Generasi muda Indonesia masa pergerakan telah membuktikan bahwa kedewasaan dan kepemimpinan bukanlah perkara usia, melainkan visi dan kesadaran sejarah
Oleh: Hadi Nur Ramadhan
Hidayatullah.com | DI MASA ketika banyak anak muda berusia 15 hingga 25 tahun larut dalam rasa galau, baper, dan bosan, sejarah bangsa justru mencatat sosoksosok remaja luar biasa.
Salah satunya Rahmah ElYunusiyah, yang pada usia 16 tahun telah menggugah rakyat tentang pentingnya kemajuan bangsa. Bersama abangnya, Zainuddin Labay ElYunusi, ia mendirikan sekolah untuk rakyat kecil — langkah berani di masa ketika pendidikan hanya dinikmati kalangan atas.
Sementara sebagian remaja kini sibuk dengan gim dan judi daring, Buya Hamka di usia 15 tahun telah menjadi anggota dan propagandis Sarekat Islam.
Remaja yang gemar bermain layangan dan berenang di Danau Maninjau ini menghabiskan berjamjam di perpustakaan milik ayahnya, menumbuhkan cinta pada ilmu yang kelak melahirkan karya monumental.
Ketika banyak pemuda modern menghabiskan malam di kafe dan diskotek, Abdul Kahar Mudzakkir di usia 23 tahun telah menjadi Sekretaris Jenderal Muktamar Alam Islami di Baitul Maqdis, berdiri sejajar dengan Syeikh Mufti Amin AlHusaini memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
Pemuda Pergerakan: Kedewasaan 20 Tahun Lebih Cepat
Pada usia 24 tahun, Sugondo Djojopuspito memimpin Kongres Pemuda II (1928) yang melahirkan Sumpah Pemuda. Di saat banyak lulusan baru masa kini masih kebingungan mencari pekerjaan, Siti Hajinah, pengurus besar Aisyiyah berusia 22 tahun, telah berdiri di podium Kongres Pemuda II menyuarakan citacita persatuan bangsa.
Kongres tersebut adalah fenomena unik: meski Indonesia belum memiliki negara atau pemerintahan, para pemudanya telah memikirkan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ratarata usia mereka baru dua puluhan, namun kesadaran kebangsaannya jauh melampaui zamannya.
Jejak Para Perintis Bangsa
Generasi perintis bangsa Indonesia menunjukkan bahwa usia muda bukan alasan untuk menunda pengabdian. H.O.S. Tjokroaminoto telah memimpin Sarekat Islam di usia 30 tahun dan dijuluki Raja Jawa Tanpa Mahkota karena wibawanya yang ditakuti Belanda.
Kiai Haji Mas Mansur menunaikan haji di usia 12 tahun dan menjadi mubaligh Muhammadiyah di usia 26 tahun.
Mohammad Natsir, sejak usia 15 tahun aktif di Jong Islamieten Bond (JIB) dan pada usia 24 tahun mendirikan Sekolah Pendidikan Islam (Pendis) di Bandung — sekolah integral berbasis tauhid dengan bahasa Arab dan Belanda sebagai pengantar.
Namanama lain pun tak kalah menginspirasi:
Hamka yang muda dan haus ilmu, Jenderal Soedirman yang menjadi panglima di usia 30 tahun, A.R. Baswedan yang memimpin Partai Arab Indonesia di usia 26 tahun, Bung Hatta yang menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia di Belanda pada usia 24 tahun, serta Bung Karno yang mendirikan Partai Nasional Indonesia saat berusia 26 tahun.
Di Sumatera Barat, Abdul Gaffar Ismail memimpin PERMI pada usia 18 tahun, sementara Tan Malaka telah aktif di Sarekat Islam Semarang pada usia 24 tahun. Di sisi lain, Rasimah Ismail, Ratna Sari, dan Rasuna Said berani menentang penjajah di usia 20an, hingga akhirnya dibuang dari kampung halaman.
Tak ketinggalan, A. Wahid Hasyim mendirikan Madrasah Nizhamiyah di usia 20 tahun, dan Joesdi Ghazali membentuk Pelajar Islam Indonesia (PII) pada usia 24 tahun.
Mereka semua tumbuh menjadi pelita pergerakan, dari Ahmad Dahlan hingga Bung Tomo, dari Hasyim Asy’ari hingga Adam Malik — membuktikan bahwa sejarah bangsa ini ditulis oleh para pemuda yang matang sebelum waktunya.
Apa yang Hilang dari Pemuda Hari Ini?
Jika dibandingkan dengan generasi perintis, tingkat kedewasaan pemuda masa kini seolah tertinggal dua dekade. Para pendahulu telah membangun kesadaran nasional sejak remaja, bukan menunggu mapan di usia matang.
Dalam refleksi pribadi, penulis mengingat dua tokoh besar: Prof. Kuntowijoyo (Sejarawan, 1943–2005) dan Ali Audah (Sastrawan, 1924–2017). Dari keduanya, lahir empat faktor penting yang menumbuhkan kedewasaan seseorang:
Pertama, peran orang tua dan lingkungan. Kedua, paparan terhadap sejarah tokohtokoh besar. Tidak ada manusia besar yang tak belajar dari kisah orang besar sebelumnya.
Ketiga, penanaman citacita tinggi sejak dini, dan keempat, pergaulan dengan orangorang yang berpikir dewasa.
Generasi Jong Islamieten Bond (JIB) adalah contoh nyata. Mereka tumbuh dengan silaturahmi dan diskusi bersama Haji Agus Salim serta Tuan Ahmad Hassan, dua sosok yang menumbuhkan kesadaran intelektual dan spiritual mereka.
Kedewasaan, pada akhirnya, bukan hasil warisan, melainkan pilihan sadar. Pepatah bijak mengatakan: “Semua orang pasti akan tua, tetapi tidak semua orang menjadi dewasa.”
Saatnya Bangkit dan Menulis Sejarah Baru
Mohammad Natsir (1908–1993) pernah berpesan, “Pemimpin muda yang cakap dan terampil tidak akan lahir jika orang tua tidak menyiapkannya.”
Dan sebagaimana dikatakan filsuf: “Those who cannot remember the past are condemned to repeat it.” (Mereka yang lupa masa lalunya akan dihukum untuk mengulang kesalahan yang sama.)
Maka, wahai pemuda Indonesia — bangkitlah dari tidur panjangmu. Sejarah menunggu untuk kembali ditulis, dan pena itu kini ada di tanganmu.*
Founder Pusat Dokumentasi Islam Indonesia Tamaddun




