Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Mantan Rektor Kritik Cara IAIN dan UIN Ajarkan Tafsir tanpa Bahasa Arab

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 27 Juni 2014 08:10 8:10 am
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 27 Juni 2014 08:10
Bagikan
Kampus UIN Malang, Jawa Timur, yang pernah dipimpin Imam Suprayogo selama 16 tahun telah menjadi universitas terkemuka dan mendunia
Bagikan

Hidayatullah.com– Metode pembelajaran ilmu tafsir al-Qur’an di berbagai Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dikritisi oleh Prof Dr Imam Suprayogo, mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Menurutnya, untuk mempelajari tafsir para mahasiswa harus memahami bahasa Arab dahulu. Sedangkan di berbagai IAIN tidak demikian.

“Kita ini kadang-kadang ndak lurus yah. Seperti di IAIN-IAIN itu, diajari tafsir, ilmu tafsir sampai 8 SKS. Pokoknya banyak. Tapi anak yang diajari itu ndak ngerti bahasa Arab. Wong anak ndak bisa bahasa Arab kok diajarin tafsir? Itu tafsir apa gitu loh?! Jangankan 8 SKS, ditambahi 2 SKS (jadi) 10 SKS, (lalu) 12 SKS, 16 SKS, 20 SKS, kalau orangnya ndak pintar (bahasa Arab sama saja. Red),” ujarnya saat memenuhi undangan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) di Kalimulya, Depok, Jawa Barat, Rabu (25/6/2014).

Imam mengatakan, bahasa adalah alat, dan bahasa Arab adalah alat untuk mempelajari tafsir. Sehingga, kalau belajar tafsir tanpa bahasa Arab, maka tak akan bisa sampai kapan pun. Dia pun mengiaskan pentingnya alat dalam sebuah pekerjaan.

“Kerja apa saja itu pakai alat. Wong cari ikan aja ke sungai pakai alat kok, pakai pancing atau pakai jaring. Kalau cari ikan ke sungai lalu ndak pakai jaring, ndak pakai pancing, (tapi) pakai tangan, coba, apa iya bisa ketemu ikannya itu? Ya ketemu, tapi ikan yang sakit-sakit itu atau yang mati,” ujarnya berguyon, disambut tawa peserta acara Curah Gagasan Konsep Pendidikan Berbasis Kebutuhan Global Menuju Indonesia Memimpin.

“Yang saya jadi heran itu, pikiran-pikiran para rektor itu diletakkan di mana? Kok hanya bilang banyaknya (SKS) itu loh. Wong orang ndak tahu, ndak punya alat, kok lalu kemudian disuruh mencari yang seharusnya pakai alat itu. Untuk memahami al-Qur’an ya pakai bahasa Arab itu,” lanjutnya menegaskan.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Yang Beda di UIN Malang

Imam lantas memaparkan, saat menjadi rektor UIN Malang, dia menekankan kepada para mahasiswanya untuk belajar bahasa Arab dahulu baru belajar ilmu tafsir. Bahkan dia mencari pengajar langsung dari luar negeri.

“Logika kita ini mengatakan bahwa untuk bisa tafsir, bisa ulumul qur’an pakai bahasa Arab. Kan gitu kan. Tapi kita kok berani-beraninya nyalahi logika kita sendiri gitu loh?! Karena itu, kalau saya, sebelum (mahasiswa) diajarin tafsir, sebelum diajari hadits, maka harus belajar bahasa Arab dulu,” ujarnya.

Imam menuturkan, “Kalau bahasa Arab dua hari ndak bisa, tiga hari. Kalau tiga hari ndak bisa, ya empat hari. Kalau empat hari ndak bisa, lima hari. Kalau lima hari ndak bisa, ya enam hari, tujuh hari, sehari-hari, sampai bisa. Mahasiswa lalu tanya, ‘Kalau setiap hari belajar lima jam itu berapa SKS, Pak?’ (Saya jawab,) ‘Lah aku sudah ndak paham SKS. Yang saya pahami kamu tuh ndak ngerti bahasa Arab, ayolah belajar!’.”

Di kampusnya pun, bebernya, dia memadukan antara tradisi pesantren dengan tradisi universitas. Tujuannya tentu agar para mahasiswanya bisa memahami dan menjalankan ajaran Islam secara utuh. Tidak setengah-setengah layaknya kaum liberal.

“Karena itulah kalau saya, tak kombinasikan tradisi saya itu antara tradisi pesantren, tradisi universitas, (jadi) universitas pesantren. Seluruh mahasiswa saya itu harus bertempat tinggal di situ. Lalu kemudian dia ngaji, ya shalat jamaah, ya shalat malam mendoakan orangtuanya tengah malam,” tutur pria yang 16 tahun memimpin UIN Malang ini.

Imam menjelaskan, empat hal penting yang harus ada dalam pendidikan, yaitu tilawah, tazkiyah, taklim, dan hikmah. Empat poin ini diambilnya dari al-Qur’an.

“Karena itu dulu di pesantren, para kiai itu tengah malam bangun, ambil air wudhu, shalat malam, lalu mendoakan keluarga dan santri-santrinya. Ini adalah bagian daripada tazkiyah,” ujarnya.

Sementara saat ini, kritiknya lagi, apa masih ada guru-guru yang bersikap seperti para kiai tersebut. Palingan justru hanya mementingkan terselesaikannya kurikulum tanpa peduli empat poin tersebut.

“Kita ini kan baru tilawah yang sedikit-sedikit ini. Tazkiyah-nya ndak kita lakukan. Tapi kalau Islam menurut saya ya empat hal kayak begini ini, itu harus dilakukan. Dan itulah Hidayatullah menurut saya bisa melakukan seperti itu,” ujarnya pada acara yang berlangsung di aula Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah itu.*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:IAINpendidikan islamUIN
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Khutbah Tarawih Masjid-Masjid Mesir Khusus Mengenai Akhlak Rasulullah
Tulisan selanjutnya Prof Dr Imam Suprayogo: Kaum Liberal tak Memahami Islam secara Utuh

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Berita
1 Juni 2026 10:40
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Terbaru

  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?