Hidayatullah.com– Perusahaan gas Amerika Serikat Caturus, hari Jumat (13/2/206), mengatakan bahwa pihaknya sudah menandatangani kesepakatan 20 tahun untuk menyuplai 1 juta ton per tahun LNG ke Saudi Aramco dari proyek ekspor Louisiana yang diajukannya.
Amerika Serikat berupaya mengukuhkan posisinya sebagai eksportir LNG terbesar dunia, melampaui para unggulan sebelumnya Qatar dan Australia.
Sektor LNG (gas alam cair) mengalami peningkatan aktivtas komersial sejak Presiden Donald Trump mencabut penangguhan izin ekspor baru tahun lalu.
“Kesepakatan ini menyoroti kuatnya permintaan internasional akan LNG dari AS dan mengarisbawahi bagaimana jalinan hubungan yang awet dan posisi kapabilitas Caturus dalam melayani pasar global,” kata CEO Caturus David Lawler seperti dilansir Reuters.
Para pengembang LNG biasanya mencapi keputusan akhir investasi suatu proyek setelah mereka memastikan telah memiliki kesepakatan suplai yang mencukupi untuk mendapatkan pembiayaan untuk konstruksi. Commonwealth sebelumnya menyatakan ingin mencapai kapasitas produksi 8 mtpa untuk bisa mengambil keputusan investasi akhir (FID) dalam proyek itu.
Proyek pembangunan tahap 1 Commonwealth diperkirakan akan menghasilkan pendapatan ekspor tahunan sebesar 3,5 miliar dolar AS, dengan operasional dimulai pada tahun 2030, kata perusahaan tersebut dalam sebuah pernyataan.
Caturus mengatakan Aramco bergabung dengan sekelompok perusahaan yang telah menandatangani kontak jangka panjak dalam proyek itu, seperti Glencore, perusahaan energi terbesar Jepang JERA, perusahaan Malaysia Petronas, serta Mercuria dan EQT.
Aramco sejak lama bermaksud memperluas portofolionya ke sektor suplai LNG, terutama di Amerika Serikat, di mana kapasitas LNG akan naik hampir dua kali lipat kurun empat tahun ke depan.
Aramco sebelumnya sudah menandatangi kesepakatan dengan beberapa perusahaan AS lain, termasuk NextDecade yang menggarap proyek LNG Rio Grande.*




