Hidayatullah.com—Sebanyak 18 orang tewas dalam serangan udara di pangkalan militer dekat kota pelabuhan Odessa, kata pemerintah setempat. Serangan itu terjadi pada hari pertama invasi ke Ukraina yang diluncurkan oleh Presiden Vladimir Putin.
“Delapan belas tewas – delapan pria dan 10 wanita. Saat ini, kami masih menggali puing-puing,” kata pemerintah daerah Odessa dalam sebuah pernyataan dikutip AFP.
Itu adalah serangan tunggal yang menyebabkan banyak kematian hingga saat ini yang dilaporkan oleh pejabat Ukraina, yang sebelumnya menyebutkan jumlah korban tewas secara nasional sekitar 50, termasuk sekitar 10 warga sipil. Serangan itu menghantam sebuah pangkalan militer sekitar 100 kilometer (62 mil) utara Odessa, di wilayah dekat perbatasan Ukraina dengan Moldova.
Ukraina hari ini menangguhkan operasi di salah satu dari tujuh pos pemeriksaan di wilayah Donbass timur yang dikuasai separatis yang didukung Rusia, menyusul meningkatnya penembakan.
Militer Ukraina mengatakan, setelah mempertimbangkan situasi berbahaya saat ini dan ketidakmampuan untuk menjamin keselamatan warga sipil yang menggunakan pos pemeriksaan, maka pos itu ditutup sementara. Perintah dikeluarkan untuk menangguhkan penggunaannya mulai pukul 8 pagi (0600 GMT) hari ini dan berlaku ‘sampai ancaman tetap ada’.
Kekacauan di Kyiv
Kemacetan jalan parah terjadi di jalan utama keluar dari Kyiv hari ini setelah warga sipil mencoba meninggalkan ibukota setelah serangan Rusia di Ukraina. Lalu lintas di jalur empat lajur itu terlihat tidak bergerak sama sekali dimana kendaraan antre belasan kilometer.
Beberapa anggota masyarakat mulai mengantri untuk menarik uang tunai dan menambah kebutuhan. Tanda-tanda keprihatinan terlihat jelas terutama dengan beberapa pesawat melintasi wilayah udara, ledakan terdengar di beberapa tempat dan sirene darurat berbunyi di pagi hari.
Meskipun beberapa minggu peringatan kemungkinan serangan dari Rusia dikeluarkan, beberapa individu tidak mengharapkan itu benar-benar terjadi. “Saya tidak mengantisipasi situasi ini. Sampai pagi ini, saya yakin tidak akan terjadi apa-apa,” kata Nikita, 34, yang mengantre panjang di supermarket dengan beberapa kotak minuman memenuhi troli.
Beberapa supermarket dan toko kelontong juga penuh dengan pelanggan yang ingin tinggal di Kyiv. Kartu debit dan kredit masih bisa digunakan, sedangkan antrean panjang terlihat di depan anjungan tunai mandiri (ATM).
Beberapa anggota masyarakat mulai membawa tas dan koper untuk mencari jalan keluar kota dengan bus, mobil atau pesawat. Seorang wanita yang hanya dikenal sebagai Gulnara mengatakan dia seharusnya naik pesawat ke Baku dari Kyiv tetapi diberitahu bahwa semua penerbangan dibatalkan.
“Tidak ada yang memberi tahu kami apa yang sedang terjadi, apa yang akan terjadi dengan penerbangan kami, apa yang harus kami lakukan, atau ke mana kami harus pergi, katanya.”Kami tidak bisa kemana-mana. Tidak ada yang membantu kami,” tambahnya dikutip Reuters.*




