Barat telah menulis akta kematiannya, karena kehilangan iman, dan tujuan dari penciptaannya. Islamofobia hanya akan membunuh dirinya sendiri
Oleh: Ali Mustafa Akbar
Hidayatullah.com | BEBERAPA hari lalu saya iseng nulis komentar ringan di kolom berita Reuters tentang LGBT. Bukan ceramah. Apalagi ngaji kitab. Hanya sepotong opini sambil ngopi. Tapi ya karena di dunia maya, argumen bisa kalah dengan capslock ataupun emoticon marah.
Tak lama, muncul balasan. Bukan satu dua. Tapi lumayan banyak. Bisa dikatakan komentar-komentarnya lucu bin aneh. Salah satu komentarnya kurang lebih begini: “Nabi Muhammad itu punya kelainan **ual. Masak nikah sama banyak perempuan? Bahkan sama anak kecil!” Tuduhan zaman VOC muncul lagi.
Saya balas dengan gaya ala guru sejarah yang sabar pada murid ngantuk dan malas baca buku hehe:
“Bro, kalau banyak istri itu dianggap kelainan, lalu Nabi Sulaiman (Solomon) bagaimana? Nabi Daud? Abraham? Nabi Ya’kub? Padahal itu tokoh-tokoh dalam Al-kitab. Begitu pula seperti Gedeon, Elkana, Lamekh juga poligami, dan di antaranya jauh lebih banyak jumlahnya. Berani tuduh mereka juga?”
“Nabi Muhammad, sebelum semua itu, hanya menikahi satu perempuan selama 25 tahun. Khadijah Ra. Seorang janda. Satu-satunya istri beliau sampai Khadijah wafat. Itu bukan profil orang yang gila wanita. Padahal beliau seorang pemimpin negara sekaligus pemimpin agama, kalau mau memanfaatkan itu, 100 wanita pun bisa.
Kemudian soal bunda Aisyah ra? Ya, usianya memang muda saat menikah. Tapi itu budaya zaman itu. Di Eropa pun, di abad pertengahan, hal itu juga menjadi kelaziman.
Maka tidak ada dahulu orang-orang Arab yang mempermasalahan, bahkan termasuk musuh-musuhnya Nabi sendiri, sebab hal itu sudah menjadi kebiasaan. Baru di era orientalisme saja stigma negatif itu mulai muncul.
Apalagi, Bunda Aisyah sendiri tidak pernah menyesali pernikahannya. Justru Beliau tumbuh menjadi salah satu wanita paling berilmu dalam sejarah Islam, meriwayatkan lebih dari 2.000 hadits dan menjadi rujukan utama dalam fiqh dan hadits.
Akhirnya ganti topik, yang lucu lagi. Mereka tak membaca Islam dengan baik, tapi membaca dengan kebencian. Sejak saat itu jadi lebih selektif kalau komen di sosmed, khawatir tidak produktif.
Islamofobia
Fenomena Islamofobia memang sedang marak di masyarakat Barat (Eropa & Amerika). Semakin parah karena dipicu oleh kebijakan-kebijakan pemerintah mereka di beberapa dekade ini.
Mereka giat memerangi Islam dengan kedok “perang terhadap terorisme” dalam bentuk perang fisik maupun pemikiran. Akhirnya masyarakat Barat fobia Islam
Para politisi dan intelektual mereka dengan sengaja menyebut setiap aksi perlawanan terhadap kepentingan mereka, sebagai terorisme Islam, radikal, dan lainnya.
Tujuannya adalah membenarkan narasi lama gereja bahwa Islam menyebar dengan pedang, dan bahwa Islam tidak memiliki daya tarik argumentatif.
Mereka juga percaya bahwa umat Islam terutama para wanitanya hidup dalam belenggu penindasan, paksaan, dan penyiksaan. Dalam pandangan mereka, umat Islam adalah gambaran hidup dari kehidupan primitif dan menyedihkan.
Menurut mereka, penyebab utama dari semua penderitaan ini adalah keterikatan umat Islam pada agamanyanya yang mereka tuduh mendorong kepasrahan, kelemahan, dan kegelapan. Padahal dunia Islam saat ini sedang tidak menerapkan agamanya secara keseluruhan dan terus dipaksa mengikuti mereka sebagai panutannya.
Panutan
Padahal Barat yang jadi panutan yang katanya maju, namun sedang sakit dalam diam. Keluarga hancur. Minuman keras dan narkoba menjadi candu. LGBT, pergaulan bebas, krisis populasi, dan seterusnya. Bahkan sekedar menghitung jumlah kelamin itu ada berapa saja bingung, mengubah jenis kelamin semudah mengubah username.
Disana selain kelamin laki-laki dan perempuan, ada pula jenis kelamin non-binary, agender, bigender, transgender, dan lainnya.
Krisis iman kepada Tuhan juga semakin parah dengan maraknya atheisme, agnotisme, relativisme, dan seteruanya. Di tengah badai krisis kepercayaan Barat ini, kaum Hindu kembali kepada ajaran-ajaran mereka, seperti menyembah sapi, dan mempercayai sistem kasta empat tingkat.
Demikian pula, bangsa Tiongkok kembali kepada ajaran-ajaran Konfusius. Sementara Buddhisme, Jainisme, dan Taoisme kembali di pegang di Korea, Jepang, Vietnam, dan banyak negara Asia lainnya.
Sementara itu, yang masih percaya pada liberalisme Barat hanyalah segelintir intelektual di Barat sendiri, serta sebagian orang yang menirunya.
Tampaknya, ramalan James Burnham hampir tepat ketika setelah Perang Dunia II ia meramalkan Liberalisme sebagai pendorong bunuh diri peradaban Barat.
Inti dari semua itu adalah bahwa peradaban Barat telah tersesat dan hilang arah, dan ia juga menyesatkan para penirunya. Barat telah menulis akta kematiannya, karena kehilangan iman, dan tujuan dari penciptaannya.
Namun dibalik itu, menjadi PR pada dai Islam untuk menjelaskan keindahan Islam pada Barat dan seluruh dunia. Potensi pahala demikian besar karena masih ada miliyaran umat manusia yang belum kembali kepada fitrahnya yang lurus.
Dakwah, sebagaimana disampaikan para ulama, subyeknya itu ada 3; ada dakwah pribadi, dakwah kelompok, dakwah negara. Maka ketika mengisi kajian intensif para pemuda kami sering menyampaikan jika kita punya kontribusi atau saham dalam membangun rumah besar (negara dakwah) itu insyaAllah pahalanya luar biasa. Wallahu A’lam.*
Penulis Buku “Islamic Study”




