Hidayatullah.com– Belanda mewajibkan orang yang kontak dekat dengan pasien terinfeksi cacar monyet menjalani karantina, sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan penyakit itu meluas di Eropa pada musim panas ini.
Badan kesehatan publik Belanda RIVM menganjurkan karantina tiga pekan dengan dasar masa inkubasi cacar monyet yang berkisar antara 5 sampai 21 hari.
Karantina berlaku bagi siapa saja yang tinggal dalam rumah di mana cacar air terdiagnosis atau telah melakukan hubungan seks dengan penderita atau kontak dekat lainnya.
RIVM mencabut saran sebelumnya yang menyebutkan karantina bagi rang-orang yang menghabiskan lebih dari 15 menit dalam jarak 1,5 meter dari seorang penderita cacar monyet, lansir Dutch News Senin (23/5/2022).
Hari Jumat pekan lalu, Menteri Kesehatan Ernst Kuipers menyatakan penyakit itu sebagai penyakit kelas A, yang artinya semua kasus terkonfirmasi atau suspek harus dilaporkan ke otoritas kesehatan publik.
Sejauh ini dua infeksi telah dikonfirmasi di Belanda.
Kuipers mengatakan lebih banyak kasus mungkin terjadi dalam beberapa pekan mendatang, tetapi dia tidak memperkirakan virus itu menjadi darurat kesehatan masyarakat.
World Health Organisation (WHO) telah memperingatkan bahwa penyakit itu dapat menyebar ke seluruh Eropa pada musim panas ini pada acara-acara yang melibatkan orang banyak, pesta, dan festival.
Pakar virologi Marion Koopmans mengatakan kekhawatiran itu terutama disebabkan oleh fakta bahwa tidak semua kasus dapat ditelusuri ke orang-orang yang baru-baru ini bepergian ke Afrika, seperti yang terjadi pada wabah sebelumnya. “Tampaknya penyakit itu menyebar dengan cukup mudah, yang karena itu kita harus mengatasinya,” kataKoopmans dalam acara bincang-bincang Op1.
“Apa yang kami lihat sampai sekarang adalah cacar monyet ini merupakan penyakit impor, dengan hanya satu atau dua kontak saja,” kata Koopmans, seraya menambahkan bahwa distribusi penyakit ini tidak bisa dan masih harus dipelajari lebih lanjut.*