Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Keajaiban Allah yang ada di Kepulauan Giliraya, Sumenep

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 14 Juni 2014 16:47 4:47 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 14 Juni 2014 16:47
Bagikan
Pemandangan Kepulauan Girilaya, Sumenep
Bagikan

GIRILAYA merupakan salah satu kepulauan yang ada di Sumenep, Madura yang memiliki beberapa keajaiban. Seperti pulau yang menyerupai seekor buaya maupun sumber mata air yang belum pernah kering sejak munculnya hingga sekarang.

Untuk bisa sampai pulau tersebut, koresponden dari hidayatullah.com menempuh perjalanan jalur laut kurang lebih satu jam. Dengan menggunakan perahu yang maksimal mampu memuat 150 orang, Rabu (11/06/2014).

Berangkat dari dermaga Cangkerman, Ds. Cangkerman, Kec. Bluto dan berhenti di dermaga Tanggak, Ds. Benbaru, Kec. Giligenting, Kab. Sumenep.

Menyerupai buaya

Pulau Giliraya memiliki panjang sekitar 7 KM dengan lebar 3 KM itu awalnya berupa hutan yang masih rimbun dengan semak belukar. Munculnya nama pulau Giliraya yang menyerupai buaya itu dari kisah perjalanan seorang wali bernama Rawit dari Ds. Guluk-guluk, Kec. Bluto, Kab. Sumenep.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Mahwa, salah satu warga Benmaleng mengkisahkan sejarah munculnya Pulau Giliraya, sebagaimana diyakini masyarakat setempat.

Menurutnya, sebelum Rawit tiba di pulau itu, oleh masyarakat Sumenep, nama Rawit diubah menjadi Ahmad Zaenudin. Kemudian ia mendapat tugas dari Demang Sumenep untuk membabat hutan di kepulauan yang saat ini dikenal oleh masyarakat dengan nama Pulau Giliraya.

Saat pertama kali tiba, Zaenudin bertemu dengan 41 maling (Pencuri.red) di pulau itu. 41 pencuri itu menyangka Zaenudin utusan Demang Sumenep yang ditugaskan untuk membunuh mereka.

“Ke 41 pencuri itu akhirnya memohon maaf kepada Zaenudin, hingga akhirnya Zaenudin membagi mereka menjadi 4 kelompok untuk membabat hutan di pulau itu. Dari kerja keras 4 kelompok itu terbentuk 4 desa yang masing-masing bernama Ben maleng, Ben baru, Jati dan Lombang,” ujar Mahwa ketika ditemui hidayatullah.com di kediamannya Desa Benmaleng, Kec. Giligenting, Kab. Sumenep, Kamis (12/06/2014).

“Jika ada orang-orang yang berniat buruk (jahat.red) terhadap pulau itu, sebelum mereka mendekati pulau itu seolah terlihat berubah menjadi buaya sungguhan. Dari situ mereka mengurungkan niat buruknya dan meninggalkan pulau tersebut,” imbuh kakek yang usianya 69 tahun itu.

Mata Air Belum pernah Kering

Hal unik di kepulauan ini adanya 3 sumber mata air yang tidak pernah kering.

“Ada 3 sumber mata air di pulau Giliraya. Diantaranya sumber mata air pinang (sekarang dikenal dengan sumber mata air beringin.red), agung dan manuk (burung.red),” ungkap Mahwa.

Ketiga sumber mata air itu menurut sejarah muncul dari dua peristiwa yang berbeda. Pertama, sumber mata air beringin muncul saat Zaenudin menyentil sebuah kerikil ketika mencari air untuk berwudhu. Keluarlah air dari tempat di mana kerikil itu disentil.

Kedua, sumber mata air agung dan manuk itu muncul dari lubang bekas tongkat yang ditancapkan Zaenudin saat mencari air untuk berwudhu.

“Namun, yang masih terus mengeluarkan air smpai sekarang, hanya sumber mata air pinang. Sumber itu tidak pernah pasang surut atau mengering seperti dua sumber mata air lainnya,” imbuh lelaki kelahiran tahun 1945 itu.

Mahwa menambahkan, entah airnya diambil atau tidak oleh masyarakat, sumber mata air beringin itu tidak pernah mengering dan habis. Bahkan pada tahun 1993-1997 ketika Indonesia dilanda kemarau panjang, sumber mata air beringin mampu mencukupi kebutuhan asupan air 4 desa yang saat itu dihuni oleh 1200 jiwa.

“Itulah yang dinamakan keajaiban Allah. Kita tidak akan mampu menjangkaunya karena ilmu yang dimiliki oleh manusia itu terbatas,” katanya. */Achmad Fazeri (Surabaya)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:madura
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya sby kanker Presiden SBY keluarkan Inpres Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual terhadap Anak
Tulisan selanjutnya Diet Berolahraga Dapat Tingkatkan Kekebalan Tubuh

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Berita
3 Juni 2026 16:00
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?