Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Ramadhan di TV, Meriah Lalu Menghilang

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 13 November 2004 22:07 10:07 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 November 2004 22:07
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ekky al-Malaky*

Bulan Ramadhan dan tayangan program Islam ibarat cahaya dan laron. Seperti biasa, di bulan suci ini televisi, radio, dan mal dibanjiri oleh acara yang bernuansa Islam (selanjutnya ditulis islami). Video klip islami bermunculan, kebanyakan dibintangi wajah baru dan selebriti yang sebelumnya jarang menyanyikan lagu religius.

Sinetron menjadi religius, misalnya sinetron Hikmah (dibintangi Tamara Blezynski), Adam dan Hawa (dibintangi Marshanda), bahkan sinetron komedi Bajaj Bajuri pun ada versi Ramadhan. Pemirsa minat, pengiklan juga terpikat. Tetapi, selepas Ramadhan tayangan semacam itu menghilang. Apa yang salah?

Sesungguhnya, banjirnya program islami di televisi sungguh menggembirakan. Para selebriti turut menyemarakkan sinetron, diskusi, talk show, dan variety show yang religius. Stasiun televisi pun berlomba-lomba menyajikan dakwah dengan berbagai kemasan. Ini berarti masyarakat yang diuntungkan, karena mendapat banyak pencerahan.

Namun sejatinya program di televisi adalah masalah profit-oriented. Bulan puasa, bulan menaiknya gairah keberislaman ummat, adalah pasar yang sangat menggiurkan insan pertelevisian—mulai dari selebriti, rumah produksi, hingga stasiun televisi sendiri.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Bisnis di televisi memang super mahal. Kalau bermodalkan semangat dakwah semata, tentu berisiko besar. Dibutuhkan program yang menjual, yang secara mutu bisa disandingkan dengan tayangan sejenis. Tidak hanya mendatangkan iklan, tetapi juga ditonton sebanyak mungkin orang—alias memuaskan selera pasar sekaligus pengiklan—yang dibuktikan dengan rating.

Lesunya program islami selama ini, boleh jadi karena banyak pihak yang tidak percaya kalau program semacam ini laku dijual di luar bulan Ramadhan. Maka, yang pertama kali harus direnungkan adalah: Kita butuh pejuang Islam yang serius dan fokus di bidang broadcasting (penyiaran). Mulai dari segi kreativitas meracik program, memproduksi sebuah acara, mencari biaya operasional, hingga menggolkannya ke stasiun televisi dan–ini tantangannya—agar ditempatkan di jam tayang utama (prime time). Termasuk orang yang mengerti betul masalah teknis yang berhubungan dengan blocking time, menghitung rating, mengoperasikan kamera dan sound system, hingga mempunyai jaringan sebanyak mungkin dengan selebriti dan publik figur untuk pemanis dan “pemancing pemasukan”.

Nazrey Johani—vokalis utama tim nasyid Raihan–saat bertemu penulis menyatakan, hal ini perlu momentum. Salah satu momentum yang kini bisa kita saksikan adalah acara Nasyid Tausyiah dan Qiro’ah (NTQ) yang ditayangkan sebuah stasiun televisi swasta. Ini merupakan ajang penjaringan bakat seperti halnya Indonesian Idol dan Akademi Fantasi Indosiar. “Orang-orang akan sadar tentang potensi nasyid setelah NTQ. Mereka akan melihat dari jumlah sms yang datang. Boleh jadi akan ada jutaan sms. Itu akan membuktikan kalau nasyid akan diterima banyak orang,” jelasnya bersemangat.

Orang yang fokus di bidang pertelevisian ini bisa berwujud berbagai profesi. Mulai dari personal kamera, tim kreatif, penulis naskah, hingga produser. Orang-orang ini bisa berada di banyak tempat, mulai dari orang dalam stasiun televisi swasta hingga pemilik rumah produksi. Yang terakhir itu, ide “rumah produksi islami’, menjadi penting, kalau kita tidak mau lagi bergantung dengan rumah produksi sekuler semacam Multivision Plus atau Sinemart.

Upaya dakwah di bidang ini sebenarnya pernah dirintis, misalnya oleh Chairul Umam yang menggarap FTV Ramadhan dan sinetron Jalan Lain ke Sana. Juga dilakukan Forum Lingkar Pena yang dimotori Asma Nadia, yang menggarap Cerita Matahariku. Sementara MQTV memproduksi Keluarga Senyum yang ditayangkan oleh sebuah televisi swasta.

Dari “orang dalam”, ada Gola Gong (RCTI) yang menghasilkan Kampung Ramadhan untuk sahur tahun lalu–yang melibatkan penulis Fahri Asiza dan Benny Rhamdhany. Gola Gong juga membuat cerita untuk sinetron yang islami tapi dikemas dengan “biasa” seperti LUV dan Anak Gudang.

Jadi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, yakinkan bahwa program islami juga layak jual. Tidak sekadar meyakinkan, harus dibuktikan. Tentu hal ini bisa terjadi kalau ada contoh program yang telah terbukti sukses.

Kedua, harus ada orang yang benar-benar mendalami bidang penyiaran dan pertelevisian. Orang-orang ini yang “menyusup” ke dalam industri televisi sekarang. Bisa juga dengan menumbuhkembangkan rumah produksi yang memang mempunyai visi dan misi keislaman. Jangan sekadar bertindak sebagai wasit atau penonton yang protes—walau itu juga diperlukan—tetapi langsung terjun dalam perubahan. Tentu saja, orang ini harus tahu fiqhud da’wah yang tidak hanya mementingkan isi, tetapi juga estetika dan sisi hiburan serta nilai komersialnya. Boleh jadi, ada sinetron yang kental keislamannya, misalnya, tapi di lain waktu ada talk show yang secara universal mengajak pada kebaikan.

Ketiga, dekati orang-orang yang terkait dengan industri hiburan, khususnya televisi. Dengan demikian, bisa lebih memperlancar upaya menanamkan keyakinan bahwa program islami juga laku dijual. Orang-orang ini harus tetap profesional dan harus bisa beradaptasi dengan sistem yang telah terlebih dulu tercipta, misalnya dengan gaya “kejar tayang” atau “cerita pesanan”.

Keempat, berlatih dan terus berlatih agar menjadi yang terbaik dan mampu bersaing dengan pihak yang sudah lebih dulu terjun ke dunia ini. Latihan menulis, dan memproduksi. Dalam bidang penulisan, tujuannya agar tidak hanya menjadi tukang, tetapi menjadi penulis skenario yang sesungguhnya, dengan mutu yang terjaga. ”Penulis lebih dari sekadar tukang. Dia mengerti teknis bagaimana bercerita melalui skenario. Ada teknik tertentu dan imajinasi visual,” kata Chairul Umam.

Terakhir, di samping berdoa, teruslah mencoba dan mencoba. Dengan begitu, kelak akan lahir program yang kental nilai dakwah, kaya dengan nilai komersial, diminati pengiklan, dan digandrungi pasar. Dan itu bisa tetap tertayang dengan sukses di luar bulan Ramadhan.

*Penulis adalah pengamat budaya pop dan Islam

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Umat Islam Indonesia Serentak Hari Raya Ahad
Tulisan selanjutnya Tragedi Adopsi Peradaban Barat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Berita
2 Juni 2026 18:00
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?