Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

“Rasisme adalah bentuk kolektivisme paling rendah—sebuah pengakuan terhadap kejahatan moral manusia, dengan menganggap nilai seseorang ditentukan oleh kelahirannya.” — Ayn Rand (1905–1982), filsuf dan novelis Amerika

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 11 November 2025 15:57 3:57 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 11 November 2025 16:00
Bagikan
Calon walikota New York City Zohran Mamdani berbicara pada konferensi pers di Bronx, New York, pada 1 Oktober 2025. Kyle Mazza/Anadolu via AFP
Bagikan

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com – MEREKA menyebut dirinya kampiun demokrasi. Negeri yang katanya dibangun dari impian kebebasan, dari perlawanan terhadap penindasan, dari cita-cita luhur bahwa setiap manusia setara di hadapan hukum dan Tuhan. Tapi lihatlah kini, betapa cepat semua narasi mulia itu ambruk hanya karena satu hal sederhana: seorang Muslim menang di kotanya sendiri.

Zohran Mamdani, Wali Kota New York yang berkulit sawo matang dan bernama seperti dari kitab lain, tiba-tiba menjadi ancaman bagi mereka yang selama ini hidup nyaman dalam ilusi kebebasan. Ia bukan musuh bagi hukum, bukan ancaman bagi keamanan, tapi bagi ego yang tak rela melihat sejarah menulis nama Islam di jantung Amerika. Maka isu pun digoreng: “Haruskah Mamdani diusir dari Amerika?”

Pertanyaan yang sejatinya tidak sedang bertanya, melainkan menuding. Mereka tidak sedang menggugat kebijakan Mamdani, melainkan darahnya, imannya, dan wajahnya. Semua ini bukan tentang politik, tapi tentang rasa takut lama yang tak pernah sembuh—takut pada bayangan sendiri, pada sosok asing yang mereka ciptakan di kepala mereka sendiri: “si Muslim itu.”

Lucunya, semua itu terjadi di New York—kota yang dielu-elukan sebagai mercusuar keterbukaan, mosaik multikultural yang katanya menjadi bukti keindahan keberagaman.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Tapi barangkali justru di tempat seperti itulah kebusukan paling halus menyelinap, di balik jargon freedom, diversity, dan equal opportunity. Kata-kata manis yang ternyata cuma tirai; di baliknya duduk rasisme berjas mahal, tersenyum ramah sambil menggenggam paranoia primitif.

Barangkali Partai Republik memang belum pulih dari kekalahannya. Tapi yang lebih menyedihkan bukan soal kalah-menang, melainkan bagaimana kebencian masih dijadikan bahan bakar yang sah di negeri yang mengaku tercerahkan.

Donald Trump menulis di platformnya dengan nada menghina, menyebut Mamdani sebagai “orang gila komunis seratus persen” dan bahkan mencaci pendukung Yahudi yang memilih Mamdani sebagai “bodoh.”

Elise Stefanik, anggota Kongres Republik dari New York, lebih jauh lagi menuduh Mamdani sebagai “seorang jihadis sejati” dan “pembenci Yahudi yang mendukung Hamas”—tuduhan yang dilempar tanpa satu pun bukti.

Lihatlah bagaimana logika mereka tergelincir, seorang Muslim bekerja untuk Amerika—dicurigai. Seorang Muslim sukses di Amerika—dianggap anomali. Seorang Muslim memenangi pemilu di Amerika—disebut berbahaya. Mereka seperti hendak berkata, “Kami mencintai demokrasi, tapi hanya jika yang menang bukan kamu.”

Sungguh ironis. Negeri yang mengajarkan dunia tentang hak asasi manusia justru menelanjangi dirinya sendiri dengan ketakutan yang begitu purba. Mereka lupa bahwa kekuasaan tidak punya agama, dan kebaikan tidak punya ras.

Inilah wajah sejati “dunia bebas”: tempat di mana kebebasan yang mereka banggakan ternyata rapuh, terperangkap dalam ketakutan yang irrasional terhadap yang berbeda.

Zohran Mamdani kini bukan sekadar Wali Kota; ia cermin besar tempat Amerika mesti bercermin. Di dalam pantulan itu, tampak wajahnya sendiri penuh ketakutan, kemunafikan, dan rasisme yang tak pernah benar-benar pergi sejak perbudakan pertama kali dilegalkan atas nama ekonomi.

Dan jika sejarah punya rasa humor, barangkali ia sedang tertawa kecil sekarang—melihat negeri yang dulu menolak diskriminasi kini gagap menghadapi hasil pilihannya sendiri.

Jadi, apa yang sebenarnya mereka takutkan? Bahwa seorang Muslim bisa lebih jujur memimpin kotanya? Bahwa seseorang yang beriman bisa lebih manusiawi dari mereka yang berteriak “freedom” tiap hari?

Mungkin mereka takut karena diam-diam tahu, bahwa keadilan tidak memilih ras, dan nurani tidak tunduk pada paspor.

Maka ketika mereka berteriak “usir dia!”, yang mereka usir sebenarnya bukan Mamdani—melainkan sisa-sisa nurani yang dulu mereka banggakan. Dan ketika mereka merasa terancam oleh kemenangan seorang Muslim, sesungguhnya yang sedang kalah bukan Mamdani, tapi Amerika itu sendiri.

Di tahun 1960-an, seorang penulis kulit hitam bernama James Baldwin pernah menulis dengan getir: “Rasisme adalah kebohongan yang membuat orang Amerika merasa tidak perlu melihat kebenaran.”

Ia menulis dari luka sejarah—dari tubuh yang menyimpan ingatan perbudakan dan diskriminasi yang membatu. Kini, setengah abad kemudian, kalimat itu bergaung kembali dalam wajah Mamdani yang seorang Muslim dan menjadi korban kebohongan lama yang tak juga sembuh.

Amerika, seperti kata Baldwin, selalu mencoba menulis ulang dirinya sendiri. Tapi setiap kali pena itu menyentuh kertas, noda lama rasisme selalu muncul lagi dari balik huruf-hurufnya.**

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:MuslimNew YorkZohran Mamdani
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Muslimat Hidayatullah World Peace Forum-9, Muslimat Hidayatullah: Wasathiyah Bermakna Pemberdayaan
Tulisan selanjutnya YouTube Dihujat Setelah Hapus Ratusan Video Bukti Kekerasan ‘Israel’ di Gaza

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Tsaqafah

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?

Tsaqafah
25 Agustus 2026 08:52
Iran Eksekusi Pria yang Didakwa Membantu Amerika dan Israel Semasa Protes Anti Rezim
Al Muzzammil Yusuf: Perjuangan Kemerdekaan Palestina Butuh Kerja Bersama Dunia Internasional
UEA Putuskan Hubungan Dagang, Iran Peringatkan Negara Teluk Tidak Bantu Amerika
‘Israel’ Cemas, Rudal Hipersonik Baru Turki Dinilai Jadi Ancaman Zionis

Terbaru

  • “Saya Menyebarkan Berita Palsu,” aku Pejabat Komunikasi ‘Israel’
  • ‘Israel’ Cemas, Rudal Hipersonik Baru Turki Dinilai Jadi Ancaman Zionis
  • Cari Suara, Netanyahu Tegaskan ‘Israel’ Tak akan Biarkan Negara Palestina Berdiri
  • Operasi Penikaman Berhasil Lukai Warga ‘Israel’, Hamas: Itu Respon atas Kejahatan Zionis
  • MUI Soroti Pemblokiran Rekening Aktivis, Ingatkan Ancaman Penarikan Dana Massal
  • YLBH Hidayatullah Soroti Dugaan Kewajiban Lepas Hijab bagi Calon Kadet Putri Unhan
  • Sultan Perak Dorong Persaudaraan Muslim Redam Persaingan Politik
  • Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
  • MUI Ajak Penulis Dunia Ikut ISSA-Palestine 2026, Jadikan Sastra sebagai Suara Kemanusiaan
  • APCQP Perkuat Kolaborasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?