Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Iptekes

Jadi Hamba Algoritma dan Banyak Drama, Media Sosial Makin Kehilangan Nilai

Ahmad
Terakhir diupdate: 29 April 2025 09:39 9:39 am
Ahmad
Dipublikasikan 29 April 2025 09:38
Bagikan
Bagikan

Media sosial (medsos) makin kehilangan nilai,  sulit membedakan mana yang benar dan mana rekayasa,  terlalu banyak drama dan jadi hamba algoritma

Hidayatullah.com | MEDIA sosial, dulunya ruang berbagi informasi dan membangun komunitas, kini banyak dikritik karena kontennya yang berulang, drama berkualitas rendah, dan algoritma yang membingungkan.

Platform seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan X disebut telah kehilangan nilai aslinya dan malah memicu pola penggunaan tidak sehat seperti doomscrolling dan perbandingan sosial tidak realistis, yang berujung pada masalah kesehatan mental.

Menurut Ketua Umum Persatuan Konsumen Siber Malaysia (PMI), Siraj Jalil, media sosial kini dipenuhi akun palsu yang menyebarkan fitnah, hasutan SARA, hingga provokasi emosional.

Konten bermuatan seksual dan asusila, serta manipulasi berbasis kecerdasan buatan (AI) seperti deepfake, memperparah kerusakan ini.

Baca Juga

Tak Mau Angkut Senjata 'Israel', Lufthansa Tetapkan Embargo
Nyamuk Datang Naik Pesawat Dua Pekerja Bandara Jerman Meninggal Karena Malaria
Usia Belum Tua, tapi Sering Merasa Tua? Hati-Hati Bisa Sebabkan Imsonia dan Gangguan Kesehatan
Perang Abadi Sistem Imun di Balik Keindahan Tato
UNICEF: Anak-Anak Gunakan AI 3 Kali Lipat Lebih Banyak Dibanding Orang Dewasa
Pakar Bilang Suplemen Harian Lebih Banyak Bahaya Dibandingkan Manfaat

“Media sosial juga menjadi ajang menormalisasi budaya mempermalukan pihak lain di depan umum atas nama konten dan tren,” ujar Siraj dikutip Kantor Berita Bernama​.

Ia menambahkan, konsumsi media sosial yang berlebihan — hingga dua jam 46 menit per hari rata-rata bagi warga Malaysia — meningkatkan risiko kelelahan emosional, ketidakseimbangan mental, dan hilangnya motivasi.

“Pengguna semakin bingung membedakan mana yang benar dan mana yang direkayasa,” kata Siraj, merujuk pada banyaknya narasi palsu yang beredar​.

Fenomena ini terkait dengan Teori Spiral Keheningan Elisabeth Noelle-Neumann, di mana suara rasional tenggelam di tengah dominasi suara keras dan beracun.

Akibatnya, media sosial menjadi ruang yang “semakin tidak seimbang dan represif secara psikososial,” imbuhnya​.

Budaya Pembatalan dan Krisis Nilai

Siraj juga mengkritik budaya cancel culture, di mana individu dihukum sosial secara berlebihan karena pernyataan atau tindakan tertentu.

Contohnya, seorang influencer yang menerima kritik berat hanya karena menanggapi saran medis secara sopan di platform X. “Budaya ini menghilangkan ruang untuk koreksi dan melambangkan ketidakadilan,” katanya​.

Kasus lain, seperti komentar tidak pantas saat pemakaman kenegaraan Tun Abdullah Ahmad Badawi, menunjukkan bagaimana segelintir pengguna dengan akun palsu bisa merusak suasana nasional dengan ujaran kebencian.

Siraj menegaskan pentingnya literasi digital berbasis nilai dan moral, bukan sekadar keterampilan teknis, sebagai bagian dari kebijakan pendidikan nasional​.

Dampak Langsung terhadap Kesehatan Mental

Associate Professor Dr Muhammad Muhsin Ahmad Zahari dari Universitas Malaya memperingatkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan berdampak pada seluruh kelompok usia.

Bagi anak-anak, ini menghambat perkembangan sosial dan pribadi, meningkatkan risiko gangguan seperti trauma dan kecemasan.

“Penggunaan berlebihan bisa menyebabkan kecanduan, terlihat dari kegelisahan ketika tidak bisa mengakses media sosial,” jelas Dr Muhammad Muhsin.

Ia juga menyebutkan gejala kelelahan digital seperti mata sakit, sakit kepala, gangguan tidur, kecemasan, hingga kabut pikiran​.

Tekanan untuk tampil sempurna di media sosial, lanjutnya, memicu stres, kecemasan, hingga depresi.

“Ada individu yang menghabiskan uang melebihi kemampuannya demi citra di media sosial, berujung pada masalah keuangan dan mental,” ujarnya​. Fenomena ini juga berkaitan dengan meningkatnya kasus fear of missing out (FOMO) dan depresi di kalangan remaja.

Risiko Kesehatan Mental

Media sosial yang pada awalnya bermanfaat, kini membawa risiko serius bagi kesehatan mental akibat konten beracun, tekanan sosial, dan ketidakmampuan memfilter narasi palsu.

Para ahli menegaskan perlunya langkah kolektif — dari individu hingga pemerintah — untuk meningkatkan literasi digital yang beretika dan berfokus pada kesehatan emosional pengguna.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:algoritmadramafaktaHeadlinemedia sosialmedsosrekayasa
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Islam di Rusia: Membangun Peradaban dalam Raksasa Eurasia
Tulisan selanjutnya Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam keras serangan Israel Presiden Erdogan: Tepi Barat, Yerusalem Timur dan Gaza Milik Rakyat Palestina

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap

Berita
3 September 2026 09:53
PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang

Terbaru

  • Amerika Serikat Klaim Tembak Jatuh 300 Drone Kartel Narkoba di Perbatasan Meksiko
  • Seoul Pikir-pikir untuk Ikut Amerika Serikat Mengamankan Selat Hormuz
  • Suriah Musnahkan Senjata Kimia Era Rezim Bashar Al-Assad
  • Banjir Nepal: Malaysia Kirim Tim SAR Cari Warganya
  • Khawatir Antibiotik Uni Eropa Hentikan Impor Daging Brazil
  • Amerika Setujui Kemungkinan Penjualan Senjata ke Arab Saudi Bernilai $5 Miliar Lebih
  • Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air

Mungkin Anda Juga Suka

Iptekes

Ketika Gelar Sarjana Tak Lagi Menjamin Masa Depan: Gen Z Mulai Ragu Nilai Kuliah

25 Mei 2026 08:50
Iptekes

Jumlah Kasus Penyakit Menular Seksual di Eropa Pada 2024 Mencatat Rekor

22 Mei 2026 15:27
Iptekes

Belajar di Waktu Subuh Terbukti Tingkatkan Kinerja Otak dan Daya Ingat

31 Maret 2026 09:28
Iptekes

Pembuat Jutaan iPhone Malah Malah Melarang Main HP Berlebihan karena Bahaya

26 Maret 2026 08:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?