Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Logika Jenaka Tuan A. Hassan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 Januari 2018 13:34 1:34 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 Januari 2018 13:34
Bagikan
A Hassan Guru Utama Persis
Bagikan

SISI lain yang jarang diketahui dari sosok A. Hassan adalah kejenakaannya dalam berlogika. Beliau adalah pribadi yang humoris dan suka berkelakar. Terkait hal ini, beliau pernah menulis buku yang berjudul: “Tertawa” sebanyak empat jilid (Dadan Wildan,  Yang  Dai Yang Politikus Hayat dan Perjuangan Lima Tokoh Persis, 48) dan itu sudah ditulis sejak di Singapura (Syafiq Mughni, Hassan Bandung Pemikir Islam Radikal, 14).

Ada setidaknya empat contoh yang menunjukkan kejenakaan A. Hassan dalam berlogika.

Pertama, saat debat dengan  M. Akhsan pada tahun 1955 di gedung al-Irsyad Surabaya (Syafiq Mughni, 1994: 82) Saat itu A. Hassan menanyakan pertanyaan kepadanya, “Menurut Anda, kalau ada nyamuk yang menggigit apa yang akan dilakukan.” “Saya bunuh?”

Baca: Ahmadiyah Versus A Hassan

Hassan membalas, “Bukankah itu suatu kezaliman?” tanya A. Hassan. “Saya bunuh nyamuk lantaran gigit saya.” “Menurut keadilan fikiran, jika nyamuk menggigit tuan, mestinya tuan balas gigit dia. Balas dengan membunuh itu tidak adil.” Seisi hadirin yang menghadiri perdebatan termasuk M. Akhsan pun tertawa mendengarnya (A. Hassan, Adakah Tuhan?, 22).

Kedua,  masih dalam momen yang sama, A. Hassan mempertanyakan tulisan M. Akhsan di surat kabar pada 9 Agustus 1955 berupa: ada orang yang keluar buntutnya dan terus memanjang dan ingin dipotong karena semakin panjang semakin menyakitkan. Berdasarkan tulisan tersebut, A. Hassan bertanya kepada M. Akhsan yang intinya apakah dengan demikian manusia berasal dari monyet? M. Akhsan menjawab, “Ya.” A. Hassan menimpali, “Jika demikian, berarti monyet bersal dari manusia, bukan manusia berasal dari monyet…” seluruh peserta yang hadir pun tertawa terbahak-bahak dan tepuk tangan, padahal pada waktu itu dilarang tertawa (Tamar Djaja, Riwayat Hidup A. Hassan, 80).

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Ketiga, saat berdebat di Jakarta dengan Suradal Nahatmanto (Seorang pemuda dari Yogyakarta yang bangga dengan keatheisannya). Kesempatan pertama diberikan kepada Suradal. Pemuda ateis ini berbicara panjang lebar kemudian diujungnya ia mengucapkan, “Saya telah berjumpa Tuhan. Tetapi ketika berjumpa itu, saya ketahuilah sebenar-benarnya Demi maha tidak ada Tuhan.”

Saat diberi kesempatan, A. Hassan tidak berpidato panjang seperti dirinya, beliau hanya bertanya, “….Dengan siapa tuan berjumpa?” Ia menjawab, “Saya berjumpa dengan maha yang tidak ada.” A. Hassan pun dengan lekas merespon, “Kalau tidak salah tuan berbicara dalam bahasa Indonesia. Tapi kalau tuan berkata bahwa tuan telah berjumpa dengan yang maha tidak ada, sukar bagi saya untuk mengerti perkataan dan bahasa tuan. Mungkin saya belum cukup umur untuk belajar bahasa Indonesia sebagaimana yang tuan pergunakan.” Mendengar pernyataan A. Hassan, para hadirin tertawa, sedangkan Suradal kelihatan marah (Tamar Djaja, 1980: 84).

Baca:  Pemuda Persis Luncurkan “Buku Tauhid Hasan 2”

Keempat, saat ditanya mengenai hukum makan daging kodok. A. Hassan menjawab halal karena yang diharamkan hanya empat dalam al-Qur`an. Setelah mendengar jawaban beliau, si penanya langsung berkomentar, “Berarti Tuan pantas disebut ulama kodok.” A. Hassan tak kehabisan akal, dia langsung bertanya mengenai hukum memakan kerbau. Si penanya menjawab, “Boleh.” Kemudian A. Hassan menimpali, “Berarti Tuan pantas disebut ulama kerbau.” (Herry Mohammad  dkk, Tokoh-Tokoh Islam yang  Berpengaruh Abad XX, 18).

Demikianlah sekelumit kisah logika jenaka dari ulama yang dikenal pembaharu, serba bisa, sederhana, dan piawai berdebat ini. Semoga kiprahnya dalam dunia dakwah baik lisan maupun tulisan bisa diteladani oleh generasi selanjutnya.

Sebagai tambahan pamungkas, ulama karismatik yang terkenal jago debat ini bukanlah figur yang selalu keras dan garang. Beliau terlihat keras, hanya ketika sedang berdebat atau berpolemik dalam tulisan di media massa. Adapun dalam pergaulan, beliau dikenal lembut dan sopan.  Tamar Djaja menilai beliau bagaikan singa dalam tulisan, dan laksana domba dalam pergaulan (Tamar Djaja, Riwayat Hidup A. Hassan, 15). Wallahu a’lam.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:A. Hassanateisdaging kodokdaidai politikudebatlogikaPemudaperjuanganPersistuhanulama kerbauulama kharismatikulama kodok
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Perlunya Lembaga Syura Tiap Daerah untuk Memilih Pemimpin
Tulisan selanjutnya Prancis Desak PBB mengadakan Pertemuan Membahas Suriah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Italia Geram Sekjen NATO Ungkap Perannya Bantu Amerika dalam Perang Iran

Berita
25 Juni 2026 12:11
Dua Anggota Garda Revolusi Iran Ditembak Mati dekat Kurdistan
Zionis ‘Israel’ Habiskan Hampir Rp3.673 Triliun untuk Perang sejak 7 Oktober
Tujuh Negara Eropa Menyeru RSF untuk Menghentikan Segera Kekerasan di Sudan
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam

Terbaru

  • Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
  • Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution
  • Dua Anggota Garda Revolusi Iran Ditembak Mati dekat Kurdistan
  • Ngaku Bisa Terbang, Pendeta Hindu di India Tewas Usai Terjatuh dari Bukit
  • Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
  • Ketua Umum MUI Dorong Pemerintah Tiru Rusia Tetapkan Gerakan LGBT Teroris
  • Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
  • MTQ Nasional 2026 di Semarang Siap Jadi Panggung Syiar Islam dan Budaya Nusantara
  • Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi
  • MUI Siapkan Naskah Akademik dan RUU Pidana LGBT, Akan Didorong Masuk Prolegnas

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?