Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Cara Ibrahim Mengajak Kaumnya Berpikir Tentang Tuhan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 Juli 2021 09:59 9:59 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 Juli 2021 09:59
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | ADA beragam cara mendakwahkan kebenaran kepada orang lain. Salah satunya, diperlihatkan oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam (AS) kepada kaumnya, termasuk ayahnya sendiri, untuk berpikir jernih tentang penciptaan alam semesta dan ke-Mahakuasa-an Sang Pencipta. Ibrahim AS yang cerdas berusaha menggelitik kesadaran kaumnya dengan hujjah yang sederhana, mudah dipahami, dan tak terbantahkan.

Kisah yang sangat masyur tentang ini diutarakan dalam al-Qur’an Surat al-An’am [6] ayat 76 hingga 79. Di dalam rangkaian ayat tersebut dikisahkan bagaimana Ibrahim AS mengajak secara halus kaumnya untuk berfikir dengan melihat benda-benda langit yang selama ini mereka ibadahi.

Benda langit pertama yang disaksikan Ibrahim AS ketika malam telah gelap adalah bintang. Ibrahim AS berkata, “Inilah Tuhanku.”  Bintang itu kemudian tenggelam dan tidak lagi terlihat. Ibrahim AS berseru, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.”

Lalu Ibrahim AS melihat bulan muncul di langit yang hitam. Dia berkata lagi, “Inilah Tuhanku.”

Lama kelamaan bulan itu juga terbenam. Ibrahim AS kembali berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.”

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Setelah itu terbitlah matahari. Kembali Ibrahim AS berkata, “Inilah Tuhanku. Ini lebih besar.”

Menjelang senja, matahari perlahan-lahan terbenam di ufuk barat. Melihat fenomena ini, Ibrahim AS menasehati kaumnya, “Wahai kaumku. Sungguh aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan. Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.”

Begitulah kisah Ibrahim AS yang cerdas mengajak kaumnya untuk berfikir. Benda-benda langit yang selama ini mereka sembah ternyata tidaklah pantas untuk di-Tuhan-kan. Tak mungkin Tuhan berubah-ubah, kadang ada, kadang tiada. Kaumnya –bahkan ayahnya sendiri– jelas tak bisa membantah logika yang diungkapkan Nabi Ibrahim AS.

Dalam kesempatan yang lain, Ibrahim AS juga mengajukan pertanyaan kepada kaumnya tentang berhala-berhala yang mereka sembah.

قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ

اَوۡ یَنۡفَعُوۡنَکُمۡ اَوۡ یَضُرُّوۡنَ

“Apakah mereka mendengar kalian ketika kalian berdoa (kepada patung-patung itu)? Atau (dapatkah) mereka (patung-patung itu) memberi manfaat atau mencelakakan kalian?.” (Surat Asy-Syu’ara [26]: 72-73).

Namun, kebenaran logika yang disampaikan Ibrahim AS rupanya tak membuat hati kaumnya berubah. Meskipun Ibrahim AS mampu membungkam mulut mereka dengan hujjah, namun kaumnya tetap bersikukuh di atas  kekafiran. Mereka tetap saja menyembah patung-patung buatan mereka sendiri.

Ibrahim AS sadar bahwa kaumnya tak cukup diberitahu lewat lisan yang baik. Mereka perlu juga disodorkan bukti. Karena itu, Ibrahim AS berencana untuk berbuat sesuatu. Sebuah tindakan berani yang mengandung risiko namun penting untuk tegaknya dakwah.

Tiba di Hari Raya, Ibrahim AS memulai rencananya. Penduduk Haran dari Babilonia pada waktu itu tengah  bersiap-siap menghadiri perayaan besar di kota mereka. Ibrahim AS diajak oleh keluarganya untuk menghadiri perayaan tersebut, namun ia menolak. Ia mengatakan, “Sesungguhnya aku (sedang) sakit.” (Ash Shaffat [37]: 89).

Ibrahim AS sebenarnya berbohong. Menurut Dr Hamid Ahmad Ath Thahir dalam bukunya Kisah-kisah Dalam al-Qur’an, inilah kebohongan pertama yang dilakukan Ibrahim AS namun dimaklumi oleh Allah Ta’ala demi tegaknya dakwah. Semua orang berangkat ke perayaan itu kecuali Ibrahim AS. Dia malah pergi ke tempat penyembahan dengan sembunyi-sembunyi.

Sesampai di sana, Nabi Ibrahim AS menyuguhkan beberapa jenis makanan kepada tuhan-tuhan palsu tersebut. Tentu saja patung-patung itu tak bergerak.

Ibrahim AS berkata, “Mengapa kalian tidak (mau) makan?” (Ash-Shaffat [37]: 91)

Patung-patung itu tetap diam.

Lalu Ibrahim AS bertanya lagi, “Mengapa kalian tidak menjawab?” (Ash-Shaffat [37]: 92)

Patung-patung itu masih saja diam. Akhirnya, Ibrahim AS mengambil kapak dan menghancurkan patung-patung itu satu per satu kecuali satu patung paling besar. Ibrahim AS menaruh kapak di tangan patung tersisa tersebut.

Tak lama kemudian orang-orang pulang dan mendapati berhala-berhala sesembahan mereka hancur berantakan. Mereka berkata, “Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sungguh dia termasuk orang yang zalim.” (al-Anbiya [21]: 59).

Sebagian di antara mereka memberi informasi, “Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini). Namanya Ibrahim.” (al-Anbiya [21]: 60).

Yang lain berkata, “(Kalau demikian) bawalah dia dengan diperlihatkan kepada orang banyak agar mereka menyaksikan.” (al-Anbiya [21]: 61).

Maka Ibrahim AS pun didatangkan ke tempat pemujaan di mana orang-orang masih berkumpul. Salah seorang dari mereka berkata, “Apakah engkau yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?” (al-Anbiya [21]: 62).

Ibrahim AS menjawab, “Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara.” (al-Anbiya [21]: 63).

Orang-orang kebingungan mendengar jawaban Ibrahim AS. Begitu cepat para penyembah berhala ini dikalahkan dengan hujjah. Meskipun mereka tahu Ibrahim AS berbohong –dan ini adalah kebohongan kedua Ibrahim AS yang dimaklumi oleh Allah Ta’ala– namun hati kecil mereka sadar bahwa pesan yang ingin disampaikan oleh Ibrahim AS benar adanya.

Mereka kemudian berkata, “Engkau (Ibrahim) pasti tahu bahwa (berhala-berhala) itu tidak dapat berbicara.” (Surat al-Anbiya [21]: 65).

Ibrahim AS menjawab, “(Lantas) mengapa kalian menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) medatangkan mudarat kepada kalian? Celakalah kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah! Tidakkah kalian mengerti?” (Surat al-Anbiya [21]: 66-67).

Demikianlah cara Ibrahim AS mengajak kaumnya berpikir tentang Tuhan. Hanya jiwa-jiwa yang sombong yang tetap mengingkari kebenaran yang disampaikan oleh Ibrahim AS, juga kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ. Wallahu a’lam.*/mahladi

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:dakwahfilsafatIbrahimkisah nabi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya enam tahanan palestina Pasukan ‘Israel’ Membunuh Pria Palestina yang Tengah Pulang Kerja di Tepi Barat
Tulisan selanjutnya perjuangan umat islam palestina Al-Azhar Mesir Desak Dunia Ambil “Tindakan Serius” terhadap Perubahan Iklim

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura

Berita
15 Juli 2026 20:18
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?