Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kajian

Agar Ramadhan Membekas di Bulan-bulan Berikutnya

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 14 April 2023 10:42 10:42 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 April 2023 05:00
Bagikan
Agar Ramadhan Membekas di Bulan-bulan Berikutnya
Bagikan

Hidayatullah.com | Tak terasa, kita sudah berada di bulan Ramadhan kembali. Ada banyak kebaikan dan keberkahan yang kita dijumpai di bulan Ramadhan—seperti saling berbagi antarsesama, lantunan ayat suci terdengar di mana-mana, masjid dan mushala penuh dengan jamaah, dan program televisi pun menjadi lebih bernuansa religi.

Menurut A’idh Al-Qarni, dalam bukunya 30 Renungan Ramadhan, ada banyak rahasia, hikmah, dan tujuan di balik apa yang disyariatkan Allah—baik yang bisa diketahui akal maupun tidak. Generasi salaf saleh paham betul tentang puasa, karena itu mereka sangat mencintai Ramadhan dan begitu khusyuk dalam beribadah.

A’idh Al-Qarni menambahkan, puasa merupakan eksperimen luar biasa bagi jiwa agar berada dalam kondisi siap seratus persen untuk menanggung beban dan menghadapi persoalan, siap menunaikan pekerjaan-pekerjaan penting dan agung. “Seperti jihad fi sabilillah, menginfakkan harta benda di jalan Allah, dan berkurban,” tulisnya.

Ketua Program Studi Islam Pascasarjana Universitas Muham­madiyah Jakarta, Dr. Oneng Nurul Bariyah mengatakan, puasa itu tidak hanya menahan lapar dan dahaga, dari terbit fajar hingga terbenam matahari, tetapi lebih dari itu. “Puasa merupakan latihan dan membakar dosa,” ujar Nurul yang juga Anggota Majelis Tarjih PW Muhammadiyah Jakarta.

Menurutnya, berpuasa itu bisa dibagi menjadi beberapa kelompok. Pertama, puasa secara formal atau sekadar menahan lapar dan dahaga. Kedua, puasa menjaga penglihatan, pendengaran, dan segala hal yang membatalkan pahala puasa. Karena dalam puasa itu, ada yang membatalkan puasa dan ada yang membatalkan pahala puasa.

Baca Juga

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah
Rahasia Hari Arafah yang Dibenci Iblis: Inilah 10 Keutamaannya
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Menyiapkan Kurban Terbaik tanpa Memaksa Diri di Luar Kesanggupan

Segala hal yang bisa membatalkan pahala puasa inilah yang sebenarnya dapat berpengaruh terhadap perilaku. Banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapat apa-apa kecuali rasa lapar dan haus. “Ada istilah yang mengatakan ibadah paling mudah adalah puasa menahan lapar dan dahaga. Anak kecil pun bisa melakukannya,” katanya.

Padahal, implikasi puasa seharus­nya menciptakan orang yang bertakwa. Itulah kenapa dalam sebuah hadis disebutkan bahwa ibadah puasa menjadi rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. “Ibadah shalat, zakat, dan haji itu dapat dilihat, sedangkan puasa tidak bisa dilihat karena menjadi rahasia Allah,” paparnya kepada Majalah Gontor.

Ketiga, berpuasa hendaknya selalu ingat Allah agar senantiasa merasa diawasi dalam segala hal. Hikmah puasa tersimpul dalam takwa kepada Allah, taat kepada perintah-Nya, menundukkan hawa nafsu dan syahwat, mengendalikan seluruh anggota tubuh, menyehatkan badan, membakar dosa-dosa, dan menumbuhkan rasa kepedulian sosial.

Inilah ciri-ciri orang yang bertakwa, yakni menjalankan perintah Allah, baik yang fardhu maupun sunah, dan menjauhi hal-hal buruk, bisa berupa perbuatan, keyakinan, maupun itikad. “Ada syirik besar dan syirik kecil. Dan yang paling banyak terjadi dan dikhawatirkan Nabi adalah syirik kecil atau riya’,” ujarnya.

Agar Ramadhan tidak sebatas selesai saat lebaran, Oneng Nurul Bariyah mengatakan, hendaknya kita memiliki kekhawatiran dalam hati, apakah puasa kita diterima atau tidak. Kekhawatiran akan membuat kita selalu ingat kepada Allah dan berhati-hati dalam bertindak. “Ingat kepada Allah itu bagian dari ciri orang yang bertakwa,” tandas Nurul.

Untuk itu, niat berpuasa kita harus ikhlas karena Allah. Kalau tidak ada keikhlasan dalam diri seseorang, mana mungkin dalam ibadah, termasuk puasa, bisa memberikan hikmah. Tidak hanya itu, agar puasa kita baik, maka sebelumnya harus dipersiapkan. Karena itu, ada istilah mengatakan bahwa bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan tidak bisa dipisahkan.

Keberhasilan kita di Ramadhan sebenarnya tergantung pada kema­tang­an diri kita dalam memper­siapkan dan menyambut bulan suci ini. Dengan begitu, kita dapat memanfaatkan waktu seoptimal mungkin. Rasulullah sendiri melakukan pengondisian fisik dan ruhani sebelum Ramadhan tiba, seperti puasa sunah dan amalan ibadah lainnya.

Rasulullah SAW pernah mengajar­kan doa kepada kita. “Allaahumma baarik lana fii rajab wa baarik lana fii Sya’ban wa baallighna fii Ramadhan.” Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab ini, dan berkahilah kami di bulan Sya’ban ini, dan sampaikan kami (panjangkan usia kami) hingga bulan Ramadhan.

Dr. Sa’id al-Qahthani menulis dalam Buku Pintar Puasa Sunah, Rasulullah adalah orang yang paling banyak berpuasa di bulan Sya’ban, dan keutamaan berpuasa di bulan tersebut telah banyak dibahas dalam hadis.

Dalam riwayat Aisyah ra. dijelas­kan, “Aku tidak pernah melihat Nabi berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa seperti beliau lakukan pada bulan Sya’ban.”

Dalam riwayat Ummu Salamah disebutkan, “Aku tidak pernah melihat beliau berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali pada bulan Sya’ban dan Ramadhan.”

Menurut Syekh Ibnu Baz yang pernah mendudukkan hadis Aisyah dengan hadis Ummu Salamah, apa yang Aisyah ra. sebutkan dalam riwayat ini adalah paling umum, yaitu beliau berbuka pada sebagian bulan Sya’ban. Pada kesempatan lain, beliau berpuasa sebulan penuh, sebagaimana disebutkan dalam hadis Ummu Salamah.

Usamah bin Zaid juga meriwayat­kan, “Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa pada satu bulan seperti yang engkau kerjakan dari bulan Sya’ban.” Beliau bersabda, “Itu adalah bulan di antara Rajab dan Ramadhan yang dilupakan manusia. Bulan Sya’ban merupakan bulan di mana amal-amal diangkat dihadapkan kepada Rabb semesta alam. Karena itu, aku senang apabila amalku diangkat, sedangkan aku berpuasa.”

Berpuasa di bulan Sya’ban itu ibarat ibadah rawatib atau ibadah sunah yang mengiringi ibadah wajib. Sebagaimana keutamaan shalat rawatib mengiringi shalat wajib. “Karena puasa di bulan Sya’ban sangat dekat dengan puasa Ramadhan, maka puasa tersebut memiliki keutamaan. Puasa ini bisa menyempurnakan puasa wajib di bulan Ramadhan,” tulisnya.

Hal senada juga disampaikan Abdullah Taslim, MA bahwa Imam Bisyr bin al-Harits al-Hafi pernah ditanya tentang orang-orang yang rajin beribadah hanya di bulan Ramadhan. Beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang sangat buruk, karena tidak mengenal hak Allah kecuali di bulan Ramadhan. Hamba Allah yang saleh adalah orang yang rajin dan sungguh-sungguh beribadah dalam setahun penuh.”

Dalam kisah Imam asy-Syibli sebagaimana yang dinukil oleh imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam Kitab Latha-iful Ma’aarif. Suatu ketika, asy-Syibli pernah ditanya, “Mana yang lebih utama, bulan Rajab atau Sya’ban?” Beliau menjawab, “Jadilah kamu hamba Rabbani—yang selalu beribadah kepada-Nya di setiap waktu dan tempat, dan janganlah kamu menjadi hamba Sya’bani—yang hanya beribadah kepada-Nya di bulan Sya’ban.”

Salah satu tanda diterimanya ibadah puasa kita adalah beristiqa­mah setelah bulan Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda, “Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang paling terus-menerus dikerjakan meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim). “Jika Rasulullah menger­jakan amal kebaikan, maka beliau akan merutinkannya.” (HR. Muslim)

Karena itu, Allah SWT juga mensyariatkan puasa 6 hari di bulan Syawal. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan (puasa sunah) enam hari di bulan Syawal, maka (dia akan mendapatkan pahala) seperti puasa setahun penuh.” (HR. Muslim)

Adanya puasa sunah sebelum dan sesudah Ramadhan—baik di bulan Rajab, Sya’ban, Syawal, maupun puasa-puasa sunah lainnya, seperti puasa Senin-Kamis dan puasa tengah bulan merupakan bukti bahwa kita harus menjadi hamba Rabbani. Selain itu, ada makna tersirat di dalamnya, yakni agar Ramadhan senantiasa membekas di bulan-bulan berikutnya.

Semoga kita bukan termasuk golongan orang-orang yang celaka karena tidak mendapatkan ampunan Allah SWT selama bulan Ramadhan, sebagaimana disebut dalam doa Jibril dan diamini Rasulullah SAW, “Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya yang belum diampuni oleh Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Bukhari).* (Muttaqien/MG)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ciri-ciri orang bertakwaHeadlineislamManfaat Puasa RamadhanPilihan RedaksiPuasaRamadhan 2023
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Saudi, Qatar, UEA Idul Fitri 1444 Hari Jumat 21 April
Tulisan selanjutnya Lebih dari 2,5 Juta Jamaah Khatam al-Quran di Masjidil Haram

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Global Sumud FLotilla
Berita

Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Berita
30 Mei 2026 09:51
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Hikmah

Kisah Jenaka Qurban: 1 Ekor Ayam Ditebus 30 Domba

5 Mei 2026 11:04
Jendela Keluarga

Anak Saleh Buah dari Kesalehan Orang Tua?

26 April 2026 14:13
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?