Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Akhlak dan Adab Sebelum Mencari Ilmu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 28 Desember 2021 22:44 10:44 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 Desember 2021 06:00
Bagikan
Akhlak dan Adab di Atas Ilmu
Ilustrasi: adab
Bagikan

Akhlak dan adab menurut Islam merupakan hal yang harus dimiliki sebelum belajar atau mencari ilmu

Daftar isi
  • Akhlak dan Adab
    • Dapatkan Informasi Menarik Lainnya di Hidayatullah.com
          • Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Hidayatullah.com | DALAM sebuah postingan di sebuah media sosial, seorang ustadz menuduh Syekh Dr Yusuf Al Qaradhawi bukanlah ulama yang punya ilmu. Ia bahkan menyebut Al Qaradhawi tak perlu diambil ilmunya.

Tak pelak, pernyataan ini menimbulkan kehebohan di sejumlah kalangan umat Islam di medsos. Sebagai ulama Mesir yang sangat terkenal Tanah Air, Yusuf al-Qaradhawi bukanlah sembarangan orang. Ia adalah ulama moderat yang pernah menjadi ketua umum Persatuan Ulama Dunia (International Union of Muslim Scholars) dan sudah menulis 148 buku hingga usia senja beliau sekarang 94 tahun, penerima King Faisal International Prize.

Sebaliknya, dibandingkan al-Qaradhawi, pengkritik tidak memiliki rekam jejak yang jelas, baik secara intelektual (semisal jumlah buku yang telah ditulis) ataupun ketokohannya di kalangan umat Islam, baik lokal atau global.

Akhlak dan Adab

Berbeda pendapat bukan berarti harus bermusuhan dan memfitnah ulama lain yang bukan satu golongan dengan kita. Itu namanya kebusukan.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Sayangnya banyak dai-dai seperti ini tidak memilkiki kepasitas keilmuan serta memiliki dada yang lapang yang mampu menghargai perbedaan pendapat. Apa yang menimpa para dai ini sejatinya menunjukkan jurang yang menganga lebar (a great yawning gap) antara intelektualitas dan adab.

Problem ini sebetulnya menyiratkan bahwa sejumlah pendakwah kita terbentur dengan dua krisis akut.

Pertama, lokalisasi pemikiran

Ketertutupan bahkan resistensi terhadap pemikiran lain tak ada hubungannya dengan level pendidikan seseorang. Ia merupakan buah dari kesempitan jiwa.
Ron Ritchhart, seorang psikolog dari Universitas Harvard, menyatakan bahwa kecerdasan otentik lebih merupakan kebiasaan alih-alih hadiah. Ini adalah kecenderungan untuk ingin tahu tentang dunia di sekitar kita, untuk menghargai pemahaman dan pengetahuan daripada keyakinan dan pikiran tertutup.

Layaknya moralis yang selalu memperlakukan orang lain dengan adil dan hormat, seorang intelektual sejati bakal melihat dunia dan memperlakukan orang lain dengan pikiran terbuka dan rasa ingin tahu, bukan ‘sempit kalang’ karena kebencian dan kebodohan.

Keyakinan itu seperti palu. Ia terkadang menjadi alat yang hebat, tetapi lain waktu bisa menimbulkan masalah. Namun keyakinan di atas pijakan kemerdekaan berpikir selalu memikirkan kemungkinan alternatif, melebihi apa yang sudah Anda ketahui.

Bila toleransi lebih bersifat pasif, keterbukaan pikiran berwatak aktif sebab ia mendorong seseorang bergerak melewati batas interpretasi yang dipahaminya selama ini.

Inilah yang menjelaskan mengapa para ulama empat madzhab tak pernah saling menjelekkan apalagi menghina dan menyerang. Buya Hamka memilih berqunut di kala Subuh ketika menjadi imam di kalangan jamaah warga NU, atau sikap ulama Saudi allahyarham Syekh Bin Baz yang mengakui keluasan ilmu Yusuf Al Qaradhawi terlepas perbedaan antara keduanya.

Bagi mereka, kebenaran dan pendapat adalah hal yang berbeda, dan hanya ketika mereka mengeksplorasi pengetahuan dan asumsi di balik pemikiran sendiri, mereka dapat menyesuaikan pendapat tersebut lewat sikap-sikap toleran tanpa harus mengorbankan keyakinan sendiri. Ulama paripurna mengerti tentang integrasi antara ilmu dan adab serta akhlak.

Kedua, lemahnya tradisi menulis

Kelemahan para dai di Tanah Air adalah mereka jarang melahirkan buku-buku secara produktif dan menghabiskan banyak waktu berceramah yang ditayangkan secara visual lewat media sosial. Konsekuensinya mereka tak pernah atau tak terbiasa berpikir dialektis.

Nama-nama semisal Imam Al Ghazali, Imam Syafi’i, Ibnu Taimiyah, Ibnu Khaldun, Yusuf al Qaradhawi, Buya Hamka, M Natsir, KH Hasyim As’ari, selalu berkibar dan bertahta di hati umat bertahun-tahun karena buku-buku mereka. Usia karya-karya intelektual mereka melebihi umur biologis mereka yang dibatasi ruang dan waktu.

Ulama yang menulis (bukan sekadar tesis atau disertasi) lazimnya memiliki pemikiran yang mendalam dan tidak cenderung menghakimi sebab tradisi intelektual ini menggiringnya bersentuhan dengan gagasan penuh nuansa ala pelangi, ketimbang dunia hitam putih semata. Inilah adab mulia dari orang-orang berilmu.*/ Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Dapatkan Informasi Menarik Lainnya di Hidayatullah.com

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:adabakhlak Islamdakwahulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jejak Kejayaan Islam di Uzbekistan
Tulisan selanjutnya Pemimpin Umum Hidayatullah: Berbahagialah Terlibat di Jalan Dakwah ini

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

China Tangkap Akademisi WN Amerika dengan Tuduhan Spionase

Berita
12 Juni 2026 21:12
Kemendikdasmen Siapkan Kurikulum PAUD untuk Dukung Program Wajib Belajar 13 Tahun
Kapalnya Ditembak Dekat Oman India Panggil Diplomat Amerika Serikat
MUI: Kasus Hukum di BGN Harus Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola dan Integritas Pengelola
Jenderal ‘Israel’ Naik Pangkat Usai Bunuh Anak Palestina, Kini Dipecat karena Skandal Moral

Terbaru

  • Persidangan Kasus Rodrigo Duterte di ICC Bisa Melibatkan 1.000 Korban
  • Malaysia akan Putus Aliran Listrik dan Air Bangunan Ilegal Termasuk di Penampungan Rohingya
  • Kapalnya Ditembak Dekat Oman India Panggil Diplomat Amerika Serikat
  • Seorang Ibu Gugat OpenAI Terkait Kematian Putrinya Usai Curhat ke ChatGPT
  • Kelompok Hacker Terkait Iran Klaim Retas Drone FBI
  • Jelang Musim Panas UEA Sediakan 12 Ribu Tempat Istirahat Ber-AC untuk Pekerja Luar Ruangan
  • Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan
  • Mengukir Senyum, Merajut Persaudaraan: Hangatnya Kebersamaan Qurban di Dukuh Kwarasan
  • Haflah Parade Tasmi’ Al-Qur’an, Momentum Mencetak Generasi Penghafal Al-Qur’an
  • China Tangkap Akademisi WN Amerika dengan Tuduhan Spionase

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?