Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Polarisasi Seolah-olah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 24 Juni 2021 12:03 12:03 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 Juni 2021 11:00
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com | Menggabungkan Jokowi-Prabowo versi Muhammad Qodari dengan jalan mengajukan Jokowi maju lagi untuk tiga periode, dan tentu akan dilakukan amandenen pada Pasal 7 UUD 45. Itu sebuah wacana tidak sekadarnya. Soal nantinya diterima atau tidak, itu soal lain.

Dengan dipertemukan dua orang itu, Jokowi-Prabowo, menurutnya tidak akan ada lagi polarisasi antardua kubu. Antara kubu cebong dan kampret/kadrun. Pendapatnya itu banyak disanggah dan bahkan dimentahkan. Bukankah saat ini Prabowo Subianto ada dalam kabinet Jokowi, namun polarisasi masih tetap ada, dan justru berkembang.

Ray Rangkuti dari Lingkar Madani, menyanggah dengan pendapatnya yang bertolak belakang dengan yang diajukan Qodari. Katanya, kalau menghindari adanya polarisasi, kenapa tidak Jokowi maupun Prabowo yang ditinggalkan saja. Lebih kurang demikian pendapatnya. Bukan malah dipertahankan, dan cost nya lebih murah karena tidak perlu pakai “buka-tutup” amandemen UUD 45 segala.

Qodari dan relawan jokpro memang buat sensasi, coba-coba menawarkan sesuatu yang absurd. Tawaran yang belum tentu disetujui, baik kubu Jokowi apalagi Prabowo Subianto, yang memang sudah kebelet jadi Presiden RI sejak 2014.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Spekulasi Qodari, yang bisa dikatakan sebagai penggagas atau bahkan inisiator “coba-coba” Jokowi tiga periode, itu tentu tidak berdiri sendiri. Qodari bicara tidak di ruang hampa. Seperti asal bicara, tidak demikian.

Semua sudah diperhitungkan, dan ada nilainya. (Lihat, Wacana Qodari, Itu Pastilah Tidak Berdiri Sendiri, Senin/21 Juni). Maka coba-coba ala Qodari itu bisa disebut sebagai plan A, dan akan muncul plan B, C dan seterusnya. Ini kerja sistemik yang tidak bisa hanya dipandang sebelah mata.

Polarisasi “seolah-olah”, atau  “seolah-seolah” polarisasi yang dirisaukan seorang Qodari dan relawan jokpro, itu cuma isapan jempol, itu seolah ikhtiar mulianya agar polarisasi tamat, dan kita utuh lagi sebagai bangsa setidaknya sebelum Jokowi berkuasa.

Polarisasi yang Dipelihara

Polarisasi itu memang diadakan, atau setidaknya diadakan untuk tujuan tertentu. Siapa inisiatornya, pastilah sulit untuk mengurainya. Tapi pada saatnya jika itu akan diurai, maka akan terurai dengan sendirinya. Dan itu perkara mudah.

Karenanya, apa yang diinisiatori Qodari dengan argumen menghilangkan polarisasi, itu pastilah tidak akan menghilangkan polarisasi yang memang kehadirannya dihadirkan. Memelihara relawan dan munculnya buzzer yang semacam ternak, itu tanda bagaimana polarisasi memang diadakan untuk tujuan-tujuan tertentu. Itu realita yang ada.

Jika benar tujuan mulia hendak ditegakkan Qodari, maka ia seharusnya tidak melihat polarisasi hanya  diujungnya untuk diakhiri, tapi melihatnya mula awal munculnya polarisasi itu. Mustahil ia tidak faham, tapi lebih pada tidak sudi melihat itu sebagai persoalan utama. Maka memilih Jokowi tiga periode jadi pilihannya.

Plan A sudah dimainkan, apakah akan berhenti di tengah jalan sebagai keriuhan semata, atau akan terus menggelinding. Tidak ada yang tahu. Jika berhenti, maka plan B akan muncul. Bisa jadi perpanjangan jabatan Presiden dan Wakil Presiden yang sayup-sayup didengungkan, itu akan diperpanjang tiga tahun. Dengan bonus anggota DPR-RI pun akan diperpanjang juga menjadi tiga tahun. Dan lagi-lagi, itu akan “membongkar” pintu amandemen UUD 45.

Plan B, itu dimunculkan dengan argumen bahwa kerja Presiden dan Wakil Presiden tidak efektif selama masa pandemi, atau apapun alasan bisa dibuat untuk meloloskan rencana itu. Semua berpulang pada kesiapan rakyat untuk menerima atau menolak gagasan-gagasan absurd yang dihadirkan semata untuk melanggengkan kekuasaan. Jika plan B pun tertolak, maka plan C akan dimainkan.

Maka mengamandemen Pasal-pasal dalam UUD 45 untuk melanggengkan kekuasaan, itu bisa dilakukan rezim yang berkuasa kapan saja. UUD 45 tidak lagi jadi azimat sakral yang sulit dirubah sekenanya, tapi justru sebaliknya bisa dirubah semau kekuasaan menghendakinya. Rumus Qodari tentang polarisasi seolah-olah, mampu mengajarkan itu semua. (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Baca: artikel lain Ady Amar

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Jokowi-PrabowoMuhammad QodariPolarisasi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya video menghina nabi Video Remaja Wanita Mabuk Miras Menghina Nabi, Warganet: Kita Tunggu Permintaan Maafnya
Tulisan selanjutnya Sidang Habib Rizieq Ribuan Massa Hadiri Sidang Putusan Habib Rizieq Shihab di PN Jakarta Timur, 200 Orang Ditangkap

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Berita
30 Mei 2026 11:16
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Terbaru

  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?