Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Rumus Bahagia dari Para Filsuf Barat dan Imam Al-Ghazali

Ahmad
Terakhir diupdate: 8 Januari 2022 06:42 6:42 am
Ahmad
Dipublikasikan 8 Januari 2022 07:00
Bagikan
Bagikan

Rumus bahagian menurut Imam Al-Ghazali mengutarakan sesungguhnya manusia itu memiliki sifat-sifat hewan, setan dan malaikat

Hidayatullah.com | BAHAGIA adalah komponen terpenting dalam kehidupan umat manusia. Karenanya tidak sedikit mencari rumus Bahagia.

Siapa orang yang ingin menderita? Jawabannya, pasti tidak ada. Sayangnya, kebahagiaan dan penderitaan merupakan ciptaan Tuhan ini seperti roda, berputar semaunya.

Semua umat manusia sepakat bahwa semua makhluk hidup berhak bahagia. Tetapi, adakah yang berteriak sebaliknya, “semua yang bernyawa mempunyai hak untuk menderita?”

Maka, menurut Yuval Noah Harari, proyek besar dari agenda Homo Sapiens adalah menemukan kunci atau rumus bahagia. Bagaimana manusia mencapai kesenangan dan kebahagiaan abadi.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Sebab manusia bodoh mana yang ingin menderita selama hidupnya?

Beribu-ribu tahun manusia mencoba mencari definisi kebahagiaan. Beratus-ratus filsuf berupaya menjelaskan makna kebahagiaan dan rumus bahagia. Tetapi, belum ada kata sepakat mengenai hakikat kebahagiaan.

Bahkan, filsuf Epicurus dari Yunani Kuno sampai pada kesimpulan sesungguhnya rumus bahagi atau pencarian kebahagiaan adalah pencarian personal. Sekalipun Epicurus mengatakan demikian, pemikir modern menolak kesimpulan tersebut.

Menurut mereka kebahagiaan cenderung sebagai proyek kolektif. Harari mencoba memberikan ilustrasi mengenai kebahagiaan sebagai proyek kolektif.

“Tanpa perencanaan pemerintah, sumber daya ekonomi, dan riset saintifik, individu-individu tidak akan bisa jauh melangkah dalam mencari kebahagiaan. Jika negara Anda dipecah oleh perang, jika ekonominya diterjang krisis, dan perawatan kesehatan tidak ada, tentu Anda akan menderita.”

Tinjuan Harari itu berdasarkan pembacaannya terhadap filsuf Inggris, Jeremy Bentham yang hidup akhir abad 18. Pendirian Bentham menyatakan bahwa kebaikan tertinggi adalah “kebahagiaan terhebat  bagi paling banyak anggota”, dan menyimpulkan sebenarnya tujuan tunggal negara, pasar, dan komunitas santifik adalah meningkatkan kebahagiaan global.

Para Politis, pembisnis, sarjana, bekerja bukan bertujuan demi kejayaan raja, negara, atau Tuhan, melainkan agar Anda dan saya bisa menikmati kehidupan yang lebih bahagia. Pada dua hipotesis tersebut, kita menangkap tidaklah mudah.

Kita hanya harus terus bekerja untuk mencari dan mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan bukan semata perkara kaya atau tidak kaya, atau hanya  dengan ukuran mempunyai pasangan atau masih menjomlo.

Sekalipun perut kita kenyang, dan orang lain kelaparan menjadikan kita bahagia, belum tentu. Bahkan, Epicurus mengatakan pencarian yang membabi-buta terhadap uang, ketenaran, dan kesenangan hanya akan membuat kita menderita.

Rumus bahagia Imam Al-Ghazali

Bertolak belakang dari pendapat di atas, Imam Al-Ghazali telah menyampaikan rumus bahagia. Di abad 11 M beliau telah mencoba membentangkan hakikat kebahagian dalam bukunya Kimiya al-Saadah.

Uraian al-Ghazali dalam buku tersebut kunci atau rumus bahagia pertama adalah kenali diri sendiri. Hal ini berdasarkan sebuah hadis yang mengatakan, “siapa yang mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya.”

Di sini al-Ghazali menerangkan mengenal diri adalah langkah awal untuk bahagia, persis seperti pandangan Epicurus. Namun, rumus bahagia dari al-Ghazali menerangkan lebih jauh, bahwa mengenal diri bukan soal manusia terdiri dari jasad dan ruhani saja.

Rumus bahagia dari Imam Al Ghazali mendalami hakikat mengapa manusia diciptakan, unsur apa saja yang ada pada diri manusia, dan sifat-sifat yang berada dalam tubuh manusia. Al-Ghazali mengutarakan sesungguhnya manusia itu memiliki sifat-sifat hewan, setan dan malaikat.

“Pekerjaan hewan hanyalah makan, tidur, dan berkelahi. Karena itu, jika engkau hewan, sibukkanlah dirimu dalam aktivitas itu. Setan selalu sibuk mengobarkan kejahatan, tipu daya, dan dusta. Jika kau termasuk golongan setan, lakukan yang biasa ia kerjakan. Sementara, malaikat selalu merenungkan keindahan Tuhan dan sepenuhnya bebas dari sifat hewani. Jika kau punya sifat malaikat, berjuanglah menemukan sifat-sifat aslimu agar kau dapat mengenali dan merenungi Dia Yang Mahatinggi, serta terbebas dari perbudakan syahwat dan amarah. Beri upayalah untuk mencari tahu mengapa kau diciptakan dengan kedua insting hewan ini— syahwat dan amarah—sehingga kau tidak ditundukkan dan diperangkap keduanya. Alih-alih diperbudak keduanya, kau harus menundukkan mereka dan mempergunakannya sebagai kuda tunggangan dan senjatamu.” (Kîmiyâ’ al-Sa‘âdah, Kimia Ruhani untuk Kebahagiaan Abad, Zaman).

Setelah mampu mengenali diri seutuhnya, maka kita akan mengenal dunia, mengetahui adanya akhirat sebagai tempat terakhir, dan puncaknya adalah mengenal siapa yang menciptakan sekaligus mencintai-Nya. Berkata Imam al-Ghazali senyatanya orang yang hatinya telah dikuasai cinta kepada Allah tentu akan menghirup lebih banyak kebahagiaan dari penampakan-Nya dibanding orang yang hatinya tidak didominasi cinta kepada-Nya.

Maka, pencarian membabi-buta yang dikatakan Epicurus tersebut tidak akan terjadi. Karena rumus bahagia menurut al-Ghazali dunia itu seperti sebuah meja yang terhampar bagi tamu-tamu yang datang dan pergi silih berganti. “Di sana disediakan piring-piring emas dan perak, makanan dan wewangian yang berlimpah. Tamu yang bijaksana makan sesuai kebutuhannya, menghirup wewangian, berterima kasih kepada tuan rumah, lalu pergi.”

Bagaimanapun rumus bahagia selama hidup di dunia menurut Imam al-Ghazali, adalah ”manusia harus menjalankan dua hal penting, yaitu melindungi dan memelihara jiwanya, serta merawat dan mengembangkan jasadnya. Jiwa akan terpelihara dengan pengetahuan dan cinta kepada Allah. Sebaliknya, jiwa akan hancur jika seseorang terserap dalam kecintaan kepada sesuatu selain Allah,” kata beliau.*/Hamdi Ibrahim

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bahagiaImam al Ghozalirumus bahagia
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya BMH Lakukan Serah Terima dan Resmikan Satu Unit Rumah untuk Program Dai Tangguh di Bintan
Tulisan selanjutnya Polandia Mengaku Membeli Perangkat Lunak Mata-mata ‘Israel’

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang

Terbaru

  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?