Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Bad Ischl, Kota Spa yang Nyaman dan Aman

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 12 Januari 2021 08:05 8:05 am
Insan Kamil
Dipublikasikan 12 Januari 2021 08:05
Bagikan
Islamische Kultur Zentrum
Bagikan

Islam menjadi minoritas di Austria. Namun hal tersebut tidak membuat saya merasa lemah dalam ibadah. Wanita asli Bandung, Jawa Barat ini telah menetap lebih 10 tahun di Bad Ischl,  kota kecil di Austria. Berikut kisahnya

 

Hidayatullah.com | TAK  pernah terbayang saya akan hidup di negara yang Muslimmya menjadi minoritas. Ya, 17 tahun sudah saya tinggal di Austria, tepatnya di kota Bad Ischl.

Saya menikah dengan orang Austria sejak tahun 2000 silam. Alhamdulillah kami telah memiliki dua orang anak.

Kota kecil yang dikenal dengan kota spa ini terletak di bagian selatan Upper Austria (Austria Atas. Kenapa disebut kota spa?

Tahun 1563 ditemukan dan dibuka tambang garam. Kemudian tahun 1571 dibuka kolam penguapan garam (Saline). Di awal abad ke-19, air asin mulai digunakan untuk keperluan medis. Sejak saat itulah Bad Ischl menjadi resor spa dan dikunjungi oleh tamu-tamu terkenal, termasuk Pangeran Klemens Wenzel von Metternich dan Archduke Franz Karl dari Austria.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Sungguh nyaman tinggal di kota kecil yang dikelilingi pengunungan dan pemandangan alam berupa danau yang bersih dan cantik ini. Penataan kotanya rapi, sarana dan prasana kota lengkap sehingga penduduk di sini mudah melakukan aktivitas sehari-hari.

Masjid dan Kegiatannya

Penduduk Austria mayoritas menganut Kristen atau Katolik. Itulah sebabnya jumlah masjid sedikit dan agak sulit dicari.

Saya sendiri sering mengunjungi sebuah masjid yang letaknya tidak jauh dari rumah. Namanya Islamische Kultur Zentrum. Masjid itu didirikan dan dikelola oleh imigran dari Turki. Imam masjidnya juga berasal dari negara itu.

Kegiatan di masjid itu bermacam-macam. Seperti shalat Jumat, belajar mengaji seperti TPA untuk anak-anak setiap hari Sabtu dan Ahad, pengajian untuk ibu-ibu setiap hari Ahad usai shalat Zhuhur, dan sebagainya.

Shalat Idul Fitri dan Idul Adha juga dilakukan di masjid, namun diprioritaskan untuk laki-laki saja karena tempat yang terbatas. Areanya memang tidak terlalu luas. Suara adzan pun hanya boleh dikumandangkan di dalam masjid.

Pelaksanaan shalat di hari raya tidaklah mudah. Jika tidak bertepatan dengan hari libur Sabtu atau Ahad, maka tidak ada libur khusus untuk anak-anak sekolah dan karyawan. Begitu pula shalat Jumat, harus disesuaikan dengan jadwal istirahat para pekerja.

Namun Pemerintah Austria memberi izin dan kemudahan bagi kaum wanita untuk mengenakan busana Muslimah (berjilbab). Asal tidak menggunakan cadar, karena bisa didenda sebesar 150 euro.

Itulah porsi toleransi yang diberikan kepada kami. Meskipun begitu, saya pribadi sangat bersyukur karena pemerintah setempat masih mengizinkan kami yang Muslim untuk melakukan berbaga ritual ibadah. Nyaris tidak ada pandangan atau sebutan semisal teroris sebagaimana yang banyak diberitakan negatif di media internasional.

Tampaknya hanya saya satu-satunya Muslim Indonesia yang tinggal di Bad Ischl. Selama 17 tahun terakhir ini saya belum pernah bertemu dengan Muslim Indonesia, kecuali turis atau mahasiswa Indonesia yang hanya sekadar pelesir saja.

Saya bergabung dengan komunitas Muslim yang anggotanya dari Pakistan, Bosnia, Turki, Suriah, dan Afghanistan. Kegiatan-kegiatan komunitas ini salah satunya kegiatan sosial tahunan seperti membantu para lansia (Muslim dan non-Muslim), kerja bakti membersihkan sampah, buka puasa bersama dengan mengundang Muslim dan non-Muslim, dan banyak kegiatan lain. Indah rasanya.

Soal makanan halal, tentu bukan hal yang mudah. Kita bisa menemukannya di area masjid, salah satu tempat yang ada penjual makanan halal seperti daging. Biasanya barang-barang tersebut berasal dari Turki.

Jika kita ingin makan di restoran, carilah restoran Turki, yang pemiliknya juga orang Turki. Biasanya ada tanda halal di depan restoran. Begitu juga supermarket Turki, banyak menjual makanan halal.

Sistem Pendidikan

Secara umum, pendidikan bagi anak-anak pra-sekolah bisa dilakukan anggota keluarga secara bergantian. Juga ada fasilitas Kindergarten (TK) untuk anak berusia di atas tiga tahun dan Krabbelstube (tempat penitipan anak) untuk anak berusia antara satu hingga tiga tahun. Waktunya bisa sehari penuh atau setengah hari dengan membayar sejumlah biaya.

Saya sendiri memasukan anak-anak ke public school (sekolah umum). Alhamdulillah di sekolah tersebut anak-anak mendapatkan pelajaran agama (Islam) selama satu jam seminggu sekali.

Tentu saja pelajaran agama yang diberikan sesuai dengan agamanya masing-masing. Sekolah menyediakan guru bidang studi untuk masing-masing agama.

surga tersembunyi di kota Bad Ischl

Selanjutnya ada Volks Schule untuk anak usia empat tahun. Itu setara dengan SD di Indonesia. Setelah beres empat tahun dapat melanjutkan ke Mittel Schule bagi anak-anak yang kemampuan akademiknya cukup atau kurang. Sedangkan bagi anak yang kemampuan akademiknya good (baik) dan excellent (amat baik) bisa masuk Gymnasium selama empat tahun.

Setelah itu dapat melanjutkan ke matura, sekolah tehnik, dan lain-lain, selama empat tahun juga. Kemudian bisa melanjutkan ke universität. Bahasa Jerman menjadi bahasa pengantar resmi di sekolah.

Bangunan Sejarah

Di Bad Ischl terdapat Sommer Resident, sebuah bangunan bersejarah dari zaman Kaisar Franz Josef. Terlahir dengan nama lengkap Franz Joseph Karl, lahir di Firenze, Februari 1768, dan meninggal di Wina, Maret 1835, pada usia 67 tahun.

Sommer Resident adalah tempat tinggal Kaisar Franz Joseph. Disebut juga The Imperial Villa. Kaisar sendiri mendeskripsikannya sebagai surga dunia untuknya dan keluarganya.

Bangunan itu merupakan hadiah perkawinan dari ibu sang kaisar pada tahun 1854. Sampai sekarang bangunan terkenal itu masih berdiri kokoh karena memang dirawat dengan sangat baik.

Ada lagi peninggalan bersejarah yang disebut Zauner Café. Meski tidak bisa dipastikan kehalalan makanan yang ada di cafe terkenal ini, namun yang jelas tempat itu menjadi salah satu tempat tujuan para wisata lokal dan internasional.

Sekali waktu saya dan keluarga pernah berkunjung dan menikmati makanan yang sekiranya masih bisa dinikmati oleh kami yang beragama Islam. Tentulah harganya pun tidak murah.

Ada satu hal menarik pada diri warga Bad Ischl, yaitu jujur. Pemerintah mengelola berbagai kebijakan sedemikian rupa sehingga membuat warganya bermental jujur.

Itulah sebabnya, kalau Anda berkunjung ke Bad Ischl, tak perlu khawatir akan dicopet, dijambret, dan semacamnya. Di sini aman, insya’ Allah.*/ Sri Mulyani. Tulisan pernah dimuat di majalah Suara Hidayatullah

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Bad Ischlislam di austriaIslamische Kultur ZentrumKota Spa
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Manusia yang Bodoh dan Tuhan yang Maha Pengampun
Tulisan selanjutnya kematian Memindah Kuburan dari Tanah Wakaf

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Berita
4 Juni 2026 10:00
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?