Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kajian

Rintangan dalam Bersedekah: Tafsir Surat Al-Baqarah:268

Ahmad
Terakhir diupdate: 9 Desember 2024 07:25 7:25 am
Ahmad
Dipublikasikan 9 Desember 2024 08:25
Bagikan
Bagikan

Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuthi memberikan penjelasan yang ringkas tafsir Surat Al-Baqarah 268, bahwa setan menggunakan ketakutan sebagai cara menghalangi manusia berinfak dan bersedekah

Hidayatullah.com | “ALA BIASA KARENA BIASA,” demikian kata pepatah Melayu, yang artinya, hal-hal yang sukar akan lebih mudah jika dilakukan dengan latihan. Hal ini, cocok dengan amalan sedekah.

Semua manusia cinta harta. Karenanya bagi orang yang belum gemar bersedekah, adalah sesuatu yang kayaknya berat menyisihkan sebagian rezekinya yang dicari dengan jerih payah hanya untuk membantu orang lain.

 Seringkali ketika ingin bersedekah dan menafkahkan harta di jalan Allah, terkadang timbul bisikan melarang dan menakut-nakuti. Itu adalah ulah setan, yang menakut-nakuti manusia dengan takut miskin.

اَلشَّيْطٰنُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاۤءِ ۚ وَاللّٰهُ يَعِدُكُمْ مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Baca Juga

Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution
Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
Khutbah Jumat: Tauhid, Fondasi Peradaban yang Tak Pernah Runtuh
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan kamu ampunan dan karunia-Nya. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui”. (QS: al-Baqarah  [2]:268)

Para ilmuwan berbeda pendapat tentang asal kata setan dan hakikatnya.  Namun pakar-pakar bahasa Arab menyatakan, bahwa syaithan (setan) merupakan kata Arab asli yang sudah sangat tua, bahkan bisa jadi lebih tua dari kata-kata serupa yang digunakan oleh selain orang Arab.

Ini dibuktikan dengan adanya sekian kata Arab asli yang dapat dibentuk dengan bentuk kata syaithan. Misalnya ( شطط) syathatha, (شاط) syatha, ( شوط) syawatha,( شطن) syathana, yang mengandung makna-makna jauh, sesat, berkobar dan terbakar serta ekstrim.

kata setan tidak terbatas pada manusia dan jin, tetapi juga dapat berarti pelaku sesuatu yang buruk atau tidak menyenangkan, atau sesuatu yang buruk dan tercela.

Bukankah setan merupakan lambang kejahatan dan keburukan. Setan menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan, dalam arti, bila manusia bermaksud bersedekah, ada bisikan dalam hati manusia yang dibisikkan oleh setan, “Jangan bersedekah, jangan menyumbang, hartamu akan berkurang, padahal engkau memerlukan harta itu, jika kamu menyumbang, maka kamu akan terpuruk dalam kemiskinan.

Selain itu, setan juga menyuruh berbuat fahisyah. Fahisyah yang dimaksud adalah segala sesuatu yang dihimpun oleh apa yang dianggap sangat buruk oleh akal sehat, agama, budaya, dan naluri manusia.

Dalam konteks ayat ini termasuk kikir, menyebut-nyebut kebaikan yang diberikan, menyakiti hati pemberi, dan sebagainya. Seorang yang kikir, apalagi yang memiliki kelebihan, kekikirannya membuahkan dengki dan iri hati masyarakat, dan jika ini terjadi maka setan menyuruh dan mendorong masyarakat untuk melakukan beragam kejahatan seperti pencurian, perampokan, pembunuhan dan sebagainya. (M. Quraisy Shihab, Tafsir al-Misbah).

 Awal mula penyakit ini adalah kekikiran yang melahirkan sifat rakus untuk enggan bernafkah, dan pada gilirannya menjadi lahan yang sangat subur bagi setan untuk mengantar kepada aneka kejahatan.

Ibnu Katsir menekankan bahwa setan memiliki misi untuk menghalangi manusia dari kebaikan. Dalam konteks ayat ini, setan menakut-nakuti manusia dengan kemungkinan kemiskinan jika mereka bersedekah atau berinfak.

Setan memengaruhi hati manusia agar mereka berpikir bahwa harta yang dikeluarkan tidak akan tergantikan, sehingga manusia memilih kikir atau enggan berinfak. (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Dar al-Fikr, jilid 1, hal 700-701)

Namun, Allah menawarkan sesuatu yang berbeda. Allah menjanjikan “maghfirah” (ampunan atas dosa) dan “fadl” (karunia atau rezeki yang melimpah) bagi orang-orang yang bersedekah. Ini menunjukkan bahwa infak tidak hanya mendatangkan pahala akhirat tetapi juga membawa keberkahan dunia.

Ibnu Katsir menutup tafsirnya dengan menekankan bahwa godaan setan adalah tipu daya yang lemah bagi orang-orang beriman.

Sedangkan Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuthi memberikan penjelasan yang ringkas tetapi padat. Dijelaskan bahwa setan menggunakan ketakutan terhadap kemiskinan sebagai cara untuk menghalangi manusia berinfak. Ketakutan ini sering kali berujung pada kebakhilan, di mana seseorang enggan memberikan apa yang ia miliki kepada orang lain atau untuk kepentingan agama.

Selain itu, setan juga mengajak manusia pada “fahsyā’,” yang dapat berupa perbuatan maksiat atau dosa yang menghalangi mereka dari ketaatan. (Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuthi, Tafsir Jalalain, Dar al-Hadith, hal 43).

Allah, sebaliknya, menjanjikan dua hal: ampunan dosa dan kelimpahan rezeki. Tafsir ini menggarisbawahi bahwa Allah selalu memberi lebih banyak dari apa yang manusia keluarkan di jalan-Nya, baik dalam bentuk materi maupun non-materi.

Imam Al-Qurtubi menguraikan bahwa setan menggunakan strategi ketakutan sebagai cara untuk menanamkan keraguan dalam hati manusia. Ketakutan akan kefakiran ini dapat menyebabkan seseorang enggan memberikan sebagian hartanya di jalan Allah, meskipun harta tersebut sebenarnya adalah amanah dari Allah. (Al-Qurtubi, Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, jilid 3, hal 347-348).

Ayat ini masih memiliki keterkaitan dengan ayat sebelumnya, yaitu mendorong orang Mukmin untuk berinfak di jalan Allah SWT, yaitu jalan kebaikan. Karena Allah SWT menjanjikan ampunan sebagai balasan dari berinfak dan menjanjikan akan memberi ganti dan karunia berupa harta dan rezeki.

Allah SWT memberi karunia karena Dia Maha Kaya, gudang-gudang karunia-Nya tidak akan pernah habis. Allah SWT mengetahui dimana meletakkan karunia tersebut dan untuk siapa. Allah SWT Maha Mengetahui apa yang tersembunyi dan apa yang tampak. (Wahbah az-Zuhaili, Tafsir al-Munir, (Beirut: Dar al-Fikr, 1991), jilid II hlm. 93).

Ayat ini memberikan peringatan tentang bisikan dan godaan setan, karena setan mengetahui tempat masuk untuk menghalang-halangi manusia dari bersedekah di jalan Allah SWT.

Bersamaan dengan itu, setan juga menyuruh manusia untuk bersikap kikir; melakukan kemaksiatan dan menyuruh manusia untuk berinfak di jalan kemaksiatan. Barangsiapa yang dikaruniai hikmah (ilmu ‘yang benar dan bermanfaat) dan pemahaman yang mendalam tentang AI-Qur’an, maka ia telah dikaruniai sesuatu yang paling baik berupa kitab yang mencakup seluruh ilmu para orang terdahulu berupa shuhuf dan yang lainnya.

Ayat ini juga mengandung anjuran untuk menuntut ilmu dan mengagungkan kedudukan hikmah. Ayat ini juga mengandung perintah untuk memanfaatkan akal untuk merenungi dan memikirkan sesuatu paling mulia yang diciptakan untuknya. Sebagian orang bijak berkata, “Barangsiapa yang dikaruniai ilmu dan Al-Qur’an maka ia harus mengetahui dan memahami siapa dirinya sebenarnya (maksudnya menyadari kedudukannya). Oleh karena itu, ia tidak boleh bersikap merendahkan diri di hadapan orang-orang yang memiliki harta karena menginginkan harta mereka. Karena sebenarnya ia telah dikaruniai sesuatu paling mulia dibanding apa yang diberikan kepada mereka. Allah SWT menyebut kekayaan dunia sebagai mataa’un qaliil (kesenangan yang sedikit atau sesaat).“*/ Ridha Alfahlevi, mahasiswa IAT (Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir) Semester 5 Universitas PTIQ Jakarta

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headlineinfakmenghalangi sedekahPilihan Redaksirintangan sedekahSedekahtafsir Surat Al-Baqarah 268
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Milaf Cola minuman soda dari kurma Milaf Cola, Minuman Bersoda dari Kurma Buatan Arab Saudi
Tulisan selanjutnya PBB: Jatuhnya Bashar Al-Assad Akhirnya Penderitaan Warga Suriah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Amerika Serikat Kembali Serang Iran, Berdalih Bela Warga Sipil

Berita
8 Juli 2026 20:56
Aparat Pakistan Bunuh 75 Pemberontak Menyusul Serangan Beruntun di Balochistan
Tak Ingin Disaingi, ‘Israel’ Minta AS Blokir Penjualan F-35 ke Turki
‘Israel’ Gunakan Kesepakatan Gas dan Air untuk Menekan Yordania
Menko Yusril Sebut Penyebarluasan LGBT Perlu Diantisipasi demi Ketahanan Nasional

Terbaru

  • Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
  • Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
  • Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
  • Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
  • Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
  • ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
  • Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
  • Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
  • Mantan Pemimpin Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Wafat
  • Dua Topan Mendera China dalam Sepekan Hampir 2 Juta Orang Dievakuasi

Mungkin Anda Juga Suka

Hikmah

Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan

13 Juni 2026 04:49
Kajian

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah

26 Mei 2026 09:00
Kajian

Rahasia Hari Arafah yang Dibenci Iblis: Inilah 10 Keutamaannya

26 Mei 2026 08:30
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?