Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
HikmahKajian

Kisah Jenaka Hari Raya (1) : Diinterogasi Istri Sepulang Shalat ‘Id

Mahmud
Terakhir diupdate: 20 Maret 2026 20:21 8:21 pm
Mahmud
Dipublikasikan 20 Maret 2026 20:18
Bagikan
Bagikan

Pandangan yang tidak dijaga bisa menyalakan syahwat, melemahkan iman, dan memadamkan cahaya hati. Sebaliknya, menahan pandangan karena takut kepada Allah akan diganti dengan manisnya ibadah dan ketenangan batin.

Hidayatullah.com | SUATU hari −sebagaimana dikisahkan oleh Abu Hakim− Hassan bin Abi Sinan pada 1 Syawal pergi ke luar rumah untuk menunaikan shalat Idul Fitri. Sekembalinya dari ibadah, tiba-tiba ditanya sang istri dengan pertanyaan yang terkesan menuduh.

“Sudah berapa wanita cantik yang telah kamu lihat dan perhatikan pada hari ini?” Pertanyaan ini diulang berkali-kali sehingga membuat Hassan bin Abi Sinan merasa sedikit tertekan. Zaman sekarang persis seperti diinterogasi polisi.

“Apaan sih, sedari tadi sejak berangkat dari rumah sampai datang ke rumah ketemu kamu, yang kulihat cuma ibu jariku.” (Ibnu Abid Dunya, al-Wara’, 64).

*****

Baca Juga

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah
Rahasia Hari Arafah yang Dibenci Iblis: Inilah 10 Keutamaannya
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Menyiapkan Kurban Terbaik tanpa Memaksa Diri di Luar Kesanggupan

Ada dua sisi menarik dari kisah jenaka ini yang bisa dijadikan pelajaran bagi pasangan suami istri. Pertama, untuk istri dibolehkan bertanya kepada suami, tetapi nadanya bukan seperti orang nuduh.

Perhatikan pertanyaan-pertanyaan istri Rasulullah dalam sirah nabawiyah kepada beliau (sang suami)! Tak jauh dari apa yang dicontohkan nabi. Penuh kelembutan, jauh dari prasangka, dipilihkan diksi mengandung kasih sayang; dan jauh dari tuduhan-tuduhan.

Pasca menerima wahyu perdana, pernah Rasulullah merasa ketakutan. Saat kembali ke rumah, diceratakanlah apa yang dialami dan dirasakan oleh jiwanya saat itu. Khadijah sebagai istri tidak menambah runyam kondisi, justru malah menenangkan sang suami:

كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، ‌وَتَكْسِبُ ‌الْمَعْدُومَ، وَتُقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ.

“Tidak, demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Sesungguhnya engkau benar-benar menyambung silaturahmi, menanggung beban orang lain, memberi kepada orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan menolong dalam urusan-urusan kebenaran.” (HR. Bukhari).

Setiap diksi benar-benar membuat suami tenang dan nyaman. Terlebih di saat-saat kondisi jiwa sedang sedih. Peran istri di sini begitu vital dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.

Kedua, bagi suami memang sangat penting menjaga mata agar tidak jelalatan saat hari raya. Spirit menundukkan padangan di Idul Fitri ini penting untuk dijaga agar menghindarkan hati dari dosa dan kotoran maksiat.

Pada waktu yang sama, bagi wanita yang ikut shalat Idul Fitri juga bisa menjalankan nasihat yang sama. Kadang-kadang Idul Fitri malah jadi ajang pamer perhiasan dan pakaian mewah. Ketika sejak awal mampu mengondisikan pandangan, maka hati akan terjaga dan tak mudah terprovokasi.

Selain surah An-Nur ayat 30 dan 31, ada banyak sekali nasihat-nasihat dari Rasulullah maupun salaf saleh agar masing-masing dari laki-laki dan perempuan bisa menjaga pandangan dari lawan jenis.

Suatu ketika, Ali diberi pesan penting oleh Rasulullah:

يَا عَلِيُّ، إِنَّ لَكَ كَنْزًا مِنَ الجَنَّةِ، وَإِنَّكَ ذُو قَرْنَيْهَا، فَلا ‌تُتْبِعِ ‌النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ، فَإِنَّمَا لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ

“Wahai ‘Ali, sesungguhnya engkau memiliki sebuah perbendaharaan dari surga, dan engkau adalah pemilik dua tanduknya. Maka janganlah engkau mengikuti pandangan (kepada yang haram) dengan pandangan berikutnya. Sesungguhnya engkau hanya mendapat yang pertama, dan tidak (berhak) atas yang kedua.” (HR. Ahmad)

Pandangan pertama yang tidak disengaja ke yang bukan mahram, masih bisa ditolerir, sedangkan kalau secara sengaja diikuti pandangan selanjutnya, maka bisa terjatuh pada yang diharamkan.

Abdul Malik bin ‘Attab pernah berkata:

إِنَّ النَّظَرَ إِلَى مَحَاسِنِ الْمَرْأَةِ سَهْمٌ مِنْ ‌سِهَامِ ‌إِبْلِيسَ مَسْمُومٌ، فَمَنْ غَمَّضَ بَصَرَهُ مَخَافَةَ اللَّهِ عز وجل أَعْقَبَهُ اللَّهُ بِذَلِكَ عِبَادَةً يَجِدُ حَلَاوَتَهَا فِي قَلْبِهِ

“Sesungguhnya memandang kepada keindahan wanita adalah salah satu anak panah beracun dari panah-panah Iblis. Maka barangsiapa menundukkan pandangannya karena takut kepada Allah ‘azza wa jalla, Allah akan menggantinya dengan ibadah yang ia rasakan manisnya di dalam hatinya.” (Hannad bin al-Sari, az-Zuhd, II/651).

Di antara senjata iblis yang cukup ampuh menggelincirkan manusia adalah dengan memandang kepada yang bukan mahram. Efeknya bukan main-main, sampai membuatnya tidak bisa merasakan manisnya ibadah.

Para salaf sangat menekankan pentingnya menjaga pandangan dari yang haram. Anas bin Malik berkata: “Jika lewat seorang wanita, maka tundukkanlah pandanganmu hingga ia berlalu.” Ibn Mas‘ud menegaskan: “Menjaga pandangan lebih berat daripada menjaga lisan.”

Hasan al-Bashri mengingatkan: “Satu pandangan bisa menumbuhkan syahwat, dan syahwat bisa menimbulkan kesedihan panjang.” Ibrahim bin Adham menambahkan: “Banyak melihat hal batil akan menghapus cahaya kebenaran dari hati.”

Sebagian ulama mencontohkan dengan sikap nyata. SufyAn ats-Tsauri berkata: “Awal yang kita lakukan di hari raya adalah menundukkan pandangan.” Imam Ahmad ibn Hanbal menolak menganggap sempurna tobat seseorang yang masih tidak bisa menahan mata, dengan ucapannya: “Apa itu tobat, jika ia masih tidak meninggalkan pandangan?”

Ada pula yang memilih menutup wajah atau memakai penutup kepala agar pandangan tidak bebas, menunjukkan betapa seriusnya mereka menjaga mata. (Ahmad bin Nashir ath-Thayyar, Hayātu as-Salaf bai al-Qaul wal ‘Amal, 902-904).

Menurut para salaf, pandangan yang tidak dijaga bisa menyalakan syahwat, melemahkan iman, dan memadamkan cahaya hati. Sebaliknya, menahan pandangan karena takut kepada Allah akan diganti dengan manisnya ibadah dan ketenangan batin.

Jadi, menjaga mata bukan sekadar adab, tetapi jalan menuju kebersihan hati dan kekuatan iman. Maka dari itu, baik laki-laki maupun perempuan harap menjaga pandangan pada hari raya, juga di hari lainnya. Wallāhu a’lam bish Shawāb. (MBS)

Redaktur: Mahmud
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:hari rayaHeadlineIdul fitriKisah Jenaka
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Perang Umpan Iran dan Tipuan Canggih Medan Tempur
Tulisan selanjutnya Javier Bardem Suarakan Dukungan Palestina di Oscar, Serukan Hentikan Perang

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Berita
3 Juni 2026 06:00
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Hikmah

Kisah Jenaka Qurban: 1 Ekor Ayam Ditebus 30 Domba

5 Mei 2026 11:04
Jendela Keluarga

Anak Saleh Buah dari Kesalehan Orang Tua?

26 April 2026 14:13
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?