Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Saintek

Berjalan-jalanlah, Kreativitas yang Macet Kembali Lancar

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 5 Juni 2014 20:40 8:40 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 5 Juni 2014 20:40
Bagikan
Bagikan

JIKA Anda dalam kondisi kreativitas yang merosot, para ilmuwan punya saran: berjalan-jalanlah.

Orang bisa memacu ide-ide yang lebih kreatif ketika mereka berjalan daripada ketika duduk, kata penelitian baru yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Psychology: Learning, Memory and Cognition.

“Semua orang selalu mengatakan, berjalan-jalan bisa memberi ide-ide baru, tapi tidak ada yang pernah membuktikan hal itu sebelumnya,” kata Marily Oppezzo, seorang profesor psikologi di Santa Clara University dan penulis utama studi tersebut.

Bahkan, Oppezzo sendiri mendapat inspirasi penelitian ini saat masih menjadi mahasiswa pasca-sarjana berjalan-jalan dengan penasihat tesisnya, Daniel Schwartz, profesor pendidikan di Universitas Stanford.

Untuk mengukur kreativitas, Oppezzo mengundang 176 orang dan memberi mereka berbagai tes verbal. Misalnya, beberapa relawan diminta menggunakan istilah alternatif pada istilah-istilah yang umum, seperti tombol. Oppezzo kemudian mendefinisikan respon kreatif dengan mendapatkan satu dari dua jawaban yang baik dan sesuai (misalnya tombol bisa berfungsi sebagai saringan kecil atau mata untuk boneka, bukan hanya berfungsi untuk menghidupkan bola lampu), serta asli, yang tidak ada orang lain mengatakan sebelumnya.

Baca Juga

Lithium Air Laut
China Temukan Cara Baru Menambang Lithium Air Laut
7 dari 10 Warga Malaysia Ingin Medsos Dilarang untuk Anak di Bawah 14 Tahun
Warisi Generasi Old, Milenial Akan jadi ‘Generasi Terkaya dalam Sejarah’
Minum Air Zamzam Sembuhkan Sakit dan Kuatkan Hafalan
Ilmuwan Menemukan Koridor Tersembunyi di Piramida Agung Giza Mesir

Dalam percobaan pertama, relawan diminta menyelesaikan tes kreativitas dua kali. Pertama saat duduk di dekat meja di satu ruangan kecil selama empat menit, dan kemudian saat berjalan di treadmill untuk jumlah waktu yang sama. Para peneliti menemukan, 81 persen dari peserta meningkat kemampuan kreatifnya ketika berjalan.

Para pejalan akan lebih banyak berbicara daripada orang-orang yang duduk. Namun Oppezzo mengatakan, peningkatan ide-ide kreatif saat berjalan juga tidak sesederhana menghasilkan lebih banyak ide secara umum.

“Kami mengambil semua yang mereka katakan dan membagi antara total ide kreatif dengan total ide yang disebutkan,” katanya, seperti dimuat Gulfnews belum lama ini. “Orang yang berjalan lebih banyak berfikir, dan mereka juga memiliki kepadatan lebih tinggi dalam berfikir kreatif daripada yang duduk.”

Untuk melihat apakah berjalan meningkatkan kemampuan otak secara keseluruhan, Oppezzo dan timnya memiliki relawan menyelesaikan tugas guna mengukur pemikiran konvergen. Peserta penelitian diberi tiga kata dan diminta memberikan kata lain yang menggabungkan kata-kata tersebut ke dalam satu frasa baru. Misalnya, “Swiss”, “cake”, dan “cottage”, yang kemudian semua dikombinasikan menjadi “cheese”.

Pada tes ini, para relawan melakukan sedikit lebih buruk saat berjalan dibandingkan ketika duduk. Hal ini menyebabkan para peneliti menyimpulkan bahwa manfaat kognitif dari berjalan spesifik untuk pikiran-pikiran kreatif.

Dalam percobaan berikutnya, para peneliti menemukan bahwa dorongan kreatif dapat terus bertahan untuk jangka waktu tertentu. Orang-orang yang mengambil tes kreativitas sambil berjalan, kemudian sambil duduk, mendapatkan ide-ide yang lebih kreatif terkait posisi (jabatan) mereka, dibandingkan relawan yang duduk dan tidak pergi berjalan-jalan.

Untuk memastikan ini bukan ‘sesuatu yang sudah pasti’, para relawan kemudian dilakukan tes. Para peneliti meminta beberapa peserta untuk mengikuti tes dua kali dan tetap duduk dua kali. Dalam kondisi tersebut, uji kinerja tidak meningkat berdasarkan pengalamannya.

Dalam satu set percobaan lainnya, para peneliti menemukan bahwa berjalan di dalam ruangan sama baiknya untuk kreativitas dengan berjalan di luar ruangan, meskipun di luar ruangan lebih memungkinkan membuat peserta lebih banyak bicara.

Pada akhir percobaan, Oppezzo mencoba mendorong para sukarelawan ke seluruh kawasan kampus Stanford dengan menggunakan kursi roda, dan dibandingkan kreativitas mereka dengan relawan berjalan-jalan di luar. Juga orang-orang yang berjalan di dalam ruangan dengan menggunakan treadmill dan orang-orang yang duduk di dalam laboratorium tanpa pandangan ke luar ruangan.  Hasilnya jelas: berjalan (baik di dalam atau di luar ruangan) mengalahkan duduk (baik di dalam atau di luar).

Peneliti lain mengatakan, mereka menemukan hasil meyakinkan, terutama karena mereka telah melakukan konfirmasi dengan empat percobaan berbeda.

Jennifer Wiley, seorang profesor psikologi di University of Illinois, Chicago, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan, hasil Oppezzo itu sejalan dengan apa yang disebut “tempat tidur, kamar mandi, bus dan bar sindrom”.

“Ketika kami mengambil istirahat dari aktivitas mencari solusi penelitian, lantas pergi dengan kegiatan sehari-hari kami yang lain, solusi-solusi sering muncul dalam pikiran kita,” katanya. Tapi Wiley dan lainnnya masih belum paham mengapa berjalan bisa meningkatkan kreativitas.

Mungkin berjalan meningkatkan gairah di otak, kata Jonathan Schooler, seorang profesor ilmu psikologi dan otak di University of California, Santa Barbara, yang tidak terlibat dalam penelitian ini. Jika demikian, hal itu akan menjelaskan mengapa sebagian besar relawan menjadi lebih cerewet ketika mereka berjalan-jalan, katanya.

Oppezzo menduga, ada kemungkinan bahwa berjalan dapat menyingkirkan hambatan-hambatan pada kemampuan otak. “Kami benar-benar tidak tahu,” katanya.

Oppezzo dan Schwartz berniat melanjutkan penelitian mereka untuk mendapatkan hubungan antara berjalan dan kreativitas . “Kami sudah banyak melakukan pertemuan sambil berjalan-jalan untuk berpikir tentang ide-ide masa depan,” kata Oppezzo. “Mudah-mudahan kita akan menjalankan studi baru segera.”

Sementara itu, ia menyarankan agar orang berjalan-jalan sebelum melakukan pemecahan masalah, atau melakukannya jika mengalami kemacetan dalam masalah kreatif.

“Studi kami menunjukkan, kreativitas semua orang membaik ketika mereka berjalan dibandingkan dengan mereka yang duduk,” katanya. “Ini sangat keren, cukup dengan pergi keluar, berjalan-jalan, kreativitas Anda lebih meningkat.”*

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Monica, Aktris India yang Memilih Islam Bukan karena Cinta atau Uang
Tulisan selanjutnya Gus Wahid: NU-Salafi Bersaudara, Sama-sama Islam

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Berita
3 Juni 2026 09:20
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Saintek

Para Ilmuwan Lakukan Deteksi Autisme pada Rambut

9 Januari 2023 20:30
Saintek

Tantangan Teknologi, Banyak Orang Oversharing dan Umbar Aib di Media Sosial

26 Desember 2022 14:00
Saintek

(Video) Kuasa Allah, Ilmuwan Berhasil Merekam Tumbuhan yang Bernapas

23 Desember 2022 15:10
Saintek

Selandia Baru akan Siapkan Undang-undang agar Facebook dan Google Membayar Berita

5 Desember 2022 11:21
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?