Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Prof Wan Mohd Nor: “Istri Taat Suami” itu Konsep Beradab

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 September 2014 11:34 11:34 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 September 2014 08:52
Bagikan
suami
Uhibbuka fillah (aku mencintaimu karena Allah)
Bagikan

Hidayatullah.com–Konsep “istri taat pada suami” saat ini banyak ditentang oleh sebagian perempuan, termasuk di kalangan Muslimah. Konsep itu dianggap bertentangan dengan ide “kesetaraan gender”. Bahkan, ada yang menyebut, kata yang paling dibenci di kalangan aktivis kesetaraan gender sekuler adalah kata “taat pada suami”.

Padahal, konsep itu unik, mulia, dan sesuai dengan fitrah manusia. Konsep itu berasal dari wahyu yang disampaikan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassallam.

Dalam sebuah seminar bertema “Manusia Beradab dan Moderniti Alternatif”, pakar pemikiran Islam Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud mengungkap pengalaman sewaktu bebicara dalam sebuah seminar di Afrika Selatan, beberapa tahun lalu.

Usai seminar, paparnya, seorang perempuan berkerudung mendatanginya dan menanyakan, bagaimana mungkin ia harus mentaati suaminya, sementara di kantor, ia memimpin 300 laki-laki?

Prof. Wan menjelaskan, bahwa konsep adab dalam Islam, di antaranya memang menempatkan suami sebagai kepala keluarga.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Tentu saja, tambahnya, suami tidak boleh berlaku zalim dengan amanah yang diterimanya serta bertindak sewenang-wenang terhadap istrinya. Suami yang bijakakan memahami bahwa istrinya adalah seorang perempuan yang hebat.

“Karena itu, pilihlah suami yang hebat pula,” kata Profesor yang juga beristrikan seorang profesor ini.

Dalam seminar yang diselenggarakan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia diselenggarakan hari Kamis (18/09/2014) tersebut, dijelaskannya tentang makna konsep manusia beradab (insan adaby) yang sepatutnya diwujudkan dalam masyarakat muslim. Konsep ini telah lama dikenal oleh para ulama dan disistematisasikan oleh Prof Syed Muhammad Naquib al-Attas sejak awal tahun 1970-an, melalui bukunya Risalah untuk Kaum Muslimin dan Islam and Secularism.

Prof Wan Mohd Nor menekankan, bahwa  Islam tidak bersikap “anti-pati” terhadap peradaban lain. Sejarah Islam kaya dengan contoh-contoh, bagaimana para ulama dan ilmuwan Muslim bisa menerima ilmu pengetahuan yang datang dari peradaban lain, seperti yang berasal dari peradaban Yunani, India, dan sebagainya.

Tetapi, lanjutnya, Islam juga memiliki konsep-konsep sendiri yang sepatutnya juga dihormati oleh peradaban (tamaddun) yang lain.

“Setiap agama, bangsa, atau peradaban memiliki the limit of tolerance, batasto leransi,” ujar Direktur Center for Advanced Studies on Islam Science and Civilization – UniversitiTeknologi Malaysia (Casis-UTM) ini.

Dicontohkannya, bangsa atau peradaban yang memandang agama tidak penting, maka m ereka akan memberikan toleransi besar dalam soal agama. Apakah orang beragama, atau merusak agama, tidak dipandang penting. Agama apa saja, aliran apa saja, dianggap sama kedudukannya. Bagi mereka, berganti-ganti agama pun tidak menjadi masalah, sebab agama dipandang bukan masalah penting. Tetapi, ada Negara Eropa, yang tidak mentolerir penggunaan bahasa selain bahasa negaranya. Ia bertoleransi terhadap agama, tetapi tidak bertoleransi terhadap bahasa.

“Maka, manusia beradab dalam Islam adalah yang berpegang teguh kepada imannya, dan tidak menyekutukan Tuhan,” ujarnya.

Ia mengkritik pendapat sebagian pakar di Barat yang menganggap politeisme lebih toleran dibandingkan monoteisme. Sebab, kata mereka, monoteisme hanya mentoleransi satu Tuhan; sedangkan politeisme mentoleransi banyak Tuhan. Pada saat yang sama, ia juga mengkritik sikap ekstrim (melampau) dalam beragama yang menyebabkan perpecahan di tengah umat.

Dalam seminar tersebut, Prof Wan juga memaparkan kegagalan modernitas Barat yang kemudian dicoba untuk dibuat konsep “modernitas kedua” atau “modernitas alternatif”oleh beberapa pakar. Diingatkan, bahwa Islam tidak punya konsep sejarah seperti di Barat yang mengenal perkembangan sejarah dari zaman awal, pertengahan, dan modern.

Pembagian perkembangan sejarah dalam Islam hanya dua, yaitu masa jahiliyah dan masa Islam. Karena itu, jelasnya, pembentukan manusia beradab bukan dimaksudkan untuk membentuk “masyarakat modern jilid dua”, atau “masyarakat modern alternatif” atau sejenisnya.

Prof Wan Mohd Nor menggunakan istilah “dynamic stabilism” untuk menggambarkan konsep perubahan dalam Islam. Yaitu, perubahan yang masih tetap berlandaskan hal-hal yang tetap (tsawabit).

“Jadi, tidak semuanya berubah. Nilai-nilai keimanan, akhlak mulia, misalnya, tidak ikut berubah mengikuti perubahan zaman dan budaya,” ujarnya.*/Hani (Malaysia)
 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:istriMuslimahsuami
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Iran Dikecam atas Terjadinya Kekacauan di Suriah-Iraq
Tulisan selanjutnya JAS: Isu ISIS Berpotensi Singkirkan Penegakkan Syariat Islam

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas

Berita
13 Juli 2026 16:30
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?