Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Bencana Akidah di Indonesia

Ahmad
Terakhir diupdate: 25 Desember 2025 09:51 9:51 am
Ahmad
Dipublikasikan 25 Desember 2025 09:46
Bagikan
Bagikan

Penolakan Natal bersama bukan sikap intoleran, melainkan upaya menjaga kemurnian tauhid dan batas akidah umat Islam di tengah pluralitas Indonesia

Oleh: Muhammad Syafii Kudo

Hidayatullah.com | DI PENGHUJUNG tahun yang penuh bencana, muncul rencana penyelenggaraan perayaan Natal Bersama yang diinisiasi Kementerian Agama Republik Indonesia. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan bahwa Kemenag akan menggelar Natal bersama, disebut sebagai yang pertama sejak Indonesia merdeka. Pernyataan itu disampaikan dalam acara Natal Tiberias 2025 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

Menurut Menag, kegiatan tersebut dimaksudkan untuk menegaskan bahwa tidak boleh ada sekat antarsesama anak bangsa dan bahwa keberagaman adalah “lukisan Tuhan yang indah” yang harus dijaga keharmonisannya.

Narasi ini kembali mengemuka sebagaimana selama ini digaungkan para pendukung pluralisme agama.

Baca Juga

Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi
Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

Dalam pandangan Islam, persoalan ini menyentuh wilayah paling mendasar, yakni akidah. Bencana terbesar bukanlah bencana alam, melainkan bencana akidah, karena menyangkut keselamatan dunia dan akhirat. Al-Qur’an menggambarkan dahsyatnya penyimpangan ini:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا
لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا
تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا
أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا
وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا

“Dan mereka berkata: Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Sungguh, kamu telah mendatangkan sesuatu yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karenanya, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menisbatkan anak kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Padahal tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak.” (QS. Maryam: 88–92).

Ibnu Abbas menafsirkan lafaz iddan sebagai dosa yang sangat besar. Kemusyrikan digambarkan mengguncang langit dan bumi karena kebesaran hak Allah atas tauhid.

Islam mengakui pluralitas sebagai sunatullah. Al-Qur’an menegaskan, “bagimu agamamu dan bagiku agamaku”, serta لا إكراه في الدين, “tidak ada paksaan dalam beragama”. Namun Islam menolak pluralisme agama yang mencampuradukkan akidah.

Fatwa MUI Nomor 7/MUNAS VII/MUI/11/2005 secara tegas mengharamkan paham yang menyamakan semua agama, seraya menegaskan toleransi sosial tanpa penyatuan keyakinan.

Natal bagi umat Kristen adalah perayaan kelahiran anak Tuhan. Sementara Islam menegaskan bahwa Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan.

Prinsip ini diajarkan sejak dini melalui sifat Mukhalafah lil Hawadits. Meminta Muslim ikut merayakan Natal berarti menempatkan mereka dalam kontradiksi akidah. Toleransi bukan ikut ritual, melainkan saling menghormati tanpa mencampuri keyakinan.

Sejarah mencatat ketegasan Buya Hamka. Dalam memoarnya disebutkan bahwa beliau menyatakan haram bagi Muslim menghadiri perayaan Natal karena menyangkut aqidah tauhid. Keteguhan ini membuatnya memilih mundur dari jabatan Ketua MUI, hingga wafat tidak lama kemudian.

Para ulama klasik pun menekankan penjagaan akidah. Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq menyebutkan anjuran membaca syahadat saat melihat tempat ibadah non-Muslim:

أشهد أن لا إله إلاّ ﷲ وحده لا شريك له إلٰهًا واحدًا, لا نعبد إلا إيّاه

“Disunahkan membaca syahadat agar akidah tidak terkotori, karena di tempat itu Allah disekutukan.”

Al-Qur’an kembali mengingatkan:

يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70).

Kesyirikan ditegaskan sebagai kezaliman terbesar:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13).

Tauhid tidak pernah bisa dikompromikan dengan syirik. Sebagaimana ditegaskan Buya Hamka, jika tauhid diperdamaikan dengan syirik, maka itu adalah kemenangan syirik. Karena itu, penolakan Natal bersama bukan sikap anti-keberagaman, melainkan bentuk tanggung jawab menjaga kemurnian akidah.*

Penulis seorang santri tinggal di Bangil, Pasuruan, Jatim

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:akidah umat IslamintolerannatalPluralisme agamatauhid
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Halal di Era Regulasi: Antara Tuntutan Fiqh dan Beban Administrasi
Tulisan selanjutnya Mas Jazir: Dari Romo Mangun Sampai Masjidil Aqsha  (Bagian Pertama)

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Opini

Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

Opini
7 Agustus 2026 17:00
Pengembangan ‘Warisan Budaya’, Dalih Zionis Perkuat Cengkraman atas Tepi Barat
Rektor UIN Tulungagung: Jangan Jauhkan Anak dari Masjid
Pelajar Pelaku Penembakan di Sekolah Bergengsi Thailand Pendiam dan Kerap Main Game Kekerasan
Erdogan Buka Pintu Bagi Negara Sahabat Gabung Perjanjian Pertahanan Makkah

Terbaru

  • Dari Kaltim ke Maroko, Dua Hafidz Ini Wakili Indonesia di MTQ Internasional
  • Untuk Kesekian Kalinya, Istri Netanyahu Dituduh Aniaya ART
  • Suriah akan Ubah Pangkalan Militer Rusia Jadi Pusat Pelatihan Bersama
  • Gandeng ICMI dan BRIN, Pemprov Maluku Tegaskan Pentingnya Kebijakan Berbasis Riset
  • Genosida ‘Israel’ Sebabkan Ribuan Muslimah Gaza Keguguran
  • Sita Kontainer Tujuan ‘Israel’, Malaysia Tegaskan Larangan Berhubungan dengan Zionis
  • Inilah Lima Poin Utama Pakta Pertahanan Mekkah antara Turki-Arab Saudi dan Pakistan
  • Liga Arab Sambut Pakta Pertahanan Makkah untuk Dunia Islam
  • Turki, Arab Saudi, dan Pakistan Bentuk Pakta Pertahanan Makkah: “Serang Satu, Hadapi Bertiga” 
  • Peringatan Arbain, Pro-Rezim Iran Bentrok dengan Pendukung Sadiq al-Shirazi

Mungkin Anda Juga Suka

Pustaka

Al-Rushafi dan Catatan Kritis Seputar Sirah Nabi Muhammad

31 Juli 2026 20:21
Menjaga Warisan Ulama di Era Disrupsi Informasi
Artikel

Menjaga Warisan Ulama di Era Disrupsi Informasi

24 Juli 2026 16:00
Artikel

Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam

21 Juli 2026 07:00
Artikel

Hubungan Agama dan Sains

6 Juli 2026 15:36
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?