Hidayatullah.com– Sebuah video yang kini viral di media sosial memperlihatkan sejumlah atlet wanita Muslim menolak berjabat tangan dengan seorang perwira tinggi Angkatan Darat India saat upacara penyerahan medali dalam kejuaraan nasional.
Menurut liputan India Today dan The Indian Express, penolakan dilakukan dengan sopan tanpa menciptakan kegaduhan publik.
Para atlet berhijab tersebut terlihat menerima medali, namun ketika perwira itu mengulurkan tangan mereka memilih untuk meletakkan tangan di dada atau menundukkan kepala—sebuah bentuk penghormatan alternatif yang sesuai dengan keyakinan mereka.
Media India mengonfirmasi bahwa tindakan ini bukan penolakan terhadap penghormatan, melainkan bentuk ekspresi keyakinan Islam bahwa bersentuhan dengan lawan jenis bukan mahram dapat ditolak demi mematuhi prinsip agama.
“Ini adalah hak pribadi setiap Muslimah untuk mematuhi syariat selama cara penolakan tetap sopan dan tidak merendahkan,”ujar seorang ulama lokal.
Kasus ini kembali menarik perhatian setelah keputusan serupa telah muncul dalam dunia olahraga internasional. Di ajang catur elite Tata Steel Chess Tournament, grandmaster Uzbek Nodirbek Yakubboev menolak menjabat tangan lawan Indian R Vaishali karena alasan agama—dan kemudian meminta maaf secara terbuka atas ketidaknyamanan yang terjadi
Konstitusi India dan keputusan Mahkamah Tinggi Kerala telah menguatkan bahwa tidak ada paksaan dalam agama dan setiap orang berhak menjalankan keyakinannya secara bebas, selama tidak melanggar hukum atau merugikan orang lain, kutip India Today.
Sikap sosial pun bervariasi: Banyak pengguna Muslim di media sosial memuji konsistensi dan keteguhan para atlet dalam menjalankan keyakinan.
Sebaliknya, sebagian masyarakat India menilai tindakan tersebut sebagai kurang sopan atau menyalahi etika resmi olahraga.
Para pegiat hak kebebasan beragama menyambut insiden ini sebagai momentum mencari titik tengah: menghormati kepercayaan pribadi tanpa mengabaikan norma diplomasi atau profesionalisme dalam dunia olahraga.
Alih-alih menyeret konflik, organisasi olahraga di India kini mempertimbangkan pembuatan panduan resmi: alternatif salam non-kontak seperti gesture tangan di dada, sedikit membungkuk, atau salam Namaste sebagai bentuk penghormatan yang memenuhi standar sopan santun dan sensitivitas budaya, kutip The Indian Express.
Menurut laporan dari The Quint, tidak ada kutipan resmi dari atlet maupun perwira militer yang dimuat sejauh ini, namun peristiwa tersebut menyoroti perbedaan nilai budaya dan agama dalam konteks acara formal militer.
Dalam konteks global, kasus ini mencerminkan dilema yang serupa pernah terjadi di Olimpiade Rio 2016, saat judoka Mesir Islam El Shehaby menolak bersalaman dengan lawannya asal ‘Israel’.
Ia pun mendapatkan teguran keras dari Komite Olimpiade Internasional karena dianggap melanggar semangat persahabatan antar atlet.*




