Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Dakwah Hidayatullah di 50 Tahun Kedua: Dari Gerakan ke Peradaban

Transformasi dakwah Hidayatullah bukan sekadar melanjutkan perjalanan, tetapi harus menyalakan obor peradaban Islam yang berpijar dari nilai, ilmu, dan aksi nyata bagi bangsa Indonesia

Ahmad
Terakhir diupdate: 18 Oktober 2025 14:32 2:32 pm
Ahmad
Dipublikasikan 18 Oktober 2025 14:30
Bagikan
[Ilustrasi] Salah seorang videografer pada Munas V Hidayatullah secara virtual di Depok, Jawa Barat, Kamis (29/10/2020).
Bagikan

Oleh: Dr. Mashud

Daftar isi
  • Kerangka Transformasi Dakwah
    • Dakwah Berbasis Nilai (Value-Based Dakwah)
      • Kaderisasi: Memperkokoh Akhlak, Wacana, dan Kompetensi
    • Dakwah yang Menginspirasi dan Berantai
    • Tema Dakwah Strategis di Fase Kedua
    • Mekanisme, Roadmap, dan Indikator Keberhasilan
  • Tantangan dan Risiko
  • Rekomendasi Strategis dan Harapan
  • Harapan
          • Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Hidayatullah.com | ORGANISASI Hidayatullah yang dirintis sebagai pesantren pada 5 Februari 1973 (1 Muharram 1393 H) oleh KH. Abdullah Said di Balikpapan, kini telah menapaki usia lebih dari lima dekade.

Seiring waktu, gerakan ini mengalami metamorfosis menjadi ormas Islam yang memiliki jaringan dakwah, pendidikan, sosial, dan ekonomi.

Memasuki tahap “50 tahun kedua”, Hidayatullah menghadapi tantangan zaman: digitalisasi, pluralitas pemikiran, krisis lingkungan, serta kebutuhan umat yang semakin kompleks.

Munas VI yang dijadwalkan pada 20–23 Oktober 2025 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, menjadi momentum strategis untuk menetapkan langkah baru transformasi dakwah agar Hidayatullah tetap relevan, adaptif, dan kontributif.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Opini ini akan membedah arah transformasi dakwah Hidayatullah dalam usia ke-50 tahun kedua, mengemukakan tantangan, peluang, dan rekomendasi agar Munas VI menghasilkan kebijakan strategis yang berpijak pada substansi keislaman dan realitas umat. Namun sebelum masuk ke poin strategis, penting memahami hubungan antara dakwah dan perubahan sosial menurut kajian sosiologi agama.

Ali Amran (2012) menyatakan bahwa dalam masyarakat yang berubah, dakwah Islamiyah harus mengikuti perubahan sosial; metode, strategi, dan materi dakwah mesti disesuaikan agar efektif terhadap dinamika masyarakat.

Ghozali dan M. Jamil (2019) dalam “Dakwah dan Perubahan Sosial dalam Perspektif Teori Sosiologi” menegaskan bahwa dakwah dapat dipandang sebagai agen perubahan terencana dalam masyarakat yang berinteraksi dengan struktur sosial yang berubah.

Kerangka Transformasi Dakwah

Dakwah sebagai agen transformasi sosial tidak sekadar penyampaian pesan ritual, tetapi harus menjadi instrumen transformasi sosial yang menyentuh kesejahteraan, keadilan, kesehatan, dan lingkungan.

Dalam Kick Off Munas VI, Ketua Umum DPP Hidayatullah KH. Nashirul Haq menegaskan bahwa “Munas ini menjadi momentum konsolidasi gerakan dakwah berorientasi keumatan dan kebangsaan.” (metrotvnews.com)

Pendekatan dakwah semacam ini menghendaki agar setiap aktivitas keagamaan dikaitkan dengan respons nyata terhadap problem masyarakat — dakwah bil hal (aksi nyata), bukan sekadar bil qawl (seruan lisan).

Dakwah Berbasis Nilai (Value-Based Dakwah)

Transformasi dakwah harus diteguhkan oleh nilai-nilai manhaj nabawi, yakni metodologi Rasulullah ﷺ dalam menyampaikan ajaran, membangun karakter, hubungan sosial, dan advokasi.

Kaderisasi: Memperkokoh Akhlak, Wacana, dan Kompetensi

Ketangguhan akhlak. Kader harus menjadi teladan akhlak dalam kehidupan sehari-hari (sikap jujur, amanah, adil). Tanpa akhlak yang kuat, dakwah kehilangan kredibilitas.

Ketangkasan wacana dan literasi intelektual. Generasi sekarang dihadapkan pada arus informasi cepat, disinformasi, dan polarisasi. Kader Hidayatullah perlu dibekali kompetensi wacana: argumentasi, literasi media, kajian kontemporer, debat, dan riset. Dengan kapasitas berpikir kritis, mereka mampu merumuskan narasi Islam yang relevan.

Kompetensi multidisiplin. Selain ilmu agama, kader harus menguasai manajemen organisasi, teknologi, advokasi sosial, ekonomi syariah, dan literasi lingkungan. Integrasi ilmu keagamaan dan ilmu dunia (sains, teknologi) menjadi kunci agar dakwah tidak usang.

Ustadz Abdullah Said dalam riwayatnya mengarahkan para dai agar menggunakan tutur kata yang santun, komunikatif, dan mendekatkan diri kepada umat (republika.id). Akhlak, keadilan, keseimbangan, dan kesederhanaan harus menjadi warna dakwah masa depan.

Dakwah yang Menginspirasi dan Berantai

Pesan kebaikan harus bersifat memancing rangkaian aksi (berantai) agar efeknya meluas dalam masyarakat. Dalam media Detik News dikemukakan bahwa Hidayatullah mengusung dakwah yang menginspirasi agar “pesan-pesan kebaikan menjadi pesan kebaikan yang berantai” (detiknews).

Model mentoring, komunitas lokal, kaderisasi in-situ, dan jaringan sinergi menjadi instrumen agar dakwah tidak berhenti di satu titik.

Tema Dakwah Strategis di Fase Kedua

Eco-Dakwah (Dakwah Lingkungan). Pemilihan tema lingkungan dalam Munas VI “pesan kebaikan lingkungan” menunjukkan komitmen dakwah terhadap isu ekologi kontemporer (detiknews). Hidayatullah pernah mendapatkan penghargaan Kalpataru pada 1984 atas gerakan penghijauan pesantren Gunung Tembak yang dipelopori oleh pendirinya, Ustadz Abdullah Said. Gerakan dakwah lingkungan menyasar edukasi ekologi, penghijauan, konservasi, dan advokasi kebijakan ramah lingkungan.

Dakwah kesehatan dan preventif. Program kesehatan seperti edukasi gizi, sanitasi, pencegahan penyakit, dan kesehatan ibu-anak harus diperkuat agar dakwah menyentuh problem kesehatan umat.

Pendidikan integral berbasis tauhid dan literasi sains. Hidayatullah pernah menekankan konsep Pendidikan Integral Berbasis Tauhid, yang memadukan kurikulum keagamaan dengan literasi sains, teknologi, dan kewirausahaan agar generasi Hidayatullah mampu berdakwah secara relevan dan produktif.

Ekonomi umat dan kemandirian. Dakwah tidak boleh berada jauh dari basis ekonomi umat. Program ekonomi syariah, koperasi pesantren, UMKM kader, dan integrasi dakwah-ekonomi menjadi instrumen memperkuat basis ekonomi sekaligus membuka lapangan dakwah.

Kebudayaan dan identitas lokal Islam-Indonesia. Revitalisasi seni Islam lokal, festival budaya pesantren, dan dialog antarbudaya menjadi medium memperkokoh identitas keislaman sekaligus nasionalisme religius. Dakwah yang kehilangan akar lokal berisiko menjadi asing bagi umat.

Kemanusiaan dan advokasi sosial. Aksi tanggap bencana, program bantuan sosial, advokasi hak asasi, serta layanan sosial menjadi ekspresi nyata rahmatan lil ‘alamin yang membuat dakwah terlihat dalam wujud manfaat konkret.

Mekanisme, Roadmap, dan Indikator Keberhasilan

Roadmap dakwah jangka menengah. Munas VI perlu menetapkan roadmap dakwah 5–10 tahun: prioritas tema, target capaian, model program, dan tata kelola serta fleksibilitas terhadap perubahan zaman.

Indikator outcome dan impact. Indikator kuantitatif dan kualitatif meliputi jumlah kader terlatih, cabang dakwah baru, partisipasi masyarakat, keberlanjutan program, capaian ekonomi kader, penghijauan, karya digital dakwah, opini publik, dan kerja sama lintas lembaga.

Pemberdayaan mitra dan jejaring strategis. Kolaborasi dengan ormas lain, lembaga pemerintah, perguruan tinggi, LSM, dan komunitas lokal memperkuat kapasitas serta legitimasi gerakan.

Partisipasi luas dalam Munas VI. Agar keputusan Munas tidak eksklusif, perlu melibatkan perwakilan akar rumput (kader lapangan, pengurus daerah, operator program) dalam forum ide dan lokakarya tematik sebelum keputusan akhir.

Inkubasi dan domestikasi inovasi lokal. Ide dakwah dari daerah yang efektif harus dapat direplikasi secara nasional. DPP berperan sebagai fasilitator incubator ide lokal agar inovasi muncul dari bawah.

Tantangan dan Risiko

Resistensi budaya internal. Sebagian kader atau pengurus mungkin merasa nyaman dengan pola lama; digitalisasi, transparansi, dan desentralisasi dapat menimbulkan gesekan.

Kesenjangan kapasitas antarwilayah. Daerah terpencil mungkin kekurangan SDM, dana, atau infrastruktur digital. DPP perlu memfasilitasi pelatihan dan bantuan.

Sorotan eksternal dan persepsi publik. Ormas Islam yang aktif rentan terhadap interpretasi politik atau kritik publik; diperlukan komunikasi yang moderat, terbuka, dan menjaga citra Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Dinamika teknologi dan disinformasi. Tantangan konten hoaks, polarisasi media sosial, dan perkembangan AI menuntut kader dakwah untuk adaptif dan waspada.

Risiko kehilangan identitas keislaman. Jika transformasi terlalu pragmatis, dakwah bisa kehilangan akar aqidah atau manhaj. Transformasi harus tetap berpijak pada manhaj nabawi.

Rekomendasi Strategis dan Harapan

Integrasikan dakwah dan program sosial. Program sosial harus diiringi unsur dakwah atau pembelajaran keagamaan agar dakwah tidak terpisah dari aksi nyata.

Buka ruang kritik konstruktif internal. Dalam Munas VI perlu ada forum reflektif agar kader bisa menyampaikan evaluasi terhadap perjalanan dakwah 50 tahun pertama. Sikap ilmiah dan kerendahan hati memperkuat legitimasi transformasi.

Konsolidasi riset dan inovasi dakwah. Dirikan lembaga riset internal (Observatorium Dakwah), lomba ide dakwah kreatif (aplikasi dakwah, media interaktif), dan dokumentasi keberhasilan daerah.

Fokus pada generasi muda dan lintas generasi. Beri perhatian khusus kepada Generasi Z dan milenial agar menjadi tulang punggung transformasi dakwah; fasilitasi mentoring lintas generasi agar tidak terjadi kesenjangan gagasan.

Perkuat kolaborasi dakwah lintas ormas dan institusi negara. Bangun sinergi proyek dakwah sosial bersama ormas lain (misalnya Muhammadiyah, NU dan ormas Islam lain) dan lembaga negara agar gerakan dakwah lebih luas dan berpengaruh.

Harapan

Transformasi dakwah Hidayatullah di usia ke-50 kedua bukan sekadar pelestarian, melainkan lompatan kualitas: dari organisasi dakwah ke organisasi peradaban. Munas VI harus menjadi momentum ideologis, struktural, dan praktis untuk mendefinisikan ulang arah dakwah agar tetap relevan dan efektif.

Semoga Munas VI menghasilkan keputusan-keputusan yang tidak hanya administratif, tetapi menjadi titik awal perubahan dakwah yang membumi, membebaskan, dan membangun peradaban Islam di Indonesia. Dengan langkah strategis dan kesiapan ide, saya yakin Hidayatullah akan tetap menjadi kekuatan inspiratif dalam lanskap dakwah Indonesia baru. Wallāhu a‘lam.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:50 Tahun HidayatullahKH Abdullah SaidMunas HidayatullahMunas VI HidayatullahOrmas HidayatullahPilihan Redaksi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya ASEAN di Persimpangan: Bisakah KL 2025 Menegakkan Keadilan, Hak, dan Repatriasi bagi Rohingya?
Tulisan selanjutnya Dari Resolusi Jihad ke Revolusi Adab: Ketika Layar Televisi Menguji Martabat Santri

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Berita
31 Mei 2026 19:39
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?