Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Memimpin Diri

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 7 Maret 2022 15:51 3:51 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 7 Maret 2022 16:00
Bagikan
memimpin diri sendiri
Bagikan

Nasihat Nabi ﷺ  tersebut adalah pesan agar seorang Sahabat tersebut itu bisa mempimpin jiwanya sendiri. Bagaimana seseorang itu memimpin jiwanya sendiri? Tandanya telah dijelaskan oleh Nabi ﷺ , yaitu: “mampu mengendalikan nafsunya ketika marah.“ (HR: Bukhari dan Muslim).

Hidayatullah.com | SUATU hari ada seorang laki-laki yang datang menemui Rasulullah ﷺ  untuk meminta nasehat beliau. Orang itu berkata: “Berilah aku nasihat. Rasulullah ﷺ bersabda,  yang artinya, “Janganlah engkau marah.” Kemudian orang itu mengulang berkali-kali meminta nasehat kepada Rasulullah ﷺ , maka beliau selalu menjawab: “Janganlah engkau marah.”(HR. Abu Hurairah).

Nasihat Nabi ﷺ  tersebut adalah pesan agar seorang Sahabat tersebut itu bisa memimpin jiwanya sendiri. Bagaimana seseorang itu memimpin jiwanya sendiri? Tandanya telah dijelaskan oleh Nabi ﷺ , yaitu: “mampu mengendalikan nafsunya ketika marah.“ (HR: Bukhari dan Muslim).

Uraiannya dijelaskan oleh Imam al-Ghazali. Dalam diri manusia ada potensi kehewanan, potensi setan, dan potensi Malaikat.

Orang yang berbuat jahat, atau berperilaku bejat berarti jiwanya dipimpin oleh sifat setan dan sifat kehewanan. Ketika potensi Malaikat berhasil mempin jiwanya, maka orang itu menjadi baik. Sholeh, berakhlak dan beriman kepada Allah Swt (Imam al-Ghazali, Kimiya’ As-Sa’adah).

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Dalam istilah lain, Imam Ghazali menyebut diri manusia ada dua jenis; jiwa hewani (an-nafs al-hayawaniyah) dan jiwa rasional (an-nafs an-natiqah). Prof. Syed Muhammad al-Attas menjelaskan, orang baik itu apabila jiwa rasionalnya memimpin jiwa hewaninya. Jiwa hewani di bawah kontrol dan kendali jiwa rasional.

Manusia yang paling baik kontrol dan kendalinya terhadap jiwa hewani adalah Nabi Muhammad ﷺ . Oleh sebab itu, Nabi ﷺ  menjadi model manusia terbaik. Ini disebut al-insan al-kamil.

Jiwa rasional itu adalah ruh manusia yang harus diasah agar bisa menjadi raja dalam dirinya. Jiwa hewani, tentu saja tidak bisa dibunuh, tetapi harus ditundukkan.

Seperti rakyat yang tunduk kepada rajanya. Jiwa rasional adalah semestinya yang menjadi raja dan perlu menggunakan kekuasaannya untuk mengatur dan memerintah jiwa hewani agar patuh dan berserah diri kepada jiwa rasional (Syed M Naqauib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam, 56).

Jadi, manusia ini ibarat kerajaan. Rajanya adalah hati. Hati bisa baik, tapi bisa juga jahat. Bahkan hati sangat cepat berbolak-balik. “Hati dinamakan qalb karena sifatnya yang cepat berubah.” (HR: Ahmad).

Raja itu bisa diperebutkan antara jiwa rasional dan jiwa hewani. Perebutan ini merupakan “peperangan” diri. Maka, jihad nafsu, yang kata Nabi ﷺ  adalah perang paling besar, adalah peperangan antara jiwa rasional dengan jiwa hewani.

Oleh sebab itu, agar jiwa rasional manusia memenangkan dalam jihadnya, maka harus memiliki pengetahuan atau ilmu. Imam al-Ghazali mengatakan, bahwa jiwa yang tidak tersentuh ilmu selema tiga hari, maka jiwa itu akan mati. Jiwa yang mati maksudnya, jiwa rasionalnya tidak memiliki “amunisi” untuk berjihad melawan jiwa hewani. Bila berterusan, maka jiwa rasionalnya bisa benar-benar mati. Sehingga yang menjadi raja adalah jiwa hewani.

Maka, agar jiwa rasional itu bisa memimpin diri manusia, langkah pertama adalah memperbanyak “amunisi”. Memberi ‘makan’ dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat (ilm nafi’). Langkah kedua, imam al-Ghazali memberi petunjuk bahwa sifat baha’im dan sifat setan itu kesukaannya adalah banyak memakan dan minum-minuman yang lezat, seks dan marah kepada manusia. Oleh sebab itu, cara menaklukkan jiwa hewani adalah dengan mengurangi kesukaan sifat bahaim tersebut, atau dikendalikan sesuai kebutuhan yang tidak berlebihan (Imam al-Ghazali, Kimiya’ as-Sa’adah).

Jiwa harus dilatih dengan cara mengendalikan keinginan-keinginan sifat hewani secara berlebihan itu. Latihan itu bernama riyadhah. Misalnya, tidak makan dan minum kecuali dari sumber yang halal. “Setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram maka neerakan lebih berhak baginya.” (HR: Tabrani).

Daging dan tulang yang tumbuh dari makanan haram akan mendorong jiwa hewani berkuasa menyerang jiwa rasionalnya.

Di tempat lain imam al-Ghazali menjelaskan dalam diri manusia terdapat potensi fikrah, syahwah  dan ghadab (marah). Ketiga potensi ini harus dikendalikan oleh jiwa rasional.

Sebab jiwa ketiga potensi ini liar, tidak dipimpin dengan baik, maka manusia bisa menjadi jahat. Tetapi, jika jiwa fikrah dapat dikendalikan maka sifat yang dominan yang muncul adalah hikmah, bijak dalam berperilaku. Jika potensi syahwah dapat dikenalikan maka sifat yang dominan adalah iffah. Sedangkan jika potensi ghadab dikenalikan maka yang dominan muncul adalah sifat adil (Imam al-Ghazali, Mizanul ‘Amal).

Jadi, memimpin diri itu merupakan kemampuan untuk mengenali jiwa sendiri. Jika manusia diberi kemampuan ini, maka manusia akan “mengangkat” jiwa rasionalnya sebagai raja bagi dirinya.

Sehingga, sebelum seseorang itu menjadi pemimpin bagi masyarakat atau orang banyak, maka dia harus terlatih memimpin dirinya. Jika saja diri tidak mampu dimpimpin, maka dia akan tidak akan berhasil memimpin diri-diri yang lain. Bagaimana mempin orang lain, sedangkan memimpin dirinya tidak mampu.

Banyak pemimpin itu salah tindakannya, keliru keputusannya, tidak tepat bicaranya karena kemungkinan ada problem dalam “kerajaan dirinya”. Sifat-sifat hewani menjadi raja bagi kerajaan dirinya. Maka, tindakan, keputusan dan cara bicaranya tidak benar-benar manusiawi, tapi ‘hewani’.

Itulah pentingnya manajemen jihad nafsu. Menyiapkan pemimpin sejak dini berarti menyiapkan manusia itu ‘perang’ dengan nafsu hewaninya. Latihan secara terus-menerus. Siapkan ‘amunisi’ sebanyak-banyaknya. Jangan sampai kalah ‘perang’ sebelum jadi pemimpin.*/Dr Kholili Hasib

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:nasehat nabipemimpin
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Serdadu ‘Israel’ Kembali Bunuh Pemuda Palestina
Tulisan selanjutnya hubungan turki nusantara Jejak Hubungan Kekhalifahan Turki dan Nusantara

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Feature
30 Mei 2026 17:30
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Terbaru

  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?