Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ilahiyah Finance

Pizza Principle, Goat and Gold Connection

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 3 November 2011 07:20 7:20 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 3 November 2011 07:20
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhaimin Iqbal

Di New York Amerika Serikat konon ada fenomena yang sudah berjalan setengah abad hingga kini (sejak 1960) bahwa harga sepotong pizza selalu sama dengan harga tiket kereta bawah tanah di kota itu, bila salah satunya naik duluan maka yang lain menyusul segera.

Fenomena yang kemudian disebut Pizza Principle atau Pizza Connection ini sebenarnya bukan realita yang aneh atau kebetulan, barang atau jasa yang sifatnya riil akan cenderung naik beriringan yang dipengaruhi oleh faktor yang sama yaitu inflasi.
Inflasi akan mempengaruhi harga barang dan jasa secara paralel atau kenaikan yang sama untuk seluruh barang dan jasa yang tidak mengalami perubahan perimbangan dalam supply and demand-nya.

Fenomena yang lebih otentik dan sudah berlangsung lebih dari 1400 tahun adalah hubungan antara harga kambing kwalitas baik dengan Dinar yang cenderung sama yaitu satu kambing kwalitas baik setara satu Dinar.

Secara jangka panjang stabilitas ini bisa dibuktikan, tetapi tidak berarti dalam jangka pendek kondisinya pasti selalu sama. Mengapa demikian? ya faktor supply and demand itu tadi yang mempengaruhinya.

Baca Juga

Indonesia Masuk Peringkat Dunia dalam Keuangan Syariah, Perlu Pembenahan Kurikulum Lebih Baik
Cashback yang di Tawarkan Go-pay dan OVO, Haramkah?
Industri Pertanian Zaman Nabi
Makanan Yang Membuat Tidak Miskin
Industry 0.0

Untuk beberapa tahun terakhir ini kenaikan harga emas cenderung lebih tinggi dari harga kambing karena demand emas yang tumbuh dari segala penjuru, sementara kambing tetap terus di-kambing hitamkan sehingga untuk memakannya-pun orang takut. Tetapi saya sendiri yakin kesetaraan satu Dinar satu kambing yang sudah berjalan lebih dari 1400 tahun ini akan tetap demikian untuk jangka panjang hingga akhir zaman.

Bahwa realitanya saat ini satu Dinar lebih tinggi harganya ketimbang 1 ekor kambing kelas baik, ada dua kemungkinannya yaitu harga Dinarnya yang kemahalan atau harga kambingnya yang kemurahan.

Kemungkinan yang pertama harga Dinar atau emas kemahalan, sangat bisa jadi karena beberapa bulan terakhir memang naik secara tidak wajar dipicu oleh kepanikan global atas krisis keuangan yang meluas.

Satu krisis belum selesai muncul krisis berikutnya, satu kawasan belum pulih – kawasan lain baru mulai dst.

Kemungkinan kedua-pun sangat bisa jadi, karana pencitraan kambing yang begitu buruk di jaman ini; hal-hal negatif selalu dinisbatkan terhadap kambing seperti ‘kambing hitam’, kambing congek, kelas kambing, bau kambing, kolesterol dlsb.

Dampak dari pencitraan ini yang membuat pasar dan industri kambing tidak tumbuh, diluar Iedhul Adha nyaris tidak ada pergerakan pasar kambing yang berarti.

Padahal pasti bukan kebetulan kalau seluruh nabi menggembala kambing dan profesi yangakan ada hingga akhir jaman juga salah satunya adalah penggembala kambing, maka sangat mungkin ada potensi yang luar biasa tentang kambing ini yang mungkin akan mendongkrak harganya kedepan mengejar harga Dinar – sama dengan kejar mengejarnya harga pizza dan tiket kereta bawah tanah tersebut di atas.

Tetapi apa perlunya kita tahu korelasi kenaikan harga-harga barang dan jasa tersebut di atas? ada kesamaan yang terang Cenderang yang sering kita abaikan.

Pertama semua harga barang dan jasa cenderung naik bersamaan oleh inflasi, kedua adalah harga barang dan jasa akan naik karena pertumbuhan demand.
Maka bila kita gagal mengantisipasinya dengan meningkatkan penghasilan dan mempertahankan daya beli uang kita; kesejahteraan kita dan juga anak cucu kita akan mengalami penurunan.

Sebaliknya bila kita tahu barang dan jasa apa yang nilainya akan meningkat, atau yang demand-nya akan melebihi supply-nya kedepan maka pengetahuan ini bisa menjadi pembeda siapa-siapa yang bisa menangkap peluang dan siapa yang menjadi korban kenaikan harga .

Karena kita tidak hidup di New York dan mungkin juga tidak suka makan pizza; kita bisa mulai amati pergerakan harga kambing, harga emas, harga beras, harga bensin, biaya layanan kesehatan, biaya pendidikan dst. mana yang menjadi ancaman kemakmuran dan mana yang menjadi peluang kita. Wa Allah A’lam.

Penulis Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Nikah Mut’ah 2 Tahun Ala Meksiko
Tulisan selanjutnya Kaitkan Homoseks dengan Bantuan, PM Inggris Dikecam

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Berita
3 Juni 2026 16:00
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Ilahiyah Finance

Probiotic Food dan Prophetic Food

17 Juni 2020 08:00
Ilahiyah Finance

Syirkah “Orang-Orang Miskin”

11 Februari 2019 20:49
Hamas bitcoin
Ilahiyah Finance

Halal Haram Uang Kripto

11 Desember 2018 08:15
Ilahiyah Finance

Golden Balance: Financing the Needy

15 Agustus 2018 13:21
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?