Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Gender Bukanlah Wacana Ilmiah (Tangapan Pidato Donald Trump)

Ahmad
Terakhir diupdate: 28 November 2024 15:13 3:13 pm
Ahmad
Dipublikasikan 26 November 2024 15:55
Bagikan
Bagikan

Jenis kelamin yang akan diakui oleh pemerintah Amerika  Serikat (AS) hanyalah laki-laki dan perempuan, Donald Trump menolak ide gender ketiga

Oleh: Dr Bagus Riyono

Hidayatullah.com | PADA saat pidato setelah pemenangan pemilihan presiden Amerika 2024, Donald Trump menyampaikan pesan yang sangat tegas terkait wacana gender.

Seperti sudah diketahui umum selama ini Amerika adalah pelopor dan lokomotif utama yang mempropagandakan ideologi gender. Ideologi gender ini merupakan landasan argumen bagi gerakan LGBT dunia yang tiga tahun terakhir telah menimbulkan keresahan dan konflik horizontal terutama di masyarakat Amerika.

Para pendukung ideologi gender ini mempropagandakan bahwa gender adalah pilihan yang tidak boleh diganggu dan dilindungi undang-undang. Seorang anak laki-laki yang merasa dirinya perempuan, harus diakui sebagai perempuan dan sebaliknya.

Baca Juga

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Di Bawah Teduh Tauhid Rahamutiyah: Sebuah Obituari
Tragedi San Diego & Hipokrisi Barat
Tolak Penyembelihan Dam Haji di Indonesia, Begini Fatwa MUI
Mengelola Ikhtilaf: Menjaga Ukhuwah di Tengah Perbedaan

Hal ini tidak sebatas pada wacana saja dan sudah diwujudkan dalam bentuk praktek operasi ganti kelamin yang menjamur terutama di Amerika. Salah satu yang cukup mengejutkan adalah perusahaan Disney yang selama ini dikenal sebagai bisnis hiburan bagi anak-anak mengumumkan bahwa mereka juga mendirikan klinik ganti kelamin.

Sekolah-sekolah umum yang dikelola oleh pemerintah Amerika telah mengadopsi ideologi ini sehingga sering terjadi konflik dengan orang tua murid.

Pihak sekolah bersikap bahwa anak-anak mulai umur 4 tahun harus dibebaskan untuk menentukan gendernya sendiri dan akan mengarahkan mereka pada klinik ganti kelamin tanpa harus meminta persetujuan orang tua.

Sementara itu, orang tua merasa berhak untuk mengarahkan anak masing-masing dan menuduh sekolah telah merampas hak mereka sebagai orang tua.

Salah satu kasus yang terjadi di Kanada, seorang Ayah sudah menjadi korban dan harus meringkuk di tahanan karena dia tidak setuju dengan anaknya yang akan berganti kelamin.

Merespon fenomena gender yang terjadi dalam masyarakatnya, Donald Trump menyampaikan bahwa di bawah kepemimpinannya praktek-praktek “gender affirming care” tersebut akan dilarang dan pelakunya akan dihukum.

Donald Trump berargumen bahwa ide tentang seorang individu yang merasa terjebak dalam tubuh yang berbeda gender adalah ide yang absurd dan tidak dikenal sepanjang sejarah kehidupan manusia.

Dia mengancam para pelaku operasi ganti kelamin pada anak-anak dengan pasal tentang child abuse dan akan dihukum berat. Institusi yang melaksanakan dan mempraktikkan hal tersebut akan tidak mendapatkan bantuan anggaran dari pemerintah lagi.

Donald Trump juga menegaskan bahwa orang tua-lah yang berhak untuk menjaga anak masing-masing. Selain itu Donald Trump menjelaskan bahwa yang disebut gender adalah jenis kelamin yang sudah dimiliki sejak lahir.

Jenis kelamin yang akan diakui oleh pemerintah Amerika hanyalah laki-laki dan perempuan, dengan kata lain Donald Trump menolak tentang ide gender ketiga.

Mungkin ini ada yang menganggap sebagai hal yang tidak mendasar karena Donald Trump sebagai perwakilan dari partai republik memang konservatif.

Dengan kata lain, orang mungkin beranggapan ini hanyalah retorika politik saja dan meragukan apakah betul betul akan dilaksanakan dalam pemerintahannya itu.

Namun demikian, paling tidak fenomena ini bisa membuka mata kita yang selama ini beranggapan bahwa wacana gender adalah sesuatu yang ilmiah sehingga di berbagai Universitas muncul program studi tentang gender.

Yang kita saksikan di dalam dinamika masyarakat Indonesia, para pendukung LGBT cenderung berteriak bahwa mereka yang tidak setuju dengan LGBT adalah mereka yang mengingkari sains. Beberapa waktu yang lalu sikap ini nampak ketika ada kasus di Fakultas Teknik UGM terkait isu LGBT ini.

Diberitakan di Tempo bahwa tanggal 1 Desember 2023, Dekan Fakultas Teknik UGM mengeluarkan surat edaran yang memuat larangan Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender di lingkungan Fakultas Teknik.

Surat Edaran (SE) ini memicu protes dari kalangan pendukung LGBT dan mereka mengatakan bahwa UGM sebagai perguruan tinggi telah bersikap tidak ilmiah karena melarang LGBT. Protes keras dari para pendukung LGBT ini akhirnya diredam oleh rektorat UGM.

Rektorat UGM menyatakan akan menegur Dekan Fakultas Teknik karena isu ini. Kita bisa menyimpulkan bahwa UGM sebagai institusi ilmiah merasa harus mengoreksi sikap civitas akademika-nya ingin mempertahankan positioning UGM sebagai lembaga ilmiah.

Klaim bahwa wacana gender yang mencakup isu LGBT ini sebagai sesuatu yang ilmiah, didasarkan pada DSM yang seharusnya merupakan dokumen ilmiah tentang masalah dan gangguan jiwa.

DSM itu sendiri sebenarnya sudah berubah menjadi instrumen yang melayani kepentingan ideologi gender. Dalam artikelnya yang berjudul “Politisasi Ilmu Psikologi”, saya pernah mengungkapkan sejarah tentang bagaimana APA berubah haluan setelah semakin banyak pimpinannya yang merupakan pelaku dan pendukung LGBT.

Disebutkan bahwa Nicholas Cummings, mantan presiden APA telah menjadi saksi mata proses perubahan orientasi tersebut.

Mencermati wacana gender tersebut, pidato Donald Trump memberikan konfirmasi bahwa wacana gender ini adalah masalah politik, bukan masalah ilmiah.

Sesuatu yang ilmiah tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh politik seperti kata Einstein, “politics is for today, equation is for eternity”.

Einstein menyampaikan bahwa politik akan selalu berganti-ganti karena dia hanya berusia pendek dan melayani kepentingan sesaat. Sementara itu Science, yang dia lambangkan dengan “equation”, adalah sesuatu yang abadi karena dia akan bertahan selamanya.

Dengan kata lain, segala sesuatu yang betul-betul bersifat ilmiah tidak akan mudah untuk dipolitisasi. Science yang valid akan tetap kokoh karena didukung dengan akal sehat dan bersifat alamiah.

Salah satu ciri akal sehat adalah koherensi dalam argumen. Para penganut ideologi gender mengingkari realitas biologis manusia yang sejak lahir sudah nyata jenis kelaminnya sebagai laki-laki atau perempuan.

Mereka menganggap kondisi biologis yang alamiah tersebut tidak harus diikuti dan lebih mendorong pendapat atau pilihan pribadi tentang gender walaupun tidak sejalan dengan kondisi biologisnya.

Hal ini menjadi bukti yang jelas bahwa ideologi gender tidak koheren yang berarti tidak ilmiah dan bertentangan dengan akal sehat. Secara alami, manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan. Wacana gender hanyalah ide atau halusinasi yang bersifat spekulatif dan akan menyengsarakan manusia ketika tidak sejalan dengan realitas alamiah.*

Presiden Asosiasi Psikolog Muslim Internasional (IAMP)

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Amerika SerikatDonald Trumpgendergender ketigaHeadlinejenis kelamin
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya China Temukan Cadangan Emas senilai US$ 80 Miliar di Hunan
Tulisan selanjutnya Arkeolog Israel Pejabat Tinggi Militer Resign Buntut Tewasnya Arkeolog ‘Israel’ di Lebanon

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Berita
2 Juni 2026 17:20
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaGhazwul Fikr

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!

6 Mei 2026 12:55
Pustaka

Menuangkan Ide Melalui Novel: Telaah Karya Abbas Aqqad, Malek Bennabi dan Hamka

4 Mei 2026 11:13
Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Pustaka

Telaah Buku Dr. Raghib As-Sirjani: Syi’ah dalam Timbangan Sejarah dan Aqidah

22 April 2026 22:47
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?