Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Bercerminlah! Agar Tahu Kekurangan Kita

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 Mei 2023 10:58 10:58 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 Mei 2023 11:00
Bagikan
Bagikan

Jika kita ingin orang lain berbuat baik pada kita, maka berbuat baiklah pada orang lain,  karena orang lain adalah cermin kita

Hidayatullah.com | BENAR memang kata orang, jikalau kita ingin terlihat lebih baik maka bercerminlah. Karena dengan cermin kita bisa mengetahui kotoran atau noda di wajah kita, sekecil apapun itu, bahkan pada bagian-bagian yang tak bisa dijangkau oleh pandangan mata.

Tapi sayang, tidak semua orang bisa bercermin, lebih tepatnya tidak mengetahui fungsi cermin yang sebenarnya. Apalagi cermin kehidupan kita. Rasulullah ﷺ telah bersabda

المؤمن مرآة المؤمن

“seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya.”

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Untuk mendapatkan hasil yang sempurna, seyogyanya kita mengetahui langkah-langkah penggunaan cermin yang benar. Berikut ini beberapa poin yang berhasil pernulis rangkum dari berbagai kata-kata bijak.

Mencari kesalahan, kekurangan juga kotoran yang ada pada diri kita (instropeksi diri). Mungkin kita tidak sadar, bila ternyata baju yang kita pakai itu sobek atau bolong.

Begitupun dalam keseharian kita. Bagaimana kita bisa mengetahui kesalahan, kekurangan dan keburukan diri kita jika tanpa melalui orang lain, sabda Rasulullah ﷺ

انّ احدكم مرآة اخيه

“sesungguhnya setiap dari kalian adalah cermin bagi saudaranya.”

Terkadang kita terlena dengan hanya mencari-cari keburukan orang lain, mengumbar kesalahan orang lain, tapi kita tidak pernah melihat dan mengoreksi keburukan, kesalahan dan kekurangan diri kita sendiri. Wajar saja jika pepatah mengatakan, “semut di seberang laut tampak, gajah di pelopak mata tak tampak.“

Itulah kesalahan dan kelalaian kita yang perlu di benahi. Maka dari itu, sebelum kita menilai orang lain, nilailah diri kita sendiri.

Seperti maqolah;

حاسبوا قبل ان تحاسبوا

“koreksilah diri kalian sebelum kalian dikoreksi (dihisab)”

Caranya? Bisa dengan bertanya pada orang lain apa saja kesalahan dan kekurangan kita, atau dengan meresapi kritikan atau ejekan orang lain atau bahkan teman kita sendiri. Khusnudzon sajalah.

Bila dia mengkritik, bukan berarti dia benci atau sengit. Justru itu merupakan bukti bahwa dia sebenarnya perhatian pada kita dan ingin kita merubahnya.

Itu merupakan peluang bagi kita untuk mengoreksi dan menyadari kesalahan serta kekurangan kita, walaupun kebanyakan dari kita jika dikritik malah marah-marah, termasuk saya. Astaghfirullahaládzim.

Mengetahui kesalahan yang kecil atau bahkan yang tidak bisa terjangkau oleh pandangan mata (tidak kita sadari). Sering kita merasa apa yang telah kita lakukan sudah dirasa benar tapi belum tentu menurut orang lain seperti itu, karena memang dia melihatnya dari sisi yang berbeda sehingga terkadang kita tidak menyadari kesalahan itu sendiri atau juga dalam gagasan, pendapat kita.

Sehingga Imam Syafi’i pernah berkata

 رأينا صدق يحتمل الخطاء و رأي غيرنا خطاء يحتمل الصدق

“Pendapatku benar tapi juga masih bias salah, dan dapat selainku salah, tapi juga masih bisa benar.”

Memperbaiki kesalahan dan bertaubat lebih baik. Setelah kita mengetahui kesalahan kita, tentu kita juga ingin memperbaikinya supaya tidak terulang lagi.

Seperti kata pepatah “keledai tak akan pernah jatuh ke lubang yang sama”. Dalam hal itu tentu juga kita membutuhkan orang lain.

Tujuannya, supaya kita bisa tahu cara yang benar dalam memperbaiki diri, pendek kata “menyelesaikan masalah tanpa menambah masalah”.

Dalam hal ini mungkin bisa dengan meminta nasehat, pertimbangan atau kita bicarakan dengan teman. Bahasa gaulnya curhat atau kalau menurut santri musyawarah. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ

ما خاب من استشار و لا ندم من استخار

“Tidak ada ruginya orang yang bermusyawarah, dan tidak ada sesal orang yang beristikharah.”

Meneliti ulang hasilnya (evaluasi diri). Setelah kita selesai memperbaikinya, coba kita periksa kembali, siapa tahu masih ada suatu yang tidak benar atau kurang pas.

Dalam suatu maqolah dikatakan

إذا تّم الأمر بدأ نقصه

“Ketika suatu perkara telah sempurna, baru akan nampak kekurangannya.”

Cobalah kita tanyakan lagi pada orang lain, sudah benarkah kita dalam menyikapi dan memperbaikinya? Hal ini bertujuan agar kita mencapai klimaks yang sempurna.

Menyamakan/membandingkan dengan orang lain (barometer standarisasi). Jika kita ngefans pada seorang idola, atau kita melihat orang yang baik, tentu kita ingin meniru dan mengikuti gayanya, katakanlah biar kita sama, setidaknya mirip dia.

Begitupun sebaliknya, bila kita melihat seseorang itu jelek, tentu kita tidak ingin seperti  dia. Itu manusiawi memang.

Terkadang kita juga perlu menempatkan seseorang sebagai barometer standaritas diri kita. Mau kita jadikan seperti apa diri kita tak lepas dengan memandang orang lain sebagai tolak ukurnya. Siapa orangnya, itu terserah Anda.

المرء مع من احبّه

“Seseorang itu akan bersama dengan orang yang ia sukai kelak di hari kiamat.”

Dan seperti apa dia, ya itulah perwujudan kita setelah menirukannya. Jika kita melihat kesempurnaan pada diri orang lain maka jangan hanya kita melihat hasilnya, karena bisa saja itu akan menjadi bayangan semu bagi kita, fatamorgana dan kamuflase belaka.

Tapi cobalah kita menilik prosesnya, bagaimana dia bisa mencapai kesempurnaan itu, supaya kita bisa menemukan dan melihat bayangan yang benar-benar nyata.

Atau juga ketika kita tidak ingin menemukan bayangan dalam cermin terlihat buruk maka janganlah memperburuk diri kita. Dalam arti, jika kita tidak ingin orang lain menyakiti atau menghina kita, maka jangan sampai pernah kita menyakiti atau menghina orang lain, pun juga kita ingin dia berbuat baik pada kita maka berbuat baiklah padanya. Karena orang lain adalah cermin nyata bagi kita.

“Apabila baik (amal kita) maka baik pula (balasannya) dan bila buruk (amal kita) maka buruk pula (balasannya).”

Semoga Anda bisa bercermin dan sayapun juga. Amin.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bercermincermin diriHeadlinePilihan Redaksi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya China Minta Israel untuk ‘Berhenti Melanggar Batas’ Palestina
Tulisan selanjutnya Tips Make Up Muslimah Natural untuk Wisuda

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Izinkan Pasukan Internasional Masuk Gaza, Akankah Penderitaan Warga Palestina Berkurang?

Berita
27 Juli 2026 15:11
‘Israel’ Disebut Gali Parit Berisi Buaya di Sekitar Blok Penjara Tahanan Hamas
Pemerintah Optimistis Ekonomi Syariah Jadi Motor Pertumbuhan Nasional
Menjaga Warisan Ulama di Era Disrupsi Informasi
Lindungi Konsumen, Pemerintah Musnahkan Ratusan Ton Bahan Pakan Ternak Terkontaminasi Porcine

Terbaru

  • MES Sebut Pertumbuhan Ekonomi Belum Berbanding Lurus dengan Kesejahteraan Masyarakat
  • Menag: Hasil KUII VIII Akan Jadi Program Kerja Kementerian Agama
  • Trump Abaikan Keberatan Netanyahu soal Rencana Penjualan F-35 ke Turki
  • KUII VIII Hasilkan 12 Rekomendasi Strategis untuk Umat, Bangsa, dan Negara
  • Hamid Fahmy Zarkasyi: Krisis Peradaban Berawal dari Hilangnya Adab dalam Pendidikan
  • Prof Masykuri Abdillah: Rekomendasi KUII VIII Harus Dikawal hingga Menjadi Kebijakan Publik
  • Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi: Sekolah Tahfidz Harus Melahirkan Manusia Beradab
  • Komite Teknokrat Palestina Mengaku Siap Mengelola Gaza usai ‘Israel’ Mundur
  • Keluarga Adalah Sekolah Pertama Pembentuk Peradaban
  • Mendikdasmen: KUII VIII Momentum Perkuat Persatuan Umat dan Dukung Pembangunan Nasional

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?