Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Menolak Hanan Attaki

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 15 Juli 2022 14:56 2:56 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 15 Juli 2022 15:30
Bagikan
Penolakan dakwah hanya akan memperburuk rating di hadapan ummat
Bagikan

Ketika sebuah organisasi menolak dakwah dan mempersekusi gerakan dakwah lain, bukan mendahulukan dialog keilmuan, ia akan memperburuk rating-nya di hadapan umat

Oleh:  Arief Wibowo

Hidayatullah.com | SEKULARISME dan krisis kebenaran agama di masyarakat Barat, menurut Bryan S Turner diciptakan oleh individu-individu yang berkeliling, berbelanja spiritual ke berbagai aliran gereja. Masyarakat tidak lagi mau menerima kebenaran mutlak hanya dari satu gereja saja. Akhirnya kebenaran agama dijual kepada konsumen yang tidak lagi merasa wajib membeli. Ruang agama berubah menjadi semacam pasar penawaran dogma.

Kristen Barat, terutama dunia Protestan yang aliran gerejanya terpecah menjadi ribuan denominasi merupakan pihak yang paling terpukul. Seperti kita ketahui, Kristen adalah organized religion dalam pengertian yang sebenarnya.

Ada organisasi dan hierarkhie yang ketat. Ketika mengalami keterpecahan, perbedaan mewujud dalam bentuk aliran gereja yang berbeda. Dan menjadi Kristen, berarti harus mempunyai keanggotaan gereja.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Seperti lazimnya keterpecahan organisasi yang berasal dari wadah yang sama, maka perseteruan diantara pecahan-pecahan itu masih sangat tinggi. Pada masa lalu, keterpecahan itu berupa “truth claim” yang menyebabkan konflik horizontal antar gereja dengan korban jiwa yang tidak sedikit, sekitar 7,5 juta jiwa orang Eropa mati.

Sejarah tragis agama, yang memaksa para pemimpin gereja di Eropa duduk bersama dalam perjanjian Westphalia, dan akhirnya mengakui tiga aliran utama gereja, Katolik Roma, Lutheran dan Calvinisme sebagai aliran yang sama-sama punya hak untuk hidup dan berkembang.

Dari peristiwa inilah, gagasan toleransi mendapatkan pijakan dan terus dikampanyekan. Di internal Protestan, Perjanjian Westphalia mengalami internalisasi dalam bentuk Gerakan Oikumenis, yakni sebuah gerakan yang membangun relasi positif antar aliran gereja. Sebab, narasi kembali ke kitab suci, mengantarkan perbedaan pendapat yang tinggi antar pemuka gereja, yang melahirkan berbagai aliran gereja.

Kabarnya sampai hari ini ada kurang lebih ada 1500 aliran. Sementara di Indonesia, menurut pendeta Jans Aritonang, ada 400 aliran gereja.

Di era informasi, dimana pencarian kebenaran itu bisa dilakukan kapan saja dan dari sumber mana saja, maka organized religion menjadi pihak yang paling terpukul. Sebab, meski secara lahir mereka sudah menerapkan toleransi, tapi di bidang doktrin, perseteruan itu masih terasa.

Misal, di buku Kemenangan Akhir karya Ellen G White, yang menyebutkan Katolisisme sebagai perpaduan antara Kerajaan Tuhan dan Kerajaan iblis. Jadi kosongnya gereja yang bahkan di beberapa tempat dijual dan dijadikan masjid bisa jadi merupakan kegagalan para pemimpin gereja merespon zaman.

Narasi-narasi yang saling menegasikan di satu sisi dan keharusan menerima bulat-bulat doktrin sebuah gereja dengan menjadi anggotanya, menyebabkan masyarakat Barat memilih untuk keluar dari gereja dan menjalankan spiritualitas mandiri. Kelompok-kelompok kharismatis berusaha untuk melakukan terobosan dengan ibadah terbuka antar berbagai aliran tidak di gereja tapi di stadion. Tapi akhirnya gerakan ini juga menjadi aliran gereja tersendiri.

Alwi Shihab, dalam buku Islam Inklusif mengingat bahwa dunia Islam bisa saja mengalami hal serupa, dikarenakan banyak gerakan dakwah secara perlahan menjelma menjadi semacam denominasi gereja. Ada organisasi dan hierarkhie yang ketat dan umat seolah dipaksa milih untuk jadi NU, Muhammadiyah, Salafi, MTA atau Shiddiqiyah. Kalau tidak ikut, berarti tidak punya cantholan menuju surga.

Padahal, mayoritas umat Islam itu ada yang “freelance”, bukan pengikut satu aliran atau kelompok tertentu secara kaku. Pondasi interaksi antar aliran juga sudah baku, ada madzhab, ada iftiraq, ada ahlul kiblat dan sebagainya. Sehingga, ketika sebuah organisasi dakwah mempersekusi gerakan dakwah lain, layaknya perang antar organisasi, bukan dialog keilmuan, yakinlah ia hanya akan memperburuk rating di hadapan umat.

Ketidak setujuan, menurut saya tidak harus diwujudkan dalam bentuk penolakan kehadiran, tapi dengan persyaratan saja. Misal, Ustadz Hanan Attaki tampil bersama salah seorang Kyai muda NU yang juga dekat dengan anak-anak muda milenial.  Jadi mereka ada dialog, bukan monolog. Dengan demikian, anak-anak muda kita tetap dipandu agama, sekaligus mempunyai pandangan yang luas.*

Koordinator Pusat Studi Peradaban Solo, tulisan diambil dari artikel akun Facebook

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Hanan Attakipelarangan dakwahpersekusi dakwah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya jilbab iran Menolak Kewajiban Tutup Aurat, Aktivis Perempuan Iran Gelar Aksi Lepas Jilbab
Tulisan selanjutnya Ingatkan Bahaya FETO, Turki Peringati 6 Tahun Kudeta Gagal

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Berita
3 Juni 2026 13:30
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?