Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

Dikukuhkan Profesor, Hamid Zarkasy Gigih Mengkaji Barat dari Dusun

Bambang S
Terakhir diupdate: 1 Februari 2021 14:26 2:26 pm
Bambang S
Dipublikasikan 1 Februari 2021 16:00
Bagikan
Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi Direktur Program Pascasarjana Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor
Bagikan

Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil

Hidayatullah.com–Pemerintah baru saja mengangkat Hamid Fahmy Zarkasyi sebagai guru besar filsafat. Tentu ini kabar gembira bagi umat Islam di Indonesia.

Hamid, demikian biasa dipanggil, dikenal gigih mengkaji peradaban Barat. Di antaranya, ia pernah menulis buku berjudul Misykat, Refleksi  tentang Westernisasi & Liberalisasi.

 Di lihat judulnya jelas, buku ini  berisi tanggapan terhadap pembaratan dan liberalisasi Islam. “Pemikiran harus dihadapi dengan pemikiran, tidak bisa dengan demo,” kata Hamid yang pernah  menjadi Direktur INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations), sebuah lembaga penelitian dan kajian yang sangat konsen pada kajian pemikiran dan peradaban.

Putra KH Imam Zarkasyi, pendiri Pesantren Darusallam, Gontor, Ponorogo ini juga membuat Program Kaderisasi Ulama (PKU) di ISID. Program ini diikuti ulama-ulama muda dari berbagai pesantren dan berlangsung selama 6 bulan. Kini, sudah berjalan 13 angkatan.

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

“Tujuannya membekali para ulama agar paham soal peradaban Barat dan mampu menangkal virus-virus pemikiran dari Barat yang merusak Islam,” jelas Hamid yang meraih doktor dari Malaysia ini.

Di UNIDA pula Hamid mendirikan Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS). Lembaga kajian ini aktif menggelar kajian-kajian, terutama terkait dengan peradaban Islam dan Barat.

Apakah dengan demikian Hamid anti Barat? Untuk mendapat jawabannya, di suatu malam beberapa waktu lalu, Bambang Subagyo  dari Hidayatullah.com menemui Hamid di kantornya. Berikut petikan obrolannya:

Anda sangat kritis terhadap Barat. Tak takut dituduh anti Barat?

Orang yang menuduh begitu, kebanyakan tidak memahami Barat. Itu satu. Kedua, mereka kebanyakan pemahaman Islamnya tidak scientific (ilmiah). Ketika saya menjelaskan perbedaan Barat dengan Islam, orang tersebut berkesimpulan begini: mengapa kita harus membeda-bedakan Islam dan Barat, yang pada akhirnya kita akan melakukan pemilahan: kafir atau bukan. Kalau kafir maka layak dibunuh. Inilah, katanya, yang menyebabkan terorisme.

Jawaban Anda?

Jawaban saya gampang saja. Kita membicarakan Islam dan Barat bukan dalam konteks ideologi, tapi dalam  konteks epistimologi atau ilmu. Tugasnya ilmuwan adalah  membedakan, kalau tidak mampu membedakan bukan ilmuwan namanya.

Membedakan konsep-konsep Islam dan Barat itu wajib bagi kita. Al-Qur`an sendiri julukannya al-furqan, pembeda atau penjelas. Jika kita tak bisa membedakan mana yang Islam dan mana yang tidak, kapan kita beridentitas Muslim. Jika Barat dan Islam sama, kita tak perlu identitas.

Lalu mengapa saya mengkritik Barat? Di dunia ilmiah kritik itu biasa. Jangankan kita, orang Barat sendiri mengkritik Barat. Lantas, mengapa kita mengkritik Barat jadi salah. Itu berarti, orang yang mengkritik saya jelas pro Barat. Atau ia terlalu memuja Barat, sehingga saat Barat dikritik, ia marah.

Apa sisi negatif Barat sehingga Anda begitu kritis?

Barat itu peradaban yang punya karakter sendiri yang  sangat berbeda dengan Islam. Karena itu, kita mesti berhati-hati bila ingin mengambil atau diberi sesuatu dari Barat, sebab bisa jadi sangat bertentangan dengan Islam. Dalam hal ini, kita tidak bisa pakai ukuran baik atau buruk. Sesuatu yang buruk menurut kita, bisa jadi baik  bagi barat. Contohnya, hidup bersama tanpa nikah. Bagi masyarakat Barat itu baik-baik saja, sejauh tidak mengganggu orang lain dan mereka suka sama suka.

Sisi lain lagi, inti dari peradaban adalah worldview (pandangan hidup). Nah, worldview yang satu tidak bisa mengkritik atau menyalahkan worldview yang lain. Masing-masing merasa worldviewnya yang paling baik dan benar. Itu wajar dan memang harus begitu.

Barat dalam konteks ini bukan persoalan letak geografis, tetapi lebih mencerminkan pandangan hidup atau suatu peradaban. Pandangan  hidup Barat, seperti dijelaskan Hamid di dalam buku Misykat, cirinya adalah scientific worldview (pandangan hidup keilmuan). Artinya, cara pandang terhadap alam ini melulu keilmuan dan tidak lagi religius.

Menurut pandangan Barat, hal-hal yang tidak dapat dibuktikan secara empiris tidak dapat diterima, termasuk metafisika dan teologi.

Ciri dari worldview yang saintifik itu, masih kata Hamid di dalam buku Misykat, tercermin dari berkembangnya paham-paham seperti empirisisme, rasionalisme, dualisme, pragmatisme dan sebagainya. Paham-paham  itu semua otomatis meminggirkan agama dari peradaban Barat.

Lantas, mana yang lebih baik antara peradaban Barat dan peradaban Islam?

Pandangan kita sebagai Muslim adalah Islam punya konsep tersendiri, sedangkan Barat juga punya konsep sendiri. Keduanya tidak bisa dicampuradukan.  Jadi, kita tidak bisa mengukur Barat dengan Islam, pun sebaliknya. Orang Barat tidak bisa mengukur Islam dengan Barat. Menggunakan terminologi Barat untuk memahami Islam juga tidak bisa. Ini yang harus kita jaga.

Yang bisa kita lakukan adalah berkompetisi, begitu?

Iya. Dalam bahasa Al-Attas (Prof Dr Syed Mohammad Naquib al-Attas, gurunya Hamid di ISTAC/The International Institute of Islamic Thought and Civilization) terjadi konfrontasi abadi. Keduanya tidak akan pernah cocok karena worldview-nya memang beda. Itu belum pada  tataran konsep, misalnya konsep keluarga beda, konsep pendidikan beda. Pokoknya hampir semuanya beda.

Maka yang diperlukan adalah dialog peradaban, bukan dialog agama. Sayangnya, Barat menganggap Islam itu sekadar agama. Barat tidak mau melihat Islam sebagai peradaban, sebab mereka memang ingin menguasai. Seakan Barat berkata begini, “Islam agama sajalah, peradaban kita yang ngatur. Kamu di masjid saja, politik, ekonomi kita yang ngatur.” Karena itu, mereka tidak pernah bicara Islam sebagai peradaban.

Bagaimana agar kita bisa memenangkan konfrontasi itu?

Menurut saya, kita harus kembali kepada tradisi ilmu. Kita kalah pada bidang ini. Karena itu, kita harus memperkuat ilmu. Dan ilmu adanya di lembaga pendidikan. Lembaga pendidikanlah yang mencetak individu-individu, sedangkan masyarakat  terbentuk dari individu-individu yang banyak. Permasalahannya, bagaimana kita mau membentuk masyarakat yang baik kalau lembaga pendidikannya tidak efektif.

Jika masyarakatnya berkualitas, ia tidak akan bisa dikuasai. Sebab, ia punya ilmu dan sistem yang menjadi filter untuk menyeleksi. Sekarang ini, hampir semua sistem pendidikan di negara-negara Islam dikuasai oleh Barat.

Al-Attas menyadari itu, makanya ia menyeru umat Islam agar punya universitas sendiri guna mengembangkan ilmu-ilmu Islam. Dengan  ilmu itu selanjutnya melakukan islamisasi ilmu-ilmu dari Barat. Dengan itu Barat tak lagi bisa menghegemoni, karena kita mampu menyeleksi.

Apa nilai yang Anda tangkap dari ayahanda?

Waktu kelas V (di Gontor) saya disuruh menulis cerita beliau ke dalam bahasa Arab. Itu untuk melatih bahasa Arab saya. Waktu mahasiswa beda lagi. Saya diberi buku dan disuruh baca. Minggu depannya saya diminta cerita isi buku tersebut.

Saya oleh beliau diobsesikan seperti Mukti Ali, mantan Menteri Agama. Dia memperoleh gelar doktor dari Pakistan, karena itu saya dikirim ke sana juga. Waktu saya berangkat itulah pertemuan saya terakhir dengan Ayah. Saat saya di Pakistan beliau wafat. Sebelum meninggal, beliau sempat berpesan, “Kamu harus meraih doktor. Ilmumu tak hanya bermanfaat bagi Gontor, tapi juga Indonesia.” Alhamdulillah, saya bisa menjalankan wasiat  beliau.*

 

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Gontorguru besar filsafatguru besar filsafat islamguru besar unidahamidHamid Fahmy ZarkasyHamid Fahmy ZarkasyiHamid Zarkasyiprof unidaprofesor filsafatprofesor filsafat islamUNIDA
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Islam Kaafah di Era New Normal
Tulisan selanjutnya Abu Janda Diperiksa Polisi Soal Cuitan “Islam Arogan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Berita
4 Juni 2026 11:00
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?