Hidayatullah.com – Sebuah penelitian baru memperingatkan adanya risiko serius munculnya lost generation atau “generasi yang hilang” di Gaza akibat kombinasi dampak fisik dan psikologis serta penghancuran sekolah yang disebabkan perang genosida ‘Israel’. Studi menemukan bahwa anak-anak Palestina di Gaza akan kehilangan pendidikan setara dengan lima tahun.
Genosida tersebut hampir menghapus hak anak-anak atas pendidikan, menurut temuan para peneliti dari Universitas Cambridge.
Laporan tersebut, yang mengikuti studi serupa pada tahun 2024, memberikan analisis tentang dampak dua tahun genosida ‘Israel’ di Gaza, serta peningkatan serangan penjajah di Tepi Barat yang diduduki.
Terdapat sekitar 1,5 juta anak berusia enam hingga 15 tahun di Gaza dan Wilayah Palestina yang diduduki. Laporan tersebut menyatakan bahwa pendidikan lebih dari 740.000 siswa telah terganggu secara serius dan kehidupan 27.000 guru terdampak.
Meskipun gencatan senjata mulai berlaku pada bulan Oktober, “pemulihan pembelajaran” akan memakan waktu lebih lama daripada sekadar mengganti waktu yang hilang karena dampak gabungan trauma dan kelaparan, kata para peneliti.
Studi tersebut memperkirakan bahwa anak-anak di Gaza akan kehilangan pendidikan setara dengan lima tahun karena penutupan sekolah berulang kali sejak tahun 2020, pertama karena Covid-19, dan kemudian genosida ‘Israel’.
Meskipun langkah sementara dan pembelajaran daring telah diperkenalkan oleh badan PBB untuk pengungsi Palestina UNRWA dan Kementerian Pendidikan Palestina, langkah-langkah ini terhambat oleh serangan ‘Israel’ yang terus berlanjut, kerusakan infrastruktur, dan kekurangan sumber daya akut.
Para penulis memperkirakan bahwa jika sekolah tetap ditutup hingga September 2027, banyak remaja akan tertinggal satu dekade penuh dari tingkat pendidikan yang diharapkan.
Mereka juga memperkirakan bahwa anak-anak di Tepi Barat telah kehilangan minimal 2,5 tahun pendidikan karena sekolah juga ditutup secara sporadis oleh penjajah ‘Israel’.
Ada juga kebutuhan mendesak akan bantuan internasional terkait pendidikan di Gaza untuk mengatasi kerugian pembelajaran yang parah dan dampak psikologis dari serangan tersebut, kata studi tersebut.
Ditambahkan bahwa ‘Israel’ memblokir masuknya materi pendidikan dan rekreasi ke Gaza, karena zionis tidak mengklasifikasikan barang-barang tersebut sebagai barang kemanusiaan.
Hal ini membuat materi yang tersedia di pasar lokal menjadi lebih mahal, dengan satu lembar kertas berharga Rp50.000. Mencetak materi untuk siswa belajar di rumah dapat menghabiskan biaya 10 kali lipat dari jumlah biasanya.
Para peneliti memperkirakan biaya pemulihan pendidikan sebesar $1,38 miliar. Semua sekolah di Gaza utara dan Rafah telah rusak, 98,4 persen bangunan sekolah di Khan Younis rusak dan di Kota Gaza mencapai 93,3 persen. Banyak bangunan sekolah yang tidak hancur digunakan sebagai tempat penampungan oleh keluarga pengungsi.
Karena penduduk terpaksa mengungsi di sekitar Gaza, baik ke selatan selama serangan ‘Israel’ sebelumnya atau kembali ke utara setelah gencatan senjata, hal ini juga membebani fasilitas darurat, yang berarti pembelajaran dilakukan secara daring meskipun koneksi internet tidak stabil.
Pendidikan akan bergantung pada bantuan asing untuk masa mendatang, kata para peneliti, menambahkan bahwa dari US$230,3 juta yang diminta oleh kantor kemanusiaan PBB, OCHA, untuk pendidikan pada tahun 2025, hanya 5,7 persen yang telah diberikan hingga Juli, setara dengan sekitar US$9 per anak.
Studi ini dilakukan oleh para peneliti di Pusat Penelitian untuk Akses dan Pembelajaran yang Adil (REAL Centre) di Universitas Cambridge dan Pusat Studi Lebanon, bekerja sama dengan badan PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA. Laporan ini mengambil data dari badan-badan PBB, badan amal, dan LSM, serta wawancara dengan staf organisasi bantuan, pejabat pemerintah, guru, dan murid.
Dr. Maha Shuayb, direktur Pusat Studi Lebanon, mengatakan, “Pendidikan dan layanan anak-anak tidak boleh dianggap remeh. Keduanya merupakan sumber stabilitas dan perawatan yang vital.”
Banyak anak yang terlalu lemah untuk belajar atau bermain, demikian peringatan laporan tersebut.
Selain bukti sistem sekolah yang hancur, laporan ini juga menggambarkan bagaimana serangan, kelaparan, dan trauma telah melenyapkan segala bentuk masa kanak-kanak yang “normal”.
Prof. Pauline Rose, direktur Pusat REAL, mengatakan: “Setahun yang lalu kami mengatakan pendidikan sedang diserang – sekarang kehidupan anak-anak berada di ambang kehancuran total.”
“Warga Palestina telah menunjukkan keinginan luar biasa untuk mendapatkan pendidikan selama perang yang mengerikan ini, tetapi hilangnya kepercayaan dan harapan yang diungkapkan kaum muda harus menjadi peringatan besar bagi komunitas internasional. Kita harus berbuat lebih banyak untuk mendukung mereka. Kita tidak bisa menunggu.”
Yusuf Sayed, seorang profesor pendidikan di Universitas Cambridge, mengatakan bahwa para guru dan konselor menunjukkan keteguhan dan komitmen untuk “melestarikan identitas Palestina melalui pendidikan”, tetapi memperingatkan bahwa skala kebutuhan sangat besar.
“Ribuan guru baru akan dibutuhkan untuk menggantikan mereka yang telah tiada atau untuk mendukung pemulihan pembelajaran secara menyeluruh. Berinvestasi pada guru sangat penting untuk membangun kembali dan memulihkan pendidikan di Palestina,” katanya.
Pada tanggal 1 Oktober 2025, OCHA melaporkan 18.069 siswa dan 780 staf pendidikan tewas di Gaza akibat serangan ‘Israel’. Terdapat juga 26.391 siswa dan 3.211 guru yang terluka. Sekitar 13.000 anak di wilayah tersebut telah dirawat karena kekurangan gizi akut, sementara 147 meninggal dunia.
Laporan tersebut menemukan bukti keputusasaan yang meluas. Para guru menceritakan orang tua bertanya: “Mengapa saya harus peduli dengan pendidikan anak-anak saya jika saya tahu mereka akan mati kelaparan?”




