Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Kenapa Gagal Menuntut Ilmu?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 April 2014 09:12 9:12 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 April 2014 09:12
Bagikan
Bagikan

Oleh:  Kholili Hasib

KITA sering menganggap gagal mencari ilmu ketika tidak lulus ujian atau tidak pernah menjadi anak sekolahan.   Sesungguhnya ukuran kesuksesan belajar bukanlah dipandang dari sisi kemampuan pelajar itu menghasilkan harta dan meraih kehormatan jabatan setelah ia lulus.

Akan tetapi dikatakan sukses bila dia semakin sadar tanggung jawab dirinya kepada Allah, dan takut kepada-Nya.
Sebab sumber ilmu hakikatnya satu, yaitu wahyu. Sehingga ilmu adalah sarana untuk menuju kepada-Nya.

Tujuan Pencarian ilmu adalah untuk memperbaiki batin dan  memperindahnya dengan keutamaan-keutamaan untuk meningkatkan kualitas bertaqarrub kepada Allah.

Imam Syafii berkata:

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

من لا يحب العلم لا خير فيه. فإن العلم حياة القلوب ومصباح البصائر

“Barangsiapa yang tidak mencintai ilmu, maka tiada kebaikan di dalam dirinya. Sesungguhnya ilmu itu ‘nyawanya’ hati dan lentera mata hati.”

Syeikh al-Moushili berkata: “Bukankah akan mati orang sakit yang tidak diberi makan dan minum? Begitu pula hati. Jika hati itu tidak diberi ‘nutrisi’ ilmu dan hikmah selama tiga hari maka hati itu pasti akan mati”.

Apa tanda-tanda hati mati?

Pertama, malas. Malas ibadah, malas sekolah, malas kerja, dan malas untuk aktivitas yang baik.

Kedua, jika ada kebaikan ia tolak bahkan membencinya. Sebagaimana firman Allah “Fii quluubihim maradhun” (dalam hatinya (orang munafik) ada penyakit”. Termasuk ciri kedua ini adalah, membenci orang-orang baik. Itu juga tanda hatinya mati.
Ketiga, Sulit menerima ilmu. Ilmu itu cahaya. Dan cahaya ilmu tidak akan masuk ke dalam hati-hati yang mati.

Imam Ghazali mengatakan:

إن  غداء القلب العلم والحكمة، وبهما حياته، كما أن غداء الجسد الطعام. من فقد العلم فقلبه مريض وموته لازم ولكنه لا يشعر به

“Sesungguhnya ‘makanan’ hati itu adalah ilmu dan hikmah, dan dengannya ia hidup. Sebagaimana hidangan untuk jasad kita adalah nasi. Barang siapa kehilangan ilmu, maka hatinya akan sakit dan pasti mati. Akan tetapi ia tidak merasa mati.”

Tempatnya ilmu adalah di hati, maka jika hati tidak siap, maka ilmu akan tertolak dengan sendirinya.

Hati yang tidak siapa menerima ilmu antara lain adalah; pertama, hati yang isinya selalu berupa kenikmatan yang haram. Tiada ilmu yang masuk pada hati yang tiap hari diisi dengan hasud, dengki dan takabbur.

Ilmu juga akan tertolak jika hatinya selalu diisi dengan kesibukan syahwat. Seorang penuntut ilmu tidaklah pantas hatinya selalu disibukkan dengan aktivitas syahwat. Membayangkan sesuatu yang haram, mendekat pada sesuatu yang membangkitkannya dan lain-lain.

Biasanya penuntut ilmu yang begini, karakternya adalah pemalas, otaknya ‘loading’ karena terbang ke mana-mana, dan biasanya juga menyepelekan ilmu.

“Penyakit’ ini akan menimpa orang-orang yang hatinya kosong dari rasa mahabbah (cinta) kepada Allah, selalu berpaling dariNya.
Berpaling darinya merupakan maksiat. Ilmu dan maksiat tidak bisa bertemu.

Imam al Ghazali menerangkan maksiat itu ada yang berbentuk dzahir dan ada yang batin.

Maksiat dzahir diantaranya, mata, telinga, lisan, perut, farji, tangan dan kaki.

Bahkan, maksiat dzahir terkadang berlaku bersamaan dengan batin. Contoh tentang maksiat mata. Mata digunakan untuk melihat sesuatu yang diharamkan, melihat saudaranya dengan cara penglihatan yang merendahkan atau mata digunakan untuk mengorek aib-aib saudara Muslim. Di sini baik mata maupun hati bekerja sama dalam maksiat.

Inilah yang harus dihindari para penuntut ilmu.

Bagi penuntut ilmu jika menemui penyakit tersebut, maka hendaknya ia mengadu dan memohon dengan jujur kepada Allah yang senantiasa menolong orang-orang yang ditimpa musibah jika memohon kepadaNya, hendaklah dia menyerahkan jiwa sepenuhnya dihadapan kebesaranNya, sambil memohon, merendahkan dan menghinakan diri. Allah adalah Sebaik-Sebaik Maha Pendengar.*

 Penulis anggota MIUMI Jawa Timur

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ilmumaksiat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bupati Lumajang akan Resmikan Masjid dan Pesantren Mualaf Tengger
Tulisan selanjutnya Ikhwanul Muslimin Kecam Pengeboman dan Penembakan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Berita
30 Mei 2026 10:28
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?