Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Membaca Sisi Lain A. Hassan: Sebagai Orang Tua Berjiwa Pendidik

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 5 November 2020 15:28 3:28 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 5 November 2020 15:28
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | PADA bulan Oktober 2020 ini, ada buku tahun 30-an yang diterbitkan kembali terkait karya almarhum Ustadz A. Hassan. Buku ini sedikit banyak memberikan gambaran lain dari sosok A. Hassan, terutama dalam sisi pendidikan dan nilai-nilai akhlak yang masih relevan ditanamkan pada anak-anak muslim.

Judul bukunya “Hai, Anak Cucuku! Nasihat seorang tua yang telah hidup lama, banyak melihat, banyak mendengar, dan banyak mengalami hal-hal dunia kepada putranya dan kepada anak-anak seumur dengan mereka.” Diterbitkan oleh Penerbit Al-Muslimun Bangil. Sedangkan editornya adalah Artawijaya, alumni Pesantren Persis Bangil.

Awalnya, buku ini adalah merupakan karya terpisah yang ditujukan untuk anak dan cucu A. Hassan. Kemudian pada penerbitan terbaru ini, dijadikan satu dengan tanpa mengurangi subtansi da nisi dari karya aslinya bahkan terlihat lebih menarik dan semakin utuh.

Buku ini terdiri dari empat bab. Bab pertama membahas tentang kesopanan, perangai terpuji dan kelakuan baik. Sedangkan bab kedua membincang tentang perangai buruk dan kelakuan jahat. Adapun bab ketiga mengupas tentang perdagangan, pertukangan dan perusahaan. Pembahasan pada bab terakhit berkaitan dengan pelajaran, kesehatan, persenaman, perkawinan, pendidikan dan lain-lainnya.

Buku setebal 332 halaman ini sangat dianjurkan untuk dibaca bagi para orang tua dan anak agar lebih sadar dan perhatian kepada pendidikan Islam. Di dalamnya bukan hanya mengajarkan nilai penting akhlak luhur, kesopanan, dan akhlak buruk (yang perlu dihindari), tapi juga tentang hal-hal yang tidak kalah penting untuk mengajarkan anak hidup mandiri atau tidak bergantung pada belas kasihan orang lain.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Dalam bab pertama, butir-butir nasihat di antaranya tentang kesopanan kepada ibu-baoak, datuk-nenek, orang tua, saudara tua dan seterusnya. Sedangkan akhlak luhur seperi melawat orang sakit, mengurus tamu, jujur, adil dan seterusnya. Bahkan, anak-anak sejak dini ditanamkan rasa percaya diri. Bab ini ditutup dengan pembahasan adab-adab keagamaan dan di tempat umum.

Sedangkan di antara pokok bahasan pada bab dua misalnya: sifat dustas, khianat, mencuri, menipu, aniaya dan seterusnya yang harus dijauhi. Bahkan, urusan rokok, onani dan liwath (homo) juga dibahas agar anak-anak sejak dini tidak terpengaruh oleh budaya-budaya yang tak baik.

Adapun bab ketiga lebih mengarah pada nasihat-nasihat tentang kemandirian anak dalam hidupnya. Berbagai jenis keterampilan yang bisa membuat anak mandiri diterangkan di sini misalnya: cara berdagang, pertukangan kayu, reparasi jam, bertani, beternak, menjadi guru, hakim, pengarang dan seterusnya. Bab ini ditutup dengan pembahasan menarik tentang menjaga waktu.

Bab terakhir berisi tentang aneka nasihat berbagai masalah seperti arahan tentang buku-buku apa saja yang penting untuk dibaca, cara menjaga kesehatan, masalah permainan, nyanyian, bela diri, hubungan suami-istri, model pakaian islami, sikap terhadap pemimpin, membela bangsa, meniru Barat dan lain sebagainya. Bab ini ditutup dengan pembahasan tentan berdoa.

Buku ini –sebagaimana yang ditulis oleh editor—diharapkan bisa menjadi bahan bacaan secara luas bagi generasi millenial. Bahkan diharapkan juga bisa menjangkau khalayak yang lebih luas.

Salah satu hikmah yang bisa dicicipi oleh pembaca yang budiman misalnya quote A. Hassan berikut: “Pemberian Tuhan kepada kita sebilah lidah, tidak sepasang seperti telinga dan mata, yang dindingnya dengan dua bibir dan dipagarnya dengan tangkupan dua jejer gigi, adalah mengandung arti, bahwa lidah itu, suatu benda yang lebih perlu tersimpan daripada terdedah dan lebih baik diam daripada bekerja.”

Mungkin di antara para pembaca pernah menikmati karya A. Hassan berjudul “Kesopanan Tinggi”. Dalam buku ini, hal itu lebih diperdalam dan lebib aplikatif terutama dalam kaitannya dengan pendidikan anak. Bahkan dalam nasihat-nasihat yang tertuang dalam buku ini lebih kaya kontennya.

Bagi yang ingin melihat sosok A. Hassan sebagai ayah yang mendidik anak-anaknya melalui untaian nasihat luhur, maka buku ini layak untuk dijadikan koleksi dan diambil mutiara hikmahnya. Mungkin apa yang dihadapi A. Hassan pada tahun awal buku itu ditulis konteksnya ada berbeda dengan yang terjadi sekarang, namun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya senantiasa relevan untuk dibahas. Karena, masalah akhlak misalnya, adalah hal yang tidak akan lekang oleh waktu.

Hal menarik dari tulisan yang ditulis A. Hassan ini adalah konsistensi beliau antara nasihat dan kenyataan. Misalnya dalam hal menjaga waktu. Saat masih kecil, A. Hassan sudah terbiasa disiplin waktu. Maka tidak heran ketika hendak belajar Ilmu Nahwu dan Sharaf kepada Haji Muhammad Taib, beliau rela walau harus menjalani syarat datang lebih dini sebelum waktu salat subuh tiba dan tidak boleh naik kendaraan dan itu berjalan hingga empat bulan. (Subhan, 200: 81).

Kisah lain yang tidak kalah penting terkait kedisiplinan A. Hassan dalam soal waktu ialah beliau lebih mendahulukan pentingnya kaderisasi daripada perkerjaan sendiri. Salah satu bentuk disiplin A. Hassan ialah menghentikan pekerjaan rumahnya untuk melayani para pemuda yang ingin belajar seperti Natsir.

Sampai menjelang akhir hayatnya pun, beliau adalah sosok yang berdisiplin waktu. Saat kakinya dipotong karena sakit (pen: yang pernah saya dengan adalah diabetes), beliau sudah menyiapkan catatan kecil yang berjudul; “Ringkasan Riwayat Kaki Saya Dipotong, tertanggal: Surabaya, 1 Oktober 1957”. Maksud dari catatan ini beliau sampaikan kepada Tamar Djaja yang saat itu sedang membesuk, beliau berkata, “Tuan akan tahu riwayat dipotong itu, dan saya tidak capek dan tidak buang tempo untuk menjawab pertanyaan yang tentunya serupa. Jadi kalau saya jawab itu ke itu juga, kita kan rugi waktu. Sekarang mari kita ngomong soal lain-lain jang ada gunanya.” (Tamar Djaja, 1980: 140).

Kisah itu menunjukkan bahwa beliau sebagai ayah dan pendidik sudah melakukan terlebih dahulu sebelum menasihatkan kepada anak-anaknya. Sebagai penutup, berikut ini akan disebutkan untaian nasihat beliau mengenai menjaga waktu:

“Jangan sekali-kali engkau undurkan sesuatu urusanmu daripada waktu yang sudah engkau catat itu (yang sudah direncanakan). Selain dari itu sumua, pekerjaan yang dapat engkau kerjakan sekarang, janganlah engkau tangguhkan buat sebentar lagi, tetapi kerjakan sekarang juga, karena sebentar lagi, engkau juga yang mesti kerjakan. Kalau tidak engkau kerjakan sekarang, bisa jadi, sebentar lagi ada satu hal yang menghalangimu daripada menunaikannya, dan dengan sebab itu, bisa jadi sesuatu kesalahan, kerugian, kerusakan, atau lain-lain yang tak diingini.” (Hal. 255).*/ Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:A. Hassananak milenialpendidikan anak
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sejarah perang di bulan ramadhan Terkadang Kita Memilih Perang
Tulisan selanjutnya Ulama Madura Sambut Tajul Muluk dan Pengikutnya Kembali: Selamat Datang dalam Keluarga Ahlussunnah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Berita
30 Mei 2026 13:05
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?