makan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya

Berita
1 September 2026 09:01
Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang
Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
Bahtsul Masail Qanuniyah Muktamar ke-35 NU akan Bahas RUU Perampasan Aset
Nyamuk Datang Naik Pesawat Dua Pekerja Bandara Jerman Meninggal Karena Malaria

Terbaru

  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?