Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Jendela Keluarga

Anak Salah vs Anak Sholeh

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Februari 2021 18:23 6:23 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Februari 2021 18:23
Bagikan
[Foto: Syakur]
Bagikan

Hidayatullah.com | “Kejahatan bisa datang dari keshalihan”. Demikian ungkap Umberto Eco dalam novelnya, The Name of the Rose.

Kalimat tersebut sempat tampil di Jawa Pos pada Jumat 27 Maret 2015 pada kolom Jati Diri. Tulisan tersebut menarik untuk disimak sekaligus dicermati, berkaitan dengan banyaknya fenomena kejahatan yang ditengarai pelakunya “anak shaleh”.

Tulisan Masdar Hilmy di Jawa Pos 27 Maret 2015 pada kolom opini yang berjudul Anak Muda di Tengah Pusaran Radikalisme, seakan mempertegas statement tersebut. Masdar menulis, keterlibatan kaum muda dalam pusaran ideologi radikalisme dan terorisme sudah mencapai level yang menghawatirkan.

Berbagai aksi kekerasan yang bernuasa ideologi radikalisme yang kebetulan diperagakan sebagian pemuda menjadi bukti di tengah masyarakat. Beberapa kasus yang ditengarai sebagai luapan aksi radikalisme seperti bom bunuh diri baik di dalam negeri ataupun luar negeri selalu melibatkan peran anak muda.

Baca: Apakah Anak anak Kita Calon Anak Sholeh

Baca Juga

Anak Saleh Buah dari Kesalehan Orang Tua?
Muharram, Momen Terbaik Menjadi Ibu Terbaik
Kecantikan Muslimah Sejati
Sebab-sebab Durhaka Istri kepada Suami
Anak Shalih dan Shalihah Takdir Allah, Kita Terus Berusaha

Penyesatan Opini

Sebuah ungkapan mengatakan “If you repeat a lie often enough, it becomes truth”. Jika anda mengulang suatu kebohongan cukup sering, maka kebohongan tersebut bisa menjadi kebenaran.

Maksud ungkapan diatas adalah, jika sebuah kebohongan atau keburukan selalu diulang-ulang, maka lama kelamaan akan diterima dan kelak kebohongan tersebut menjadi sebuah kebenaran. Begitupun sebaliknya, jika kebaikan atau kebenaran selalu dicitrakan buruk, selalu disiarkan negatif, maka lama kelamaan kebaikan tersebut dianggap keburukan.

Shalih yang sejatinya baik, tetapi bila terus disiarkan dan citrakan buruk, maka bukan tidak mungkin akan tercipta sebuah paradigma buruk pada kata shalih tersebut. Jadi anak yang dianggap shalih atau diindikasikan shalih, akan dijauhi masyarakat bahkan orang tuanya sendiri.

Ustad Budi Ashari,Lc mengatakan  “para orang tua banyak yang khawatir begitu melihat anaknya berubah menjadi baik. Seorang ibu ketakutan melihat anaknya liburan dari pesantrennya. Karena melihat pakaian putrinya itu sangat rapi menutup aurat sesuai syariat Isalam. “apa anak saya sudah kerasukan pemikiran radikal?”

Para orang tua ketakutan apabila mendapati putrinya tiba-tiba memakai jilbab bila keluar rumah, membaca Al-Qur’an setiap hari di kamarnya, rajin puasa senin kamis, dan buah hatinya tidak mau berjabat tangan dengan sembarang pria karena alasan bukan muhrim. Dampaknya bukan orang tua saja yang khawatir anaknya menerapkan syariat Islam.

Kekhawatiran pun muncul di sekolah tempat anak menimba ilmu pengetahuan. Beberapa sekolah di tanah air sempat melarang siswinya menggunakan jilbab. seperti yang terjadi disebuah Sekolah Negeri di Bali pada November 2014.

Bentuk penghakiman seperti di atas sungguh sangat berbahaya. Ibarat virus, ia akan menggorogoti mind set  masyarakat khususnya para orang tua. Hari ini mungkin pikiran para orang tua belum terpengaruh. Tetapi siapa yang menjamin di hari esok?

Bagaimanapun, pernyataan-pernyataan tidak produktif sepeti itu akan menghancurkanpertahanan positif thinking mereka pada ajaran agamanya sendiri, yaitu menjadi muslim sejati. Jika terus dibiarkan, maka suatu hari kita akan menemukan para orang tua lebih nyaman melihat anaknya menjauh dari masjid, memberi wejangan agar jauh dari kajian keislaman di sekolah dan kampus.

Karena melihat orang tuanya yang gamang seperti itu, maka anak pun mengambil jalan hidup  sendiri yaitu  bergaul tanpa batas, nongkrong di kafe dan pinggir jalan, tidak pernah alpa dan lupa di tempat maksiat. Perlu dicatat, anak yang berkubangan maksiat, penuh dosa tidak akan memberikan aura positif.

Bahkan tidak ada jaminan sepotong doa muncul dari bibir anak salah alias ahli maksiat. Anak seperti inikah yang kita inginkan? Tentunya tidak.

Baca:  Anak Sholeh Investasi Tak Pernah Rugi

Memahami Makna Anak shaleh

Menurut arti kata, shalih adalah adalah taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah. Sedangkan dalam buku Golden Ways Anak Sholeh, karangan Zainal Abidin bin Syamsuddin,  mendefinisikan, anak shalih adalah dambaan hati, kebanggan dan simpanan berharga bagi orang tua, tempat berkeluh kesah disaat usia senja, tempat berbagi duka dikala nestapa, dan tempat bertumpunya harapan orang tua di masa yang akan datang setelah harapan kepada Allah Ta’ala.

Hanya anak shalih-lah, sambungnya, yang akan bisa mencurahkan pikiran, tenaga, harta dan waktu untuk merawat dan menjaga orang tua selagi hayat masih dikandung badan.  Sebaliknya, tidak ada orang tua yang mengharapkan anak salah atau durhaka. Para orang tua tidak menghendaki anaknya justru menjadi musuh baginya.

“Perbedaan anak salah dan shaleh/at jelas terlihat. Anak salah tetaplah salah dalam semua aspek”

Sebagaimana dalan Al-Qur’an, At-Taghabun:14

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ مِنْ أَزْوَٰجِكُمْ وَأَوْلَٰدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَٱحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِن تَعْفُوا۟ وَتَصْفَحُوا۟ وَتَغْفِرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Hai orang-orang yang mukmin, sesungguhnya diantara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi mush bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.” (QS: at-taghabun:14).

Baca: Kumpulan Doa Mustajab Menjadikan Anak dan Zuriat Sholeh dan Sholihah dalam Al-Quran dan Hadits

Anak Shaleh Dambaan Orang Tua

Mempunyai anak shaleh, orang tua mana yang tidak ingin. Anak shalih akan senantiasa mengalirkan kebaikan kepada orang tuanya, meskipun keduanya telah tiada.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu Nabi bersabda;

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Ketika seorang manusia meninggal, maka putuslah amalannya darinya kecuali dari tiga hal, (yaitu) sedekah (amal) jariyah, atau ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR: Abu Hurairah).

Di akhirat kelak, derajat orang tuanya bisa terangkat berkat istighfar anaknya shalihnya. Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِيْ الْجَنَّةِ فَيَقُوْلُ : يَا رَبِّ أَنىَّ لِيْ هَذِهِ ؟ فَيَقُوْلُ : بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sungguh, Allah benar-benar mengangkat derajat seorang hamba-Nya yang shaleh di Surga,”Maka ia pun bertanya: “Wahai Rabbku, bagaimana ini bisa terjadi?” Allah menjawab: “Berkat istighfar anakmu bagi dirimu”. (HR. Ahmad, no. 10232).  

Baca: Wahai Ibu, Bernadzarlah agar Anakmu Berkhidmat untuk Umat!

Siapapun orang tua yang sadar dan beriman, pasti mendambakan doa buah hatinya. Dan anak yang bisa mendoakan orang tuanya hanyalah anak shalih. Sekali lagi, hanya anak shalih lah yang bisa memohon kepada Rabnya agar sekiranya Allah Ta’ala mengasihi orang orang tuanya, sebagaimana dia dikasihi orang tuanya sewaktu kecil. Sebagaimana firman Allah swt dalam Al-Qur’an, surat Al Isra’:24 :

“Dan ucapkanlah, wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagai mereka telah mendidik aku waktu kecil.”

Sebagai penghujung tulisan, perbedaan anak salah dan shaleh jelas terlihat. Anak salah tetaplah salah dalam semua aspek.

Ia yang salah, tidak akan pernah memberikan dampak kebaikan pada orang tuanya, masyarakat dan juga agamanya. Islam tidak pernah menyuruh orang tua melahirkan anak salah, keberadaannya hanya membuat tatanan kehidupan semakin buruk.

Sebaliknya anak shaleh adalah anak yang selalu menenteskan kebaikan dimanapun ia berada. Ia akan dibanggakan dan dicintai orang tuanya, masyarakatnya dan juga agamanya. Wallahu A’lam bisshowab.*/Syamsul Alam Jaga

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:akheratAnak Salahanak sholehdoaorang tuaShalihat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Buya Anwar Abbas: MUI Minta Indonesia Upayakan Sri Lanka Tak Menutup Sekolah Islam Muhammadiyah Mengajak Semua Bijak Sikapi Penggunaan Dirham Pasar Muamalah
Tulisan selanjutnya Soal Insentif Nakes, Fadli Zon: Mereka Pahlawan Masa Kini, Harusnya Dinaikkan Bukan Dipotong

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Berita
4 Juni 2026 10:00
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

5 Tips Mendidik Anak agar Cinta Ramadhan
Jendela Keluarga

Sudahkah Anak Kita Diajarkan Akidah?

3 Desember 2022 20:55
Jendela Keluarga

Menjadi Ayah yang “Mesra” dengan Anak

26 November 2022 07:10
Jendela Keluarga

Akhlak Muslimah, Lembutlah dalam Bicara

8 November 2022 21:45
Jendela Keluarga

Hakikat Wanita Shalihah

4 November 2022 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?