Hidayatullah.com– Ribuan warga Washington DC, hari Sabtu (6/9/2025), turun ke jalan untuk memprotes pengerahan pasukan National Guard di kota mereka.
Aksi protes yang diberi nama “We Are All DC” itu selain diikuti warga lokal juga dihadir oleh para migran tak berdokumentasi dan pendukung Palestina. Mereka meneriakkan slogan-slogan yang mengecam Presiden Donald Trump, serta membawa berbagai tulisan antara lain berbunyi “Trump harus pergi sekarang”, “Bebaskan DC” dan “Lawan Tirani”.
“Saya hadir di sini untuk memprotes pendudukan DC,” kata warga bernama Alex Laufer seperti dilansir Reuters.
“Kami menentang rezim otoriter, dan kita perlu menyingkirkan polisi federal dan pasukan Garda Nasional dari jalan-jalan kota ini,” imbuhnya.
Dengan klaim sepihak tanpa didukung data yang valid, Trump bulan lalu memerintahkan pengerahan pasukan National Guard dengan alasan untuk menegakkan hukum dan menjaga keselamatan publik. Padahal data Departemen Kehakiman menunjukkan angka kejahatan di tahun 2024 mencapai titik terendah dalam 30 tahun di Washington DC.
Tidak hanya itu, Trump juga menempatkan komando kepolisian setempat, Metropolitan Police Department, di bawah langsung pemerintah federal dan mengerahkan aparat hukum federal termasuk aparat keimigrasian dari Immigration and Customs Enforcement (ICE) untuk menjalankan tugas-tugas kepolisian di jalan-jalan ibu kota Amerika Serikat itu.
National Guard merupakan bagian dari tentara AS yang berfungsi sebagai milisi yang tunduk pada perintah masing-masing gubernur 50 negara bagian yang ada di negara itu, kecuali mereka dipanggil untuk melakukan tugas federal. Berbeda dengan wilayah Washington DC, pasukan National Guard di ibu kota AS itu langsung berada di bawah komando presiden AS.
“Apa yang mereka sedang berusaha lakukan di DC adalah apa yang mereka berusaha lakukan terhadap para diktator di negeri lain,” kata Casey, warga lokal yang menolak memberikan nama lengkapnya.
“Mereka sedang melakukan uji coba di DC,dan jika warga membiarkanya, mereka akan melakukan di lebih banyak tempat. Jadi kami harus menghentikannya selagi masih memungkinkan.”
Saat ini, lebih dari 2.000 personel National Guard dikerahkan ke Washington DC, termasuk dari 6 negara bagian yang dipimpin oleh gubernur politisi Partai Republik. Ribuan personel National Guard itu melakukan patroli di ibu kota AS. Tidak jelas kapan misi mereka akan berakhir, meskipun US Army mengatakan pekan ini tugas personel National Guard tersebut akan berlangsung sampai 30 November.
Kepala Kejaksaan Washington DC Brian Schwalb, hari Kamis, melayangkan gugatan ke pengadilan guna menghentikan pengerahan personel National Guard itu, dengan alasan tidak konstitusional dan melanggar banyak UU federal.
Wali Kota Washington DC Muriel Bowser memuji ketegasan Trump dalam masalah keamanan kotanya, tetapi dia juga berharap supaya misi National Guard itu segera diakhiri.*




