Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Abdullah Quilliam: Sang Mualaf, Pendiri Masjid Pertama di Inggris

Ahmad
Terakhir diupdate: 6 Mei 2025 13:47 1:47 pm
Ahmad
Dipublikasikan 6 Mei 2025 14:50
Bagikan
Abdullah Quilliam pendiri masjid pertama di Inggris dan pelopor dakwah di Barat
Bagikan

Abdullah Quilliam bukan sekadar mualaf, tapi pelopor dan simbol semangat dakwah Islam di Inggris dan juru damai di jantung dunia Barat

Hidayatullah.com | PADA masa ketika Islam masih dianggap asing dan bahkan ditakuti di Eropa, seorang profesor hukum dari Liverpool, Inggris, justru mengambil langkah sebaliknya.

Ia memeluk Islam dengan sepenuh hati, mengabdikan hidupnya untuk dakwah, dan mendirikan masjid pertama di Inggris. Namanya William Henry Quilliam, yang setelah masuk Islam lebih dikenal sebagai Abdullah Quilliam.

Lahir pada 10 April 1856 di Isle of Man dari keluarga metodis kaya, William Quilliam tumbuh sebagai bagian dari masyarakat kelas atas Inggris yang konservatif. Ia belajar hukum di Liverpool dan menjadi pengacara spesialis hukum pidana.

Namun, tekanan dari profesinya membuatnya jatuh sakit dan ia memutuskan untuk beristirahat sejenak di Maroko pada tahun 1887—sebuah perjalanan yang akan mengubah jalan hidupnya selamanya.

Baca Juga

Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

Di negeri muslim itulah Quilliam menyaksikan langsung kehidupan umat Islam yang bersahaja, bermoral, dan menjunjung tinggi solidaritas sosial. Ia melihat rombongan jamaah haji yang baru kembali dari Makkah dan terpesona oleh spiritualitas dan kesederhanaan mereka.

Seorang kolega muslim pun menjelaskan bahwa Islam merupakan kelanjutan dari agama-agama samawi sebelumnya. Penjelasan yang logis dan menyentuh akalnya ini membuat Quilliam memeluk Islam.

Ia menjadi mualaf secara total dan mengganti namanya menjadi Abdullah Quilliam.

Sekembalinya ke Inggris, Abdullah menghadapi tantangan berat. Masyarakat saat itu sangat anti-Islam, dan keputusan untuk menjadi muslim dipandang sebagai pengkhianatan terhadap nilai-nilai Inggris.

Namun Abdullah tidak gentar. Berkat bantuan dari Nasrullah Khan, putra mahkota Afghanistan, ia membeli tiga rumah di Brougham Terrace, Liverpool. Bangunan itu kemudian diubah menjadi Liverpool Muslim Institute—yang sekaligus menjadi masjid pertama di Inggris, resmi dibuka pada 25 Desember 1889.

Masjid ini tak hanya menjadi tempat ibadah, tapi juga pusat pendidikan dan pelayanan sosial. Ada sekolah asrama untuk anak laki-laki, sekolah siang untuk anak perempuan, panti asuhan Madinah House, museum, laboratorium sains, dan kelas-kelas keislaman.

Di ruang bawah tanah masjid, Abdullah menerbitkan majalah The Crescent dan The Islamic Review, serta buletin The Faith of Islam yang diterjemahkan ke dalam 13 bahasa dan bahkan dipesan oleh Ratu Victoria.

The Crescent,  mendokumentasikan kisah-kisah umat Muslim di Inggris dan Dunia Islam. Dari tahun 1893-1908, surat kabar tersebut diedarkan ke lebih dari 80 negara. Penerbitan jurnal tersebut dihentikan pada tahun 1908.

Dakwahnya berhasil menarik sekitar 600 orang untuk memeluk Islam, termasuk tokoh-tokoh penting seperti Profesor Nasrullah Warren, Robert Stanley (Walikota Stalybridge), dan Michael Hall, mantan pendeta Metodis. Namun kesuksesan itu juga memantik kebencian.

Ia diserang secara fisik, dilempari kepala babi, batu, bahkan dilabeli sebagai pengkhianat oleh sebagian media dan pendeta.

Meski begitu, Abdullah tetap teguh. Ia menulis dan berpidato menentang standar ganda Barat terhadap umat Islam dan membela Khilafah Utsmaniyah ketika dijadikan sasaran kritik oleh pemerintah Inggris.

Upayanya untuk menyebarkan Islam diakui oleh Sultan Abdul Hamid II. Pada bulan April 1891, Quilliam dan putra sulungnya, Robert Ahmet, menjadi tamu Sultan.

Selama kunjungan ke Sultan, mereka berdua tinggal di Istana Yildiz selama lebih dari sebulan. Ketika ia tiba di Istanbul, ia diterima dengan pengawal kehormatan.

Pada tahun 1894, ia mewakili Sultan pada pembukaan sebuah masjid di Lagos, Nigeria dan memberikan penghargaan kepada donatur utama masjid atas nama Khalifah.

Ia bahkan diangkat sebagai Syaikhul Islam untuk wilayah Inggris oleh Sultan Abdul Hamid II dari Turki Utsmani pada 1894, dan juga diakui sebagai perwakilan oleh Persia dan Afghanistan.

Namun pada tahun 1908, karena meningkatnya tekanan dan ancaman pembunuhan, Abdullah Quilliam pindah ke Istanbul. Ia kembali ke Inggris menjelang akhir hayatnya dengan nama samaran Harun Mustafa Leon dan wafat pada 23 April 1932 di London.

Menyebarkan Islam

Ia menikah tiga kali dan memiliki empat orang anak. Pertama, pada tanggal 2 Juli 1879, ia menikahi Hannah Hope-Johnstone di Liverpool.

Pada tahun 1909, ia menikahi Edith Miriam Leon, istri dari teman dekatnya Henri de Leon setelah kematiannya. Pada tahun 1910, ia menikahi Mary Lyons.

Sebagai seorang pengkhotbah yang karismatik, ia menciptakan komunitas Muslim yang luar biasa di Liverpool Victoria, termasuk sekitar 600 mualaf di Inggris.

Pendiri Liverpool Muslim Institute dan British Muslim Association di Mount Vernon Street pada bulan September 1887 ini memelopori promosi Islam di Inggris secara terbuka.

Upaya pertamanya untuk menyelenggarakan pertemuan yang mempromosikan Islam menemui perlawanan sengit dari pemilik properti di Mount Vernon di pusat kota Liverpool, yang mengusir mereka karena berkhotbah bahwa Yesus tidak disalib.

Pada bulan Desember 1889, karena ketidaknyamanan di Gunung Vernon, Quilliam memindahkan Institut Muslim Liverpool ke Brougham Terrace yang dibeli dari sumbangan yang diberikan oleh Amir Afghanistan.

Ia dimakamkan tanpa tanda di pemakaman Brookwood, tempat yang juga menjadi peristirahatan terakhir tokoh Islam Inggris lainnya seperti Abdullah Yusuf Ali dan Marmaduke Pickthall.

Warisan Quilliam sempat terkubur, hingga pada tahun 1999, berdirilah Abdullah Quilliam Society yang dipimpin oleh Muhammad Akbar Ali. Lembaga ini berhasil memugar kembali masjid pertamanya di Liverpool, yang mulai digunakan kembali pada tahun 2014 dengan biaya hampir 60 miliar rupiah dari donasi umat Islam Inggris.

Abdullah Quilliam bukan sekadar mualaf, ia adalah pelopor, penulis, aktivis, dan simbol semangat dakwah Islam yang rasional dan damai di jantung dunia Barat. Sejarah telah mencatat jasanya dengan tinta emas.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Abdullah Quilliamdakwah di Inggrisdakwah IslamHeadlineIslam InggrisMasjid InggrisPilihan RedaksiWilliam Henry Quilliam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya PP PERSIS: Pemblokiran Juta Konten Judi dan Pornografi Lindungi  Masa Depan Bangsa
Tulisan selanjutnya Rwanda Mungkin akan Tampung Migran yang Diusir dari Amerika Serikat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang

Berita
2 September 2026 21:40
Genosida Rwanda: Pengadilan Belanda Penjarakan Seorang Tersangka Seumur Hidup
Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama
Presiden Iran: Jangan Biarkan Wilayah Negara Muslim Dipakai Menyerang Sesama
Board of Peace Sebut Hamas dan Kelompok Perlawanan Palestina Lain Setuju Serahkan Senjata

Terbaru

  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?