Oleh: Ady Amar
Hidayatullah.com – MEREKA menyebut dirinya kampiun demokrasi. Negeri yang katanya dibangun dari impian kebebasan, dari perlawanan terhadap penindasan, dari cita-cita luhur bahwa setiap manusia setara di hadapan hukum dan Tuhan. Tapi lihatlah kini, betapa cepat semua narasi mulia itu ambruk hanya karena satu hal sederhana: seorang Muslim menang di kotanya sendiri.
Zohran Mamdani, Wali Kota New York yang berkulit sawo matang dan bernama seperti dari kitab lain, tiba-tiba menjadi ancaman bagi mereka yang selama ini hidup nyaman dalam ilusi kebebasan. Ia bukan musuh bagi hukum, bukan ancaman bagi keamanan, tapi bagi ego yang tak rela melihat sejarah menulis nama Islam di jantung Amerika. Maka isu pun digoreng: “Haruskah Mamdani diusir dari Amerika?”
Pertanyaan yang sejatinya tidak sedang bertanya, melainkan menuding. Mereka tidak sedang menggugat kebijakan Mamdani, melainkan darahnya, imannya, dan wajahnya. Semua ini bukan tentang politik, tapi tentang rasa takut lama yang tak pernah sembuh—takut pada bayangan sendiri, pada sosok asing yang mereka ciptakan di kepala mereka sendiri: “si Muslim itu.”
Lucunya, semua itu terjadi di New York—kota yang dielu-elukan sebagai mercusuar keterbukaan, mosaik multikultural yang katanya menjadi bukti keindahan keberagaman.
Tapi barangkali justru di tempat seperti itulah kebusukan paling halus menyelinap, di balik jargon freedom, diversity, dan equal opportunity. Kata-kata manis yang ternyata cuma tirai; di baliknya duduk rasisme berjas mahal, tersenyum ramah sambil menggenggam paranoia primitif.
Barangkali Partai Republik memang belum pulih dari kekalahannya. Tapi yang lebih menyedihkan bukan soal kalah-menang, melainkan bagaimana kebencian masih dijadikan bahan bakar yang sah di negeri yang mengaku tercerahkan.
Donald Trump menulis di platformnya dengan nada menghina, menyebut Mamdani sebagai “orang gila komunis seratus persen” dan bahkan mencaci pendukung Yahudi yang memilih Mamdani sebagai “bodoh.”
Elise Stefanik, anggota Kongres Republik dari New York, lebih jauh lagi menuduh Mamdani sebagai “seorang jihadis sejati” dan “pembenci Yahudi yang mendukung Hamas”—tuduhan yang dilempar tanpa satu pun bukti.
Lihatlah bagaimana logika mereka tergelincir, seorang Muslim bekerja untuk Amerika—dicurigai. Seorang Muslim sukses di Amerika—dianggap anomali. Seorang Muslim memenangi pemilu di Amerika—disebut berbahaya. Mereka seperti hendak berkata, “Kami mencintai demokrasi, tapi hanya jika yang menang bukan kamu.”
Sungguh ironis. Negeri yang mengajarkan dunia tentang hak asasi manusia justru menelanjangi dirinya sendiri dengan ketakutan yang begitu purba. Mereka lupa bahwa kekuasaan tidak punya agama, dan kebaikan tidak punya ras.
Inilah wajah sejati “dunia bebas”: tempat di mana kebebasan yang mereka banggakan ternyata rapuh, terperangkap dalam ketakutan yang irrasional terhadap yang berbeda.
Zohran Mamdani kini bukan sekadar Wali Kota; ia cermin besar tempat Amerika mesti bercermin. Di dalam pantulan itu, tampak wajahnya sendiri penuh ketakutan, kemunafikan, dan rasisme yang tak pernah benar-benar pergi sejak perbudakan pertama kali dilegalkan atas nama ekonomi.
Dan jika sejarah punya rasa humor, barangkali ia sedang tertawa kecil sekarang—melihat negeri yang dulu menolak diskriminasi kini gagap menghadapi hasil pilihannya sendiri.
Jadi, apa yang sebenarnya mereka takutkan? Bahwa seorang Muslim bisa lebih jujur memimpin kotanya? Bahwa seseorang yang beriman bisa lebih manusiawi dari mereka yang berteriak “freedom” tiap hari?
Mungkin mereka takut karena diam-diam tahu, bahwa keadilan tidak memilih ras, dan nurani tidak tunduk pada paspor.
Maka ketika mereka berteriak “usir dia!”, yang mereka usir sebenarnya bukan Mamdani—melainkan sisa-sisa nurani yang dulu mereka banggakan. Dan ketika mereka merasa terancam oleh kemenangan seorang Muslim, sesungguhnya yang sedang kalah bukan Mamdani, tapi Amerika itu sendiri.
Di tahun 1960-an, seorang penulis kulit hitam bernama James Baldwin pernah menulis dengan getir: “Rasisme adalah kebohongan yang membuat orang Amerika merasa tidak perlu melihat kebenaran.”
Ia menulis dari luka sejarah—dari tubuh yang menyimpan ingatan perbudakan dan diskriminasi yang membatu. Kini, setengah abad kemudian, kalimat itu bergaung kembali dalam wajah Mamdani yang seorang Muslim dan menjadi korban kebohongan lama yang tak juga sembuh.
Amerika, seperti kata Baldwin, selalu mencoba menulis ulang dirinya sendiri. Tapi setiap kali pena itu menyentuh kertas, noda lama rasisme selalu muncul lagi dari balik huruf-hurufnya.**




