Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
KajianTazkiyatun Nafs

Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!

Mahmud
Terakhir diupdate: 1 April 2026 08:19 8:19 am
Mahmud
Dipublikasikan 1 April 2026 08:19
Bagikan
Bagikan

“Apabila engkau melihat Allah terus-menerus melimpahkan nikmat-Nya kepadamu, sementara engkau tetap berada dalam kemaksiatan, maka berhati-hatilah; sesungguhnya itu hanyalah istidrāj (penyesatan bertahap) yang dengannya Allah menjeratmu.” (Abu Hazim Al-A’raj)

Hidayatullah.com | ADA orang yang hidupnya tampak begitu sempurna secara materi. Bisnisnya selalu untung, kariernya melesat tanpa hambatan, dan hartanya melimpah ruah, namun di sisi lain ia adalah orang yang terang-terangan meninggalkan shalat, gemar bermaksiat, dan jauh dari nilai-nilai agama.

Fenomena ini sering kali menimbulkan pertanyaan di kalangan awam: mengapa orang yang membangkang justru hidupnya terlihat lebih nyaman? Untuk menyikapi hal ini, kita harus sangat berhati-hati dan jangan terburu-buru merasa iri atau menganggap Allah tidak adil, karena apa yang dialami orang tersebut bukanlah sebuah kemuliaan, melainkan sebuah jebakan halus yang mematikan.

Dalam terminologi Islam, inilah yang disebut dengan Istidrāj. Dalam kitab “al-Tafsīr al-Basīth” karya Abul Hasan Al-Wahidi (IX/485) dijelaskan bahwa makna istidrāj adalah menurunkan seseorang sedikit demi sedikit hingga sampai pada tujuan yang ditetapkan.

Abu ‘Ubaidah menafsirkan istidrāj sebagai mendatangi seseorang dari arah yang tidak ia ketahui, sebagaimana tafsir Ibn ‘Abbās: “Kami akan memperdaya mereka dari arah yang tidak mereka sadari.” Al-Kalbi menambahkan bahwa Allah menghiasi perbuatan mereka hingga akhirnya binasa, sementara adh-Dhahhak menjelaskan bahwa setiap kali mereka memperbarui maksiat, Allah memperbarui nikmat bagi mereka.

Baca Juga

Merdeka Bersuara, Bukan Merampas Ketenangan: Sound Horeg dalam Syariat
Atas Jasa Ulama Madzhab, Ijtihad Tidak Lagi Harus Dari Nol
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Membangun Ketahanan Mental dengan Nilai-Nilai Al-Qur’an
Prajurit di Balik Layar, Pelita di Pinggir Jalan: Jejak Langkah Chumam Dasuki Merawat Literasi

Al-Azhari menafsirkan istidrāj dengan: pengambilan secara perlahan dari arah yang tidak mereka sangka, dengan cara Allah membuka kenikmatan dunia hingga mereka terlena, lalu dicabut secara tiba-tiba.

Abdullah bin Muslim menjelaskan bahwa istidrāj berarti mendekatkan mereka sedikit demi sedikit kepada azab Allah. Kata ini berasal dari “darajah” (tingkatan), seperti orang yang naik atau turun tangga setahap demi setahap. Dari makna bahasa ini, istidrāj dipahami sebagai proses perlahan yang membuat seseorang tidak sadar sedang digiring menuju kebinasaan.

Landasan utama mengenai fenomena ini terdapat dalam Kitab Musnad Ahmad (28/547), dari ‘Uqbah bin Amir, bahwa Nabi SAW bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ

“Apabila engkau melihat Allah memberikan nikmat dunia kepada hamba-Nya yang selalu bermaksiat sesuai dengan keinginannya, maka sesungguhnya itu adalah Istidraj.” Setelah itu, Rasulullah SAW membacakan firman Allah dalam Surah Al-An’am ayat 44:

فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍۗ حَتّٰٓى اِذَا فَرِحُوْا بِمَآ اُوْتُوْٓا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ

“Maka, ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan pintu-pintu segala sesuatu (kesenangan) untuk mereka, sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.”

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab “Ad-Dā’ wa Ad-Dawā’” (77) menjelaskan bahwa banyak orang yang terpedaya dengan nikmat yang mereka terima. Mereka menyangka bahwa kelapangan rezeki adalah bukti kecintaan Allah kepada mereka dan jaminan bahwa di akhirat kelak mereka akan mendapatkan yang lebih baik lagi.

Anggapan ini adalah sebuah kesesatan yang nyata karena Allah telah membantah logika tersebut dalam Surah Al-Fajr ayat 15-17: “Adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kenikmatan, berkatalah dia, “Tuhanku telah memuliakanku.” [15] Sementara itu, apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, berkatalah dia, “Tuhanku telah menghinaku.” [16] Sekali-kali tidak! Sebaliknya, kamu tidak memuliakan anak yatim [17]”

Melalui ayat ini, kita dapat memahami bahwa kelapangan rezeki bukanlah bentuk pemuliaan, dan kesempitan rezeki bukanlah bentuk penghinaan. Sebagaimana disebutkan dalam Jami’ At-Tirmidzi, Nabi SAW bersabda:

 إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الْإِيمَانَ إِلَّا مَنْ يُحِبُّ

“Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada siapa pun, baik yang dicintai maupun tidak, namun iman hanya diberikan kepada mereka yang dicintai-Nya.”

Sedemikian rendahnya nilai dunia di mata Allah, Allah bahkan menegaskan dalam Surah Az-Zukhruf ayat 33-35 bahwa jika bukan karena takut manusia akan menjadi kafir semua, tentulah Allah akan membuatkan rumah dengan loteng dan tangga dari perak bagi orang yang kafir kepada-Nya. Ini menjadi bukti bahwa segala perhiasan emas dan perak itu hanyalah kesenangan kehidupan dunia yang fana, sedangkan akhirat di sisi Allah hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa.

Oleh karena itu, seorang hamba harus selalu waspada dan bermuhasabah. Sebagian kaum Salaf seperti Abu Hazim Al-A’raj −sebagaimana dikutip Ibnu Qayyim− memperingatkan:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُتَابِعُ نِعَمَهُ عَلَيْكَ، وَأَنْتَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيهِ، فَاحْذَرْهُ؛ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ يَسْتَدْرِجُكَ بِهِ

“Apabila engkau melihat Allah terus-menerus melimpahkan nikmat-Nya kepadamu, sementara engkau tetap berada dalam kemaksiatan, maka berhati-hatilah; sesungguhnya itu hanyalah istidrāj (penyesatan bertahap) yang dengannya Allah menjeratmu.”

Kesesatan yang paling besar adalah ketika seseorang terbuai oleh dunia dan mendahulukannya di atas akhirat. Sebagian orang yang terpedaya bahkan berani berkata bahwa dunia adalah uang tunai sedangkan akhirat adalah piutang, dan bagi mereka uang tunai lebih bermanfaat. Mereka juga merasa kelezatan dunia itu pasti sedangkan akhirat diragukan, sehingga mereka enggan meninggalkan yang pasti demi yang mereka ragukan.

Para Salaf mengingatkan adanya tiga jebakan yang sering tidak disadari: Pertama, banyak yang di-istidraj dengan nikmat tanpa sadar. Kedua, banyak yang terpedaya karena Allah menutupi aibnya tanpa sadar). Ketiga, banyak yang terfitnah oleh pujian manusia tanpa sadar.

Jadi, rezeki yang berkah adalah yang mendekatkan kita kepada Allah, sementara rezeki yang menjauhkan kita dari-Nya adalah istidrāj sebagai ujian berat yang harus segera disadari sebelum maut menjemput secara tiba-tiba.

Mudah-mudahan kita dilindungi Allah darinya. Sebagaimana doa Umar −yang disebutkan dalam riwayat Nasa’i− ketika dilaporkan kepadanya harta rampasan perang dari Kisra Persia:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَكُونَ مُسْتَدْرَجًا

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menjadi orang yang ditarik secara bertahap (ke dalam kebinasaan) dengan istidrāj.” (MBS)

Redaktur: Mahmud
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headlineistidrajrezeki
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Digarap Bersama Qatar-Exxon Golden Pass LNG di Texas Mulai Berproduksi
Tulisan selanjutnya homoseksual Senegal Gandakan Hukuman Penjara untuk Homoseksual

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

APCQP Perkuat Kolaborasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik untuk Palestina

Berita
24 Agustus 2026 12:23
Sultan Perak Dorong Persaudaraan Muslim Redam Persaingan Politik
Tifatul Sembiring Paparkan Pemenuhan Hak Dasar Warga Negara dan Payung Hukum Isu LGBT
“Saya Menyebarkan Berita Palsu,” aku Pejabat Komunikasi ‘Israel’
MUI Ajak Penulis Dunia Ikut ISSA-Palestine 2026, Jadikan Sastra sebagai Suara Kemanusiaan

Terbaru

  • Serangan ‘Israel’ Hancurkan Gudang Bantuan, 7 Orang Syahid di Gaza
  • Korban Meninggal Gempa NTT Capai 103 Orang, Sebagian Besar Perempuan dan Lansia
  • Resmi Gabung Angkatan Darat Suriah, YPG Umumkan Pembubaran Diri
  • Zaitun Rasmin Kembali Pimpin Wahdah Islamiyah, Terpilih untuk Periode 2027–2031
  • ‘Israel’ Tetap Ikut Eurovision, Belanda Kembali Pilih Boikot
  • “Saya Menyebarkan Berita Palsu,” aku Pejabat Komunikasi ‘Israel’
  • ‘Israel’ Cemas, Rudal Hipersonik Baru Turki Dinilai Jadi Ancaman Zionis
  • Cari Suara, Netanyahu Tegaskan ‘Israel’ Tak akan Biarkan Negara Palestina Berdiri
  • Operasi Penikaman Berhasil Lukai Warga ‘Israel’, Hamas: Itu Respon atas Kejahatan Zionis
  • MUI Soroti Pemblokiran Rekening Aktivis, Ingatkan Ancaman Penarikan Dana Massal

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Kajian

Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution

30 Juni 2026 22:36
Lentera Hidup

Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi

30 Juni 2026 10:26
Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?