Berkat propaganda Kahar Mudzakkir dan kawan-kawan dalam diplomasi, terwujudnya Indonesia merdeka diakui dunia, khususnya Timur Tengah
Hidayatullah.com | ABDUL Kahar Mudzakkir pada tahun 1929 yang sedang menimba ilmu di Bumi Kinanah, Mesir. Saat itu, nama Indonesia belum dikenal.
Apalagi tentang penduduknya yang sedang mengalami getirnya penjajahan. Namun, di tengah kondisi demikian, Kahar Mudzakkir muda, yang kala itu baru berusia 22 tahun pandangannya sudah jauh ke depan untuk bangsanya.
Di Mesir, dia bersama kawan-kawannya bukan saja menimba ilmu tapi aktif dalam pergerakan demi terwujudnya kemerdekaan Indonesia. Sejak awal di Kairo (1926), beliau sudah aktif di organisasi pemuda Indonesia di Mesir yang mendukung kemerdekaan Indonesia.
Dalam fase-fase ini, beliau berusaha keras untuk memperkenalkan Indonesia ke duni luar dan senantiasa mengikuti perkembangan yang terjadi di Indonesia. Tidak berlebihan jika apa yang dilakukan beliau disebut sebagai kerja-kerja diplomasi, yang mana saat itu Indonesia belum kenal diplomasi karena belum wujud menjadi negara merdeka.
Upayanya bukan saja lewat aksi organisasi (Seperti: Perhimpunan Pelajar Indonesia atau Djam’ijah Al-Chairijah) tapi juga penulisan di berbagai surat kabar semisal: Al-Ahram, Al-Djihad, Al-Balagh, Al-Ftah, Al-Hayat bahkan terlibat dalam penerbitan surat kabar produk anak Indonesia yaitu Seruan Azhar.
***
Di bawah ini ada petikan tulisan Abdul Kahar Muzakkir. Ini adalah mukadimah dari tulisan yang dimuat di Surat Kabar Persatoean Indonesia.
“Kita itoe adalah soeatoe bangsa jang hendak hidoep didoenia dengan hidoep jang moelia, soeatoe bangsa jang mempoenjai negeri dan tanah air, mempoenjai hak-hak kemanoesiaan, bahasa kita itoe soeatoe bangsa jang beradab jang tinggi, bersopan jang haloes, berperangai jang loeroes, berboedi jang oetama. Jang mempoenjai djoega dahoeloe babad jang moelia, kemadjoean (civilization) jang tinggi, dahoeloe dan sekarang djoega boekannja kaoem jang biadab dan savage.” (Kairo, 20 Julis 1929)
Petikan kata yang penulis sebutkan di mukadimah tulisan ini, adalah karya Kahar Mudzakkir yang aslinya berjudul “Propaganda Indonesia di Negeri-Negeri Islam Pantas Mendjadi Perhatian Pemimpin-Pemimpin Kita”. Ditulis di Kairo pada 20 Juli 1929 dan diterbitkan di Surat Kabar Persatoean Indonesia No. 28 (1 September 1929) yang redakturnya adalah Soekarno dan Mr. Soenarjo.
Tulisan ini adalah satu bentuk kontribusi konkret Kahar Mudzakkir untuk mempropagandakan Indonesia di luar negeri. Saat karya itu ditulis, di Indonesia sudah ada pergerakan yang berupaya untuk mewudujkan tercapainya kemerdekaan.
Meski begitu, menurut catatan Kahar belum menjadi pergerakan yang besar. Tapi, setidaknya sudah ada yang merintis, minimal sudah sepermpat abad.
Sayangnya, pergerakan ini masih berkutat dalam negeri. Kalau dibandingkan dengan upaya konkret yang dilakukan untuk mengenalkan Indonesia ke luar negeri sangatlah jomplang atau tidak sebanding.
“Pergerakan kita itoe jang soedah sebegitoe djaoeh, jang soedah seperempat abad itoe, beloemlah diketahoei lagi oleh orang diluar negeri kita,” tulis Kahar.
Jangankan pergerakan, terkait letak, keberadaan, jumlah dan karakter penduduk Indonesia pun kala itu belum dikenal sebagai entitas negara. Melihat kondisi demikian, Kahar Mudzakkir bersama teman-teman seperjuangan kala menimba ilmu di Mesir merasa tergerak untuk mempropagandakan negeri Indonesia ke luar negeri.
Syukurnya, di Belanda ada juga Perhimpunan Indonesia yang juga memprogandakan Indonesia ke luar negeri sehingga, usaha Kahar dan kawan-kawan akan menjadi semakin kuat. Di dalam negeri, propaganda ini mendapat dukungan misalnya dari PNI dan PPPKI yang menganjurkan propaganda Indonesia di luar negeri.
Hal ini tulis Kahar;
“Semoanja itoe amat menggembirakan dengar partai-partai lain nanti sebentar lagi, berlomba-lomba menjokong oesahanja Persatuoean atau Pertalian partai-partai kita itoe, soepaja lekas memeoehi barang jang koerang pada kita itoe.”
Bagi Kahar, propaganda Indonesia tidak cukup hanya dalam negeri, atau di negara Eropa saja;
“Bahasa soeara kita itoe tidaklah haroes kita oetarakan di benoea Eropa sahadja, tetapi seloeroeh doenialah jang mesti kita dengarkan seoeara kita didalamnja. Apalagi didalam negeri-negeri timoer ini jang pendodoeknja berdekatan dengan kita, negeri-negeri timoer maoepoen di China dan Japan, Phillipijne, ataoepoen negeri-negeri Islam semoeanja.”
Terkhusus di negeri-negeri Islam, propaganda Indonesia bagi Kahar harus lebih digencarkan. Terlebih, kala itu nama Indonesia belum begitu dikenal di kalangan mereka. Padahal, propaganda Indonesia yang penduduknya mayoritas Islam ke negara-negara Islam akan besar dampaknya.
Dan di kemudian hari, terbutkti bahwa yang pertama kali memberikan pengakuan kepada Indonesia adalah negara-negara Islam yang notabene dari kalangan Arab. Saat itu, di negara-negara Islam pada umumnya sedang lahir gerakan-gerakan untuk membebaskan diri dari penjajahan.
Maka, jika dalam momentum seperti itu Indonesia juga turut digencarkan propagandannya maka akan berdampak positif bagi Indonesia. Hal ini sejalan dengan salah satu pidato Ir. Soekarno di Bandung yang menyatakan, “Wadjib bikin propaganda di negeri-negeri Islam, apalagi di Turki.”
Adapun di Mesir, saat itu Indonesia tidak begitu dikenal. Yang dikenal malah orang-orang kaya bangsa Arab yang tinggal di Indonesia. Dikiranya, merekalah para pemimpin bangsa Indonesia.
“Orang-orang di Mesir beloem taoe betoel keadaan kita, disana orang tjampoerkan sajadja antara orang-orang kaja bangsa Indonesia dengan disangka mereka itoe pemimpin-pemimpin kita kebangsaan,” tulisnya.
Salah satu langkah konkret untuk melancarkan propaganda menurut Kahar kala itu adalah dengan menerbitkan Surat Kabar yang bisa mengenalkan Indonesia di mata dunia. Kalau bisa, tulis Kahar, bangsa Indonesia perlu punya surat kabar sendiri sehjingga tidak menumpang di surat kabar negara lain.
“Pendapat kami, wadjiblah P.N.I. atau P.S.I. atau P.P.P.K.I. atau siapa sahadja, mengeloearkan soerat kabar denga bahasa Arab,” tandasnya.
Dalam hal ini, peran Kahar Mudzakir dengan Seruang Azharnya, demikian juga berbagai tulisan tentang perjuangan Indonesia yang dimuat di media-media Mesir begitu signifikan dalam membantu mempropagandakan Indonesia di dunia, khususnya di Timur Tengah. Maka tidak mengherankan jika di kemudian hari, Indonesia dengan cukup mudah mendapat pengakuan dari negara-negara Islam di Timur Tengah, karena dari awal, jalannya sudah diratakan oleh Kahar Mudzakkir dan kawan-kawan melalui propaganda Indonesia dalam usaha konkret diplomasi, penerbitan surat kabar, hubungan intensif dengan pemimpin-pemimpin pergerakan di Indonesia serta aktif dalam pergerakan global kala itu demi terwujudnya Indonesia merdeka.
Tulisan ini akan penulis tutup dengan kata-kata Kahar Mudzakkir dalam penutupan tulisan yang begitu kuat narasinya;
“Zaman kita, zaman berboeat hidoep siapa kalah mesti ta’ dapat.” Dan mereka, sebagai perintis telah melakakuan perjuangan dengan sangat baik. Lalu bagaimana dengan generasi setelahnya? demikian tulisnya.*/Mahmud Budi Setiawan